Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Alquran, Mukjizat Rasulullah Saw yang Abadi

Alquran adalah hidayah, rahmat, dan obat yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Alquran merupakan sumber pengetahuan yang terus memancar tiada henti dan menjadi cahaya petunjuk yang tak pernah redup bagi hamba-hamba Allah. Di sepanjang perkembangan budaya dan peradaban manusia tidak ada kitab samawi sekelas Alquran dalam hal ishmah (keterjagaan dari penyelewengan), kesahihan, kesolidan, keteraturan, validitas historis dan kebenarannya. Kitab suci ini diturunkan Allah sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia dan dijaga secara langsung oleh Allah dari segala bentuk penyelewengan dan rekayasa agar risalah-Nya berupa petunjuk yang membawa manusia dari kegelapan kepada cahaya-dapat terlaksana dengan baik. Meskipun kitab suci ini merupakan mukjizat, namun bahasa yang digunakannya adalah bahasa akal sehat yang berlaku umum karena pendengarnya adalah seluruh manusia.

Alquran secara zahir sangat jelas dan terang, namun bukan berarti tidak memerlukan penafsiran. Dengan kata lain, Alquran adalah “ucapan yang berbobot” (qaulan tsagilan), yakni meskipun bahasanya adalah bahasa Arab yang jelas, namun tidak semua orang dapat memahaminya dengan kadar yang sama. Makrifat yang terkandung dalam al-Quran memiliki tingkatan yang setiap tingkat pemahaman atasnya bergantung pada kapabilitas pendengarnya hingga mengerucut pada kalangan khusus.

Tentang ini Imam Jakfar Shadiq a.s. berkata: “Allah Swt menjelaskan makrifat-makrifatnya dalam Alquran pada tiga bentuk: kalimat dan kata yang jelas (ibarah); isyarat (isyarah); perumpamaan (lathifah) dan hakikat (haqiqah). Ibarah adalah untuk dipahami semua orang, isyarah untuk dipahami kalangan khusus, lathifah untuk para wali dan haqiqah untuk para nabi Allah.” (Bihar al-Anwar, 75/278)

Baca: Alquran dan Kebutuhan Materi Rohani Manusia

Kesimpulannya ialah Alquran memiliki dimensi lahir dan dimensi batin. Karena itu, kalam Allah ini tidak dapat disederhanakan sebagai ucapan manusia. Namun patut diingat bahwa batin Alquran tidak mungkin bertentangan dengan lahirnya karena yang batin bersifat memperdalam yang lahir. Setiap kedalaman selalu menerobos dari permukaan, sehingga yang batin jangan sampai mengorbankan yang lahir dan begitu pula sebaliknya. Atas dasar ini, penggalian makrifat dan makna yang terkandung dari keduanya adalah kewenangan para ahli tafsir yang matang dan berkelayakan, baik dari segi keluasan cakrawala ilmunya maupun dari segi kebersihan rohaninya.

Allah Swt memberikan wewenang penafsiran atas Alquran pertama kepada Rasulullah Saw kemudian kepada para Imam Maksum a.s., Para Imam pun kemudian memberikan kewenangan mulia ini kepada para ulama dan ahli tafsir yang berkompeten dan bertakwa. Para ahli tafsir dapat menggali makrifat dari kalam suci Ilahi ini karena mereka memahami Alquran dan sunah dengan baik serta berdasar metode yang benar.

Alquran juga adalah mukjizat abadi Rasulullah Saw agar kitab suci ini senantiasa menjadi pedoman bagi manusia sepanjang zaman. Kitab suci ini sekaligus merupakan keajaiban yang membuktikan kenabian Rasulullah Saw. Beliau menyeru umat manusia sambil membawa Alquran sebagai bukti kenabiannya serta menantang mereka untuk dapat berbuat keajaiban yang sama atau yang serupa dan manusia pun tak sanggup memenuhi tantangan ini.

Sepanjang 15 abad sejak munculnya Islam, musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti berusaha menghabisi Islam, termasuk dengan cara menuduh Rasulullah Saw sebagai penyihir dan orang gila. Namun, tak seorang pun sanggup memenuhi tantangan al-Quran. Di masa sekarang ketika kaum arogan dunia gencar memerangi Islam dan ajaran Rasulullah Saw mereka tetap tak berdaya memenuhi tantangan terbuka Alquran. Realitas dari zaman ke zaman ini membuktikan kemukjizatannya.

Kehebatan Alquran juga melampaui keajaiban-keajaiban mukjizat para nabi yang ada, sebab Alquran berjalan seiring dengan perguliran zaman sambil terus menyuarakan risalah dan hujahnya kepada umat manusia hingga akhir zaman. Dengan kata lain, tak seperti mukjizat para nabi lainnya yang hanya disaksikan oleh sekelompok orang dan bersifat sesaat, keajaiban mukjizat Nabi Muhammad Saw berupa Alquran disaksikan langsung oleh semua orang turun temurun. Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir dan rasul pembawa risalah abadi. Karena itu, mukjizatnya pun adalah mukjizat yang berlaku untuk selamanya.

Salah saru kemukjizatan Alquran adalah kefasihan dan balaghahnya. Alquran diturunkan dengan bahasa Arab dan terdiri atas huruf-huruf alfabet Arab sebagaimana literatur Arab lainnya. Namun, dari segi susunan dan diksi, kitab suci ini menuangkan kalimat-kalimatnya dengan bentuk yang terindah dan memesona. Allah Swt telah menggunakan bahasa dengan kefasihan yang luar biasa dalam menyampaikan pesan kepada manusia, yakni dengan memilih kata yang terindah dan membuat susunan kalimat yang paling menawan. Tak hanya itu, Allah Swt juga menyampaikan pesan-Nya dengan sangat “baligh”, yakni dengan metode yang terbaik agar makna-makna yang dimaksud bisa sampai dan membekas dalam jiwa manusia.

Ketika masyarakat Arab, terutama para pujangga, sastrawan dan ahli-ahli bahasa Arab mendengar ayat-ayat Alquran meluncur dari lisan suci Nabi Muhammad Saw, semua terperanjat karena mendapatkan gaya ungkapan dan kalimat yang benar-benar baru, segar dan bukan berupa syair atau prosa, melainkan suatu irama yang lebih indah daripada syair dan penuturan yang lebih berkesan daripada prosa.

Ayat-ayat suci Alquran menghadirkan kalimat-kalimat yang begitu nikmat untuk dibaca dan didengar sehingga siapa pun yang jujur dan objektif pasti terkesima olehnya. Kedahsyatan Alquran membuat para gembong kafir di zaman Rasulullah Saw mengingatkan para pemudanya agar tidak mendengarkan bacaan Alquran, atau agar mereka bergaduh dan membuat kebisingan ketika Alquran dibacakan supaya bacaan ayat-ayatnya tak terdengar.

Sesuai tuntutan hikmah Ilahiah, setiap nabi disertai mukjizat sesuai kondisi zamannya, misalnya terkait keterampilan dan seni yang populer saat itu, agar keunggulan mukjizat terlihat lebih jelas dan nyata. Di zaman Rasulullah Saw kesenian yang fenomenal saat itu adalah bidang syair dan sastra. Karena itu Allah Swt menurun Alquran dengan keajaiban sastranya yang tak tertandingi oleh siapa pun. Namun demikian, Alquran tidak hanya menantang masyarakat Arab di zaman Rasulullah Saw, melainkan semua manusia sepanjang zaman. Sampai detik ini tantangan itu tak sanggup dipenuhi oleh siapa pun!

Alquran dan cakrawala pengetahuan yang keluasannya menjadi sumber pencerahan para pemikir dan kaum cerdik pandai sejak diturunkan hingga detik ini. Alquran mengandung makrifat dan pengetahuan yang terdalam, undang-undang yang paling adil, hukum individual dan sosial yang terbaik, ritus-ritus ibadah yang paling bijak, pedoman akhlak yang paling bernas, catatan historis yang paling solid dan metode tarbiah yang paling efektif sehingga semakin jauh ilmu pengetahuan manusia berkembang semakin jauh pula kebenaran dan rahasia muatan Alquran yang terungkap. Ajaibnya lagi, semua makrifat dan pengetahuan yang sedemikian hebat itu mengalir dari lisan seorang manusia yang ummi dan tidak pernah bersekolah.

Allah Swt berfirman: “……dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Alquran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (QS. al-Ankabut: 48)

Rasulullah Saw membacakan ayat-ayat Alquran kepada kerabat, masyarakat dan kaumnya yang semuanya tahu persis siapa beliau, dan tak seorang pun berani mendustakan beliau. Mereka bungkam mendengar klaim beliau bahwa apa yang beliau bacakan itu adalah wahyu Allah, hal yang menunjukkan kebenaran klaim tersebut.

Alquran adalah untaian-untaian ayat yang mengalir dari lisan suci Nabi Muhammad Saw selama 23 tahun dengan berbagai kondisi yang berbeda. Namun, semua keadaan itu sama sekali tidak mempengaruhi metode dan muatan Alquran. Keserasian dan tidak adanya kekacauan dalam gaya dan muatannya juga merupakan bukti kemukjizatan Alquran.

Baca: Orang-orang  yang Tidak Memperoleh Syafaat Menurut Alquran

Seandainya Alquran berasal dari pribadi Rasulullah Saw dan tak ada kaitannya dengan wahyu tentu akan ditemukan berbagai kelengahan dan pertentangan dari segi metode maupun muatan karena beberapa faktor sebagai berikut:

  1. Pengetahuan, keterampilan dan karya-karya intelektual manusia selalu mengalami dinamika dan perkembangan seiring dengan perjalanan waktu. Perubahan seperti ini pasti terlihat dalam beberapa hal, seperti tutur kata. Karena itu seandainya ayat-ayat Alquran yang dibacakan Rasulullah Saw selama 23 tahun itu berasal dari dirinya sendiri tentu tidak akan luput dari ketidakserasian dan pergeseran-pergeseran maksud yang menimbulkan pertentangan pada al-Quran.
  2. Dalam diri manusia terdapat kondisi-kondisi kejiwaan dan emosional seperti semangat, suka dan duka, gejolak dan ketenangan serta berbagai faktor psikologis lainnya yang masing-masing akan berpengaruh pada tutur kata seseorang, mengingat gaya bicara, misalnya, merupakan refleksi kondisi psikologis seseorang. Karena itu, keserasian sedemikian rupa tidak mungkin terjadi pada tutur kata seseorang selama kurun waktu lebih dari 20 tahun pada manusia yang tidak mendapat pengayoman khusus dari Sang Mahatahu dan Mahabijaksana. Kondisi kejiwaannya tentulah akan memunculkan ketidakserasian pada fase-fase tertentu. Jadi, menganggap Alquran berasal dari pikiran Muhammad Saw, sang utusan terpilih, tak ubahnya dengan beranggapan bahwa pada Alquran terdapat kekacauan, kontradiksi dan disharmoni muatan. Sementara, pada kenyataannya, semua itu tidak terjadi pada al-Quran.

Tentang keajaibannya ini, Alquran menyebutkan, “Maka apakah mereka tidak memerhatikan Alquran? Kalau sekiranya Alquran itu bukan berasal dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa: 82)

Dari semua penjelasan di atas terlihat jelas bahwa Alquran memang merupakan wahyu Ilahi dan bukan pernyataan pribadi Nabi Muhammad Saw.

*Disarikan dari buku Panorama Pemikiran Islam – Ayatullah Jakfar Subhani

No comments

LEAVE A COMMENT