Keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi as merupakan salah satu simpul penting dalam akidah Islam, khususnya dalam mazhab Ahlulbait as. Ia bukan sekadar isu eskatologis atau harapan masa depan, melainkan bagian
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: “Akan muncul seorang lelaki dari Ahlulbaitku. Namanya seperti namaku, dan rupa wajahnya menyerupaiku. Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kecurangan
Keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi as merupakan salah satu simpul penting dalam akidah Islam, khususnya dalam mazhab Ahlulbait as. Ia bukan sekadar isu eskatologis atau harapan masa depan, melainkan bagian
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: “Akan muncul seorang lelaki dari Ahlulbaitku. Namanya seperti namaku, dan rupa wajahnya menyerupaiku. Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kecurangan
Keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi as merupakan salah satu simpul penting dalam akidah Islam, khususnya dalam mazhab Ahlulbait as. Ia bukan sekadar isu eskatologis atau harapan masa depan, melainkan bagian
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: “Akan muncul seorang lelaki dari Ahlulbaitku. Namanya seperti namaku, dan rupa wajahnya menyerupaiku. Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kecurangan
Keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi as merupakan salah satu simpul penting dalam akidah Islam, khususnya dalam mazhab Ahlulbait as. Ia bukan sekadar isu eskatologis atau harapan masa depan, melainkan bagian
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: “Akan muncul seorang lelaki dari Ahlulbaitku. Namanya seperti namaku, dan rupa wajahnya menyerupaiku. Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kecurangan
Tidak diragukan lagi bahwa persoalan perang merupakan salah satu isu paling kompleks dalam kehidupan manusia. Kompleksitas ini tidak hanya bersumber dari realitas empiris peperangan—yang sarat dengan darah, kehancuran, dan penderitaan—tetapi
Dalam tradisi Ahlul Bait, kelahiran seorang Imam tidak pernah dipahami sebagai peristiwa biologis yang berdiri sendiri. Ia selalu dipandang sebagai mata rantai dari kehendak Ilahi yang berkesinambungan, terhubung dengan risalah
“Demi Allah, walaupun tangan kananku terputus, aku tidak akan melepaskan agamaku dan tidak akan meninggalkan Imamku.” Di antara nama-nama besar Karbala, Abbas bin Ali menempati posisi yang unik. Ia bukan imam,