*Diolah dari tausiyah Ustadz Umar Shahab pada Pekan Persatuan Maulid Nabi 2021
Salah satu ajaran penting Al-Qur’an tentang Rasulullah saw. adalah bahwa beliau harus dipahami secara utuh. Pada satu sisi, Nabi Muhammad saw. adalah manusia seperti kita. Beliau memiliki tubuh, kebutuhan biologis, dan mengalami berbagai persoalan kehidupan sebagaimana manusia lainnya. Beliau lapar, haus, sakit, lelah, mengantuk, dan menghadapi berbagai tantangan yang menjadi bagian dari pengalaman manusia.
Namun Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kita untuk berhenti pada pemahaman itu. Jika Rasulullah hanya dipandang dari sisi jasmaninya semata, maka kita akan kehilangan aspek paling penting dari kenabian beliau, yaitu dimensi ruhani yang menjadikannya manusia paling mulia di sisi Allah.
Karena itulah Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan. Rasulullah adalah manusia, tetapi beliau bukan manusia biasa dalam pengertian spiritual. Beliau adalah manusia pilihan yang menerima wahyu dan mencapai puncak kesempurnaan ruhani. Inilah perspektif yang harus menjadi landasan ketika kita berbicara tentang cinta, penghormatan, dan pengagungan kepada Nabi Muhammad saw.
Mengapa Rasulullah Harus Dimuliakan?
Dalam Islam, kecintaan kepada Rasulullah bukan sekadar ekspresi emosional. Ia merupakan bagian dari keimanan. Allah memerintahkan kaum beriman untuk menghormati, mengagungkan, memuliakan, dan mencintai Rasulullah saw.
Karena itu umat Islam diperintahkan untuk bershalawat kepada beliau, bertakzim kepada beliau, menghormati sunnah beliau, dan menjaga adab ketika menyebut nama beliau. Bahkan berbagai bentuk tabarruk dan tawassul yang dilakukan kaum Muslim sepanjang sejarah lahir dari keyakinan bahwa Rasulullah memiliki kedudukan yang sangat agung di sisi Allah.
Pertanyaannya, mengapa semua penghormatan itu diberikan?
Jawabannya tidak terletak pada dimensi jasmani Nabi. Rasulullah tidak dimuliakan karena tubuh fisiknya berbeda dari manusia lain. Beliau dimuliakan karena kualitas ruhani yang Allah anugerahkan kepadanya. Beliau adalah manusia yang mencapai puncak kedekatan dengan Allah dan menjadi penerima wahyu-Nya.
Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penghormatan kepada Nabi. Salah satu ayat yang paling tegas terdapat dalam Surah Al-Hujurat:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah kamu berbicara kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, agar tidak hapus amal-amalmu sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujurat: 2)
Ayat ini menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Sikap tidak hormat kepada Rasulullah dapat menyebabkan gugurnya pahala amal yang telah dikumpulkan seseorang tanpa ia sadari.
Jika Rasulullah hanya dipandang sebagai manusia biasa dalam pengertian umum, tentu peringatan seperti ini menjadi sulit dipahami. Namun Al-Qur’an justru ingin mengajarkan bahwa hubungan seorang mukmin dengan Rasulullah bukanlah hubungan biasa antara sesama manusia. Ada dimensi sakral yang harus dijaga karena Rasulullah adalah utusan Allah dan manusia yang paling dekat dengan-Nya.
Kekeliruan Memahami “Basharun Mitslukum”
Salah satu kesalahan yang sering muncul dalam memahami Nabi adalah penafsiran yang kurang tepat terhadap firman Allah:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu (basharun mitslukum).” (QS. Al-Kahfi: 110)
Sebagian orang memahami ayat ini seolah-olah Nabi Muhammad sama dengan manusia pada umumnya dalam segala aspek. Akibatnya muncul ungkapan bahwa Rasulullah hanyalah “manusia biasa.”
Padahal ungkapan “manusia biasa” sering kali membawa konsekuensi yang tidak disadari. Ia cenderung menghapus dimensi ruhani Rasulullah dan menempatkan beliau sejajar dengan manusia pada umumnya yang penuh kekurangan, kesalahan, dan kelemahan spiritual.
Dalam ayat tersebut, kesamaan yang dimaksud adalah pada dimensi bashariyah atau kemanusiaan fisik. Rasulullah memiliki tubuh, makan, minum, tidur, bekerja, dan mengalami berbagai kebutuhan biologis sebagaimana manusia lainnya.
Namun kesamaan itu tidak berlaku pada dimensi ruhani.
Manusia tidak sama dalam kualitas ruhani mereka. Bahkan Al-Qur’an sendiri menegaskan adanya perbedaan derajat spiritual di antara manusia. Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh bentuk fisik, keturunan, warna kulit, atau status sosial. Kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan, dan ketakwaan merupakan dimensi ruhani.
Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut Nabi sebagai basharun mitslukum, yang dimaksud adalah kesamaan pada aspek kemanusiaan lahiriah, bukan kesamaan pada kedudukan ruhani.
Cara Pandang Orang Kafir terhadap Para Nabi
Menariknya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa penolakan terhadap para nabi sering kali berawal dari kegagalan melihat dimensi ruhani tersebut.
Dalam Surah Yasin, Allah mengisahkan suatu kaum yang didatangi para rasul. Ketika diajak beriman, mereka menjawab:
“Kalian tidak lain hanyalah manusia seperti kami.” (QS. Yasin: 15)
Perhatikan logika yang mereka gunakan. Mereka melihat para nabi hanya dari sisi lahiriahnya. Mereka melihat bahwa para nabi makan, minum, berjalan, dan hidup sebagaimana manusia biasa. Karena itu mereka menolak kemungkinan bahwa orang-orang tersebut bisa menjadi utusan Allah.
Inilah cara berpikir materialistik yang hanya mampu melihat aspek fisik dan tidak mampu menangkap realitas spiritual.
Hal yang sama juga terjadi pada kaum musyrik Mekah. Mereka menolak kerasulan Nabi Muhammad saw. karena merasa tidak masuk akal bahwa seseorang yang hidup seperti mereka bisa menjadi penerima wahyu.
Dalam pandangan mereka, seorang nabi seharusnya malaikat atau makhluk luar biasa yang berbeda secara total dari manusia.
Namun justru di sinilah letak kesalahan mereka. Mereka hanya melihat sisi jasmani dan mengabaikan sisi ruhani.
Dimensi Ruhani yang Mengungguli Seluruh Makhluk
Apa yang membuat Rasulullah menjadi manusia paling mulia?
Bukan karena beliau memiliki tubuh yang berbeda dari manusia lain. Bukan pula karena beliau memiliki kekuatan fisik yang melampaui manusia lainnya.
Yang menjadikan Rasulullah unggul adalah kesempurnaan ruhani yang Allah anugerahkan kepadanya.
Para ulama sepanjang sejarah Islam menjelaskan bahwa Rasulullah merupakan puncak kesempurnaan manusia. Beliau adalah manusia yang paling mengenal Allah, paling mencintai Allah, paling bertakwa kepada Allah, dan paling sempurna dalam menjalankan kehendak Allah.
Dimensi ruhani inilah yang menjadikan beliau lebih mulia daripada seluruh manusia, bahkan lebih tinggi kedudukannya daripada para malaikat.
Karena itu cinta kepada Rasulullah tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap sejarah hidupnya semata. Cinta kepada Rasulullah harus lahir dari kesadaran akan kemuliaan ruhani beliau.
Semakin seseorang mengenal kedalaman spiritual Rasulullah, semakin besar pula kecintaannya kepada beliau.
Jalan Menuju Cinta yang Benar
Ketika seorang Muslim memahami Rasulullah hanya sebagai manusia biasa, maka penghormatan kepada beliau akan berkurang. Namun ketika ia memahami bahwa di balik kemanusiaan Nabi terdapat kesempurnaan ruhani yang luar biasa, maka cinta dan takzim akan tumbuh secara alami.
Inilah sebabnya umat Islam sepanjang sejarah senantiasa memperingati kelahiran Nabi, membaca shalawat, mempelajari sirah beliau, dan menyebut nama beliau dengan penuh penghormatan. Semua itu bukan bentuk pengkultusan, melainkan ekspresi cinta kepada manusia paling mulia yang pernah diciptakan Allah.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa Rasulullah adalah manusia seperti kita dalam aspek jasmani, tetapi tidak sama dengan kita dalam kedudukan ruhani. Beliau hidup sebagaimana manusia lainnya, namun hatinya selalu terhubung dengan langit. Beliau berjalan di bumi, tetapi ruhnya berada dalam kedekatan yang paling tinggi dengan Allah.
Memahami keseimbangan inilah yang akan melahirkan kecintaan yang benar kepada Rasulullah saw.—cinta yang tidak berlebihan hingga menghilangkan kemanusiaannya, tetapi juga tidak meremehkannya hingga mengabaikan kemuliaan spiritualnya.
Dari pemahaman itulah lahir penghormatan, shalawat, takzim, dan kerinduan kepada Rasulullah saw. Dan dari kecintaan itulah, semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada kehidupan kita serta mempertemukan kita kelak bersama beliau di akhirat.