Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Membaca Rasulullah dari Perspektif Al-Qur’an: Antara Kemanusiaan dan Kesempurnaan Ruhani

*Diolah dari tausiyah Ustadz Umar Shahab pada Pekan Persatuan Maulid Nabi 2021

Salah satu kekeliruan yang sering muncul dalam memahami Nabi Muhammad saw. adalah kecenderungan melihat beliau hanya dari satu sisi. Sebagian orang menempatkan beliau sedemikian tinggi hingga hampir keluar dari batas kemanusiaan, sementara sebagian yang lain justru melihat beliau hanya sebagai manusia biasa tanpa memperhatikan dimensi spiritual dan kenabian yang dimilikinya. Padahal Al-Qur’an mengajarkan kepada kita cara pandang yang seimbang: Rasulullah saw. harus dipahami setidaknya dari dua perspektif sekaligus, yaitu sebagai manusia dan sebagai penerima wahyu.

Perspektif pertama yang sangat ditekankan Al-Qur’an adalah bahwa Nabi Muhammad saw. adalah seorang manusia. Al-Qur’an menggunakan ungkapan yang sangat tegas:

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kamu (basharun mitslukum).” (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Penegasan ini sangat penting karena membedakan Islam dari berbagai pandangan keagamaan yang terkadang menempatkan tokoh sucinya pada posisi yang melampaui kemanusiaan. Nabi Muhammad bukan malaikat, bukan dewa, dan bukan makhluk setengah ilahi. Beliau adalah manusia sebagaimana manusia lainnya.

Karena beliau manusia, maka beliau mengalami seluruh pengalaman manusiawi. Beliau lapar, haus, sakit, lelah, mengantuk, dan merasakan kesedihan. Beliau bekerja, berdagang, membangun keluarga, memimpin masyarakat, dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dengan kata lain, kehidupan Rasulullah tidak berlangsung di luar realitas manusia, tetapi justru berada di tengah-tengah realitas itu.

Al-Qur’an merekam keberatan orang-orang kafir Mekah terhadap kenyataan ini. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin seorang nabi memiliki kehidupan yang begitu manusiawi. Mereka berkata:

“Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?” (QS. Al-Furqan [25]: 7)

Bagi mereka, seorang nabi seharusnya malaikat atau setidaknya selalu ditemani malaikat. Mereka membayangkan bahwa utusan Tuhan harus memiliki bentuk dan cara hidup yang berbeda secara total dari manusia biasa. Namun Allah membantah cara pandang tersebut. Justru karena nabi diutus untuk membimbing manusia, maka ia harus berasal dari kalangan manusia itu sendiri.

Seandainya seorang malaikat diutus sebagai nabi, manusia akan selalu memiliki alasan untuk berkata bahwa mereka tidak mampu mengikuti teladannya. Malaikat tidak memiliki hawa nafsu, tidak mengalami kesulitan ekonomi, tidak merasakan kelelahan, dan tidak menghadapi ujian sebagaimana manusia. Karena itu Allah mengutus seorang manusia agar manusia dapat melihat secara nyata bagaimana ajaran Tuhan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dimensi kemanusiaan Nabi juga menunjukkan bahwa beliau tunduk pada sunatullah, yaitu hukum-hukum kehidupan yang ditetapkan Allah. Rasulullah tidak mencapai keberhasilan dakwah secara instan atau melalui kesaktian pribadi. Beliau berjuang selama puluhan tahun, menghadapi penolakan, penghinaan, boikot ekonomi, ancaman pembunuhan, bahkan peperangan.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa keberhasilan dalam hidup tidak datang melalui jalan pintas. Siapa yang ingin berhasil harus bekerja keras. Siapa yang ingin mencapai kemuliaan harus bersabar menghadapi ujian. Nabi sendiri menempuh jalan yang sama. Beliau tidak dibebaskan dari hukum sebab-akibat yang berlaku dalam kehidupan manusia.

Karena itu, sangat keliru apabila kita membayangkan nabi sebagai “manusia sakti” dalam pengertian yang sering berkembang di tengah masyarakat. Dalam budaya populer, seorang tokoh besar sering kali diukur dari kesaktian dan kemampuan-kemampuan luar biasa yang dimilikinya. Bahkan dalam sebagian tradisi keagamaan, cerita-cerita tentang tokoh suci sering kali dipenuhi kisah-kisah fantastis yang menonjolkan aspek supranatural.

Di berbagai tempat kita menemukan makam yang dianggap keramat, kisah-kisah wali yang dikelilingi legenda kesaktian, atau tokoh agama yang dihormati karena kemampuan-kemampuan luar biasa yang dinisbatkan kepadanya. Tentu Islam tidak menolak kemungkinan adanya karamah pada para wali atau mukjizat pada para nabi. Akan tetapi, karamah dan mukjizat bukanlah inti keagungan mereka.

Mukjizat bukanlah kebiasaan yang melekat secara permanen pada diri nabi. Mukjizat adalah anugerah Allah. Al-Qur’an menyebutnya sebagai ayah atau tanda, yaitu tanda kebesaran Allah yang ditunjukkan melalui para nabi. Dengan demikian, yang harus dikagumi bukan pertama-tama pribadi nabi sebagai pemilik kekuatan gaib, melainkan Allah yang menampakkan kekuasaan-Nya melalui para nabi.

Fokus Al-Qur’an bukanlah mengarahkan manusia untuk mengagumi mukjizat, melainkan untuk memahami pesan yang dibawa oleh nabi. Karena itu, ketika membaca sirah Rasulullah, yang lebih penting bukan mencari kisah-kisah luar biasa yang memukau imajinasi, tetapi meneladani perjuangan, akhlak, kesabaran, dan keteguhan beliau dalam menjalankan misi kenabian.

Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada dimensi kemanusiaan semata. Jika hanya sampai di sini, kita berisiko memandang Nabi Muhammad sebagai manusia biasa yang tidak berbeda dengan manusia lainnya. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahwa meskipun beliau adalah manusia, beliau memiliki dimensi lain yang membuatnya berbeda dari manusia pada umumnya.

Ayat yang sama yang menegaskan bahwa Rasulullah adalah basharun mitslukum juga melanjutkan:

Yuha ilaiya — diwahyukan kepadaku.”

Inilah dimensi kedua yang harus dipahami. Rasulullah adalah manusia, tetapi manusia yang menerima wahyu. Beliau adalah manusia jasmani sekaligus manusia ruhani. Secara fisik, beliau mengalami segala sesuatu yang dialami manusia. Namun secara spiritual, beliau berada pada kedudukan yang sangat tinggi karena menjadi penerima petunjuk langsung dari Allah.

Dalam tradisi intelektual Islam, sosok seperti ini sering disebut sebagai al-insan al-kamil atau manusia sempurna. Kesempurnaan itu bukan berarti beliau kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, melainkan karena seluruh potensi kemanusiaannya berkembang secara optimal di bawah bimbingan wahyu.

Dimensi ruhani inilah yang membuat Rasulullah melampaui manusia lainnya. Beliau tidak hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga menjadi perwujudan kebenaran itu sendiri dalam kehidupan nyata. Apa yang diajarkan beliau selaras dengan apa yang beliau lakukan. Tidak ada jarak antara ajaran dan tindakan, antara keyakinan dan perilaku.

Karena itu Al-Qur’an menyebut beliau sebagai uswatun hasanah—teladan yang baik bagi seluruh manusia:

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Sebagai teladan, Rasulullah tidak cukup dipahami hanya dari sisi lahiriah. Kita tidak hanya diperintahkan meniru tindakan-tindakan fisiknya, tetapi juga meneladani kualitas-kualitas ruhaniahnya: keikhlasan, ketakwaan, kasih sayang, kejujuran, kesabaran, dan kedekatannya kepada Allah.

Di sinilah letak keseimbangan pandangan Al-Qur’an tentang Nabi Muhammad saw. Kita tidak boleh mengangkat beliau hingga keluar dari batas kemanusiaan, tetapi kita juga tidak boleh mereduksi beliau menjadi manusia biasa yang tidak memiliki keistimewaan spiritual. Beliau adalah manusia yang hidup di tengah manusia, namun sekaligus manusia yang mencapai puncak kesempurnaan ruhani melalui wahyu.

Membaca Rasulullah dari perspektif Al-Qur’an berarti memahami kedua dimensi tersebut secara bersamaan. Kita melihat beliau sebagai manusia yang bekerja keras, berjuang, menghadapi kesulitan, dan menjalani hukum-hukum kehidupan sebagaimana manusia lainnya. Tetapi pada saat yang sama, kita melihat beliau sebagai manusia pilihan Allah yang menerima wahyu dan menjadi cermin paling sempurna dari nilai-nilai ilahi.

Dengan cara pandang inilah Rasulullah menjadi dekat sekaligus agung. Dekat karena beliau manusia seperti kita. Agung karena beliau menunjukkan kepada kita bagaimana manusia dapat mencapai puncak kemuliaan ketika seluruh hidupnya dibimbing oleh wahyu Allah.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT