Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

MUHAMMAD SAW DI MATA ALI AS

Oleh: Ustadz DR. Muhsin Labib, MA

Siapakah yang Paling Berhak Melukiskan Muhammad?

Siapakah yang lebih berhak menggambarkan Muhammad selain orang yang hidup bersamanya sejak kanak-kanak, yang tumbuh dalam asuhannya, yang mengenalnya sebelum dunia mengenalnya sebagai Nabi, dan yang menyaksikan kehidupannya dari jarak yang tidak dimiliki orang lain detik demi detik, menyaksikan cahaya wahyu dan menghirup semerbak ayat suci? Siapakah yang lebih berhak berbicara tentang Muhammad selain orang yang diasuhnya, dididiknya, dipercayainya, didampinginya, dijadikannya penjaga, juru bicara, pembawa amanah, panglima, dan andalan di medan-medan paling genting?

Ali mengenal Muhammad sebelum kenabian menjadi sejarah dunia. Muhammad mengasuhnya sejak kecil, mendekapnya, memberinya makan, membaringkannya di sisinya, dan membentuknya dengan teladan akhlaknya. Kau mengikuti Muhammad seperti anak unta mengikuti jejak induknya. Kau menyertai Muhammad ketika beliau menyendiri di Gua Hira, menyaksikan permulaan wahyu, dan hidup begitu dekat sehingga Muhammad berkata kepada kau bahwa kau mendengar apa yang beliau dengar dan melihat apa yang beliau lihat, meskipun kau bukan seorang nabi.

Riwayat Kedekatan dan Ketulusan

Siapakah yang lebih berhak terhadap beliau daripada kau, baik ketika Muhammad masih hidup maupun setelah beliau wafat? (Nahj al-Balaghah, Khutbah 195/197).

Sejak masa kanak-kanak, Muhammad mengasuh kau. Muhammad mendekap kau ke dada, membaringkan kau di tempat tidur beliau, mendekatkan tubuhnya dan membiarkan kau mencium keharumannya. Beliau mengunyahkan makanan lalu menyuapkannya kepada kau. Beliau tidak pernah menemukan kebohongan dalam perkataan kau dan tidak pernah menemukan kelemahan dalam perbuatan kau. Kau mengikuti Muhammad seperti anak unta mengikuti jejak induknya. Setiap hari beliau memperlihatkan kepada kau satu demi satu akhlaknya yang luhur dan memerintahkan kau untuk mengikutinya.
Setiap tahun Muhammad menyendiri di Gua Hira, dan kau melihatnya, sementara tidak ada seorang pun selain kau yang melihatnya. Pada masa itu, belum ada satu rumah pun yang menghimpun Islam selain rumah Muhammad dan Khadijah, dan kau adalah satu-satunya orang ketiga di antara mereka. Kau melihat cahaya wahyu dan risalah, serta mencium keharuman kenabian. (Nahj al-Balaghah, Khutbah 192).

Bayangan di Medan Perjuangan

Ketika risalah memasuki medan perjuangan, kedekatan itu berubah menjadi kepercayaan. Kau menjadi penjaga Muhammad, pembawa amanahnya, juru bicaranya dalam berbagai tugas, panglima pasukannya, dan orang yang diandalkan ketika pertempuran menuntut keberanian yang tidak mengenal gentar. Kau adalah orang yang dikedepankan ketika keadaan paling berbahaya. Dalam duel-duel yang menentukan, kau menjadi tangan yang diandalkan Muhammad. Dalam peperangan, kau menjadi pedang yang berdiri di garis terdepan. Dalam urusan yang memerlukan kepercayaan, kau menerima amanah yang tidak diberikan kepada sembarang orang. Dalam ilmu, kau dikenal sebagai pintu ilmu Nabi.

Ketika wahyu mulai turun, kau mendengar apa yang Muhammad dengar dan melihat apa yang Muhammad lihat. Muhammad sendiri memberitahu kau bahwa kedekatan itu bukan kebetulan:

“Kau mendengar apa yang aku dengar dan melihat apa yang aku lihat, hanya saja kau bukan seorang nabi. Tetapi kau adalah pembantuku dan kau berada di atas kebaikan.” (Nahj al-Balaghah, Khutbah 192).

Dalam kesaksian yang lain, kau menggambarkan bagaimana kau berdiri di sisi Muhammad ketika orang-orang lain mundur dan bagaimana kau menjadi satu-satunya orang yang tidak meninggalkan Muhammad dalam keadaan apa pun:

“Ketika orang-orang lain mundur, aku maju. Ketika langkah-langkah orang lain terhenti, aku tetap berdiri. Aku tidak pernah menentang Allah dan tidak pernah menentang Rasul-Nya, bahkan sesaat.”

Kau melihat para sahabat Muhammad dan tidak melihat satu pun di antara mereka yang menyerupai Muhammad dalam mengikuti jalan beliau selain kau. Kau berada bersama Muhammad dalam peperangan, menerima tugas-tugas yang berat, membawa panji, menghadapi lawan, dan menjadi orang yang dikedepankan ketika keadaan menuntut keberanian. Kedekatan itu bukan sekadar kedekatan pribadi, tetapi juga kedekatan dalam perjuangan dan amanah.

Dalam urusan yang sangat menentukan, kau juga menjadi satu-satunya orang yang dipercaya Muhammad untuk menyampaikan amanahnya. Dalam berbagai riwayat tentang hubungan keduanya, kau tampil sebagai orang yang menerima mandat langsung, menyampaikan pesan Muhammad, menjalankan perintahnya, dan menjadi wakilnya dalam perkara-perkara penting.
Hubungan itu mencapai kedalaman lain ketika kau berbicara tentang posisi diri kau di sisi Muhammad:

“Kedudukanku terhadap Muhammad adalah seperti kedudukan tangan terhadap tubuh, seperti kepala terhadap jasad.” (Nahj al-Balaghah, Khutbah 192).

Detik-Detik Terakhir di Pangkuan

Dan ketika Muhammad menghadapi saat-saat terakhir kehidupannya, kedekatan itu tidak berubah. Kau berkata:

“Muhammad wafat dengan kepala beliau berada di atas dadaku. Ruh beliau mengalir di telapak tanganku, lalu aku mengusapkannya ke wajahku. Aku sendiri yang memandikannya, sementara para malaikat membantuku. Rumah dan halaman dipenuhi oleh mereka; sebagian turun dan sebagian naik. Telingaku terus menangkap suara mereka ketika mereka memanjatkan doa bagi Muhammad hingga kami menguburkannya di dalam liang lahadnya.”

Lalu, bagaimana Muhammad di mata kau?
Muhammad datang ketika para rasul telah lama tidak hadir, umat-umat tertidur dalam kelalaian, dan berbagai keadaan telah berubah. Ia datang membawa kebenaran, memperingatkan dengan kebenaran, menyeru kepada kebenaran, dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus. (Nahj al-Balaghah, Khutbah 95).

Muhammad adalah penutup dari apa yang telah terdahulu dan pembuka dari apa yang telah tertutup. Ia menyatakan kebenaran dengan kebenaran, menghalau pasukan-pasukan kebatilan, dan menghancurkan serangan-serangan kesesatan. (Nahj al-Balaghah, Khutbah 72).
Ia berasal dari tempat tumbuh yang paling mulia, dari sumber asal yang paling luhur, dari pohon yang darinya Allah mengutus para nabi dan memilih para pemegang amanah-Nya. Tempat tumbuhnya adalah yang paling luhur, tempat kediamannya adalah yang paling mulia, dan ia berasal dari tambang-tambang kemuliaan serta buaian-buaian keselamatan. (Nahj al-Balaghah, Khutbah 94).

Allah mengutus Muhammad sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan. Ia adalah sebaik-baik manusia ketika masih kanak-kanak, yang paling luhur ketika dewasa, yang paling suci perangainya di antara orang-orang yang disucikan, dan yang paling dermawan di antara mereka yang diharapkan kemurahannya. (Nahj al-Balaghah, Khutbah 105).

Ketika Allah memilih Muhammad untuk menghadap kepada-Nya, Allah meridai apa yang ada di sisi-Nya bagi Muhammad, memuliakannya dengan mengeluarkannya dari dunia, menjauhkannya dari tempat ujian, lalu mengambilnya kepada-Nya dalam keadaan mulia. (Nahj al-Balaghah, Khutbah 1).

Kerendahan Hati di Hadapan Sang Kekasih

Suatu hari, seseorang bertanya kepada kau:
“Wahai Amirul Mukminin, apakah kau seorang nabi?”

Dengan jiwa yang tunduk penuh cinta, kau menjawab:
“Celakalah kau! Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba dari hamba-hamba Muhammad.” (Al-Kafi jilid 1, hlm. 89–90. At-Tauhid hlm. 174).

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.