Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Pentingnya Kemandirian dalam Penentuan Awal Bulan Komariah

Mengapa kita harus menyelenggarakan pelatihan rukyatul hilal? Mungkin sebagian orang bertanya-tanya di tengah banyak hal yang menjadi tantangan bagi komunitas Ahlulbait di Indonesia. Kita semua tahu bahwa banyak dari tugas-tugas syar’i keagamaan, baik yang bersifat personal maupun sosial, ditetapkan berdasarkan kalender komariah/lunar. Sementara penetapan awal bulan kalender komariah menggunakan metode rukyatul hilal sebagaimana disepakati oleh para ulama baik dari kalangan pengikut Ahlulbait maupun selainnya.

Banyak yang menganggap sederhana permasalahan rukyatul hilal dengan mengaitkan urusan ini hanya pada masalah penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal. Tentu penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal merupakan salah satu dari yang dapat diupayakan dengan rukyatul hilal, namun kita tahu bahwa bukan hanya itu. Benar bahwa puasa merupakan salah satunya, malam lailatul qadr, juga terkait dengan puasa, penentuan Idul Fitri, penentuan hari-hari ibadah Haji, hari Arafah dan Idul Adha.

RUKYATUL HILAL DARI ASPEK KEAGAMAAN

Bagi kita pengikut Ahlulbait, ada sekian banyak momen sejarah yang kita peringati dan hidupkan, apakah itu momen duka maupun momen bahagia, yang seluruhnya ditetapkan berdasarkan kalender yang sama. Maka dari itu, sebenarnya upaya menentukan awal bulan dengan tepat terkait dengan sekian kegiatan yang bisa dikatakan menyebar di seluruh bulan sepanjang tahun. Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk sedapat mungkin mengetahui awal bulan secara benar.

Ketika kita hendak berduka di hari Asyura’, umpamanya, mengapa kita berduka pada hari itu, bukan hari sebelumnya, atau sesudahnya, tentu karena kekhususan yang ada pada hari itu. Itulah mengapa kemudian kita harus bisa menentukan hari itu dengan benar. Jadi, sejauh yang terkait dengan aspek keagamaan, penentuan awal bulan dibutuhkan sepanjang tahun setiap bulan agar momentum keagamaan kita selenggarakan tepat pada waktunya.

Demikian halnya ketika kita menyelenggarakan ihya’ lailatul qadr. Mengapa beribadah dan bermunajat di malam itu? Karena kekhususan malam itu dari aspek zamannya, bukan sehari sesudahnya atau sehari sebelumnya. Memang mungkin ada solusi untuk ketidaktahuan atas tanggal yang sebenarnya, dengan cara berhati-hati mengulang pekerjaan sampai dua kali. Bisa saja orang menyelenggarakan lailatul qadr bukan tiga malam, tapi enam malam, malam pertamanya 2 malam, malam keduanya 2 malam, bisa diselesaikan dengan cara seperti itu.

Awal bulan Ramadhan yang tidak diketahui dengan pasti mungkin juga ada solusinya dengan cara orang melakukan ibadah puasa tidak dengan niat puasa Ramadhan yang dengan begitu bisa melewatkan permasalahan ketidakjelasan awal bulan dengan cara berhati-hati.

Namun demikian, tentu tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan cara seperti itu; berhati-hati dengan mengulang perbuatan di dua hari berbeda. Misalnya, Idul Fitri, Anda akan berada pada dua situasi yang sama-sama menyulitkan, karena ada dua ketentuan agama yang berbeda. Kalau hari ini Idul Fitri, maka Anda harus berbuka, kalau bukan, maka Anda harus berpuasa. Tidak bisa kemudian kita beridul fitri dua kali, besok dan lusa, umpamanya. Besok, iya kalau Idul Fitri, kalau tidak, maka wajib berpuasa. Jadi, tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan cara seperti itu.

RUKYATUL HILAL DARI ASPEK KEMANDIRIAN

Kalau rukyatul hilal kita angkat pada ranah lain, menyangkut identitas sebuah komunitas, kemandirian sebuah komunitas, maka kita akan melihat permasalahan rukyatul hilal dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.
Kita sebagai pengikut Ahlulbait mengaku sebagai umat yang diproyeksikan oleh Tuhan untuk memimpin masyarakat manusia di akhir zaman. Saat memperingati kelahiran Imam Mahdi pada Nisfu Sya’ban lalu, kita membaca Surah An-Nur [24] ayat 55,


Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.

Bahwa di akhir zaman, kelak Allah akan mewariskan pemerintahan ini kepada mereka yang beriman dan beramal saleh. Para ulama kita sepakat bahwa yang dimaksud adalah era Al-Mahdi afs dimana kita akan menjadi umat yang ‘leading’ pada saat itu.

Selama bulan Ramadhan, kita dianjurkan membaca doa Iftitah setiap malam. Di antara doa tersebut berbunyi,


Ya Allah, kami merindukan kehadiran pemerintahan yang mulia yang di dalamnya Engkau muliakan Islam dan pemeluknya, Engkau hinakan kemunafikan dan pengikutnya. Engkau jadikan kami di dalamnya sebagai penyeru menuju ketaatan kepada-Mu, dan pemimpin yang mengajak umat manusia ke jalan-Mu….”

Kita memohon kepada Allah untuk menjadi pemimpin, untuk menjadi umat komunitas yang leading, memimpin masyarakat yang lainnya, menjadi umat percontohan di akhir zaman. Itulah yang kita yakini dan insya Allah itu yang akan terjadi.

Nah, menjadi umat yang leading, yang bisa memimpin umat lain tentu membutuhkan kualifikasi, tentu membutuhkan kriteria. Menjadi umat yang memimpin umat lainnya, tentu berarti mereka harus menjadi pelopor di berbagai lini. Di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, hukum dan seterusnya, mereka harus terdepan di mana umat lainnya mengambil contoh dan manfaat darinya. Itu baru bisa disebut sebagai umat yang memimpin.

Kalau benar kita diproyeksikan sebagai umat yang memimpin, pertanyaannya, apakah kualifikasi itu ada pada kita sekarang? Saya tidak berbicara tentang posisi leading, tapi sebatas mandiri. Di bidang ekonomi, masih terlalu jauh. Di bidang pendidikan, masih terlalu jauh, di bidang sosial dan hukum masih terlalu jauh. Praktis kita sekarang ini masih menjadi umat pembonceng masyarakat dan komunitas lain.

(baca juga:

Berbeda dalam Penetapan Awal Bulan tidak Berarti Menentang Pemerintah)

Kalau kita sakit, kita mengirim pasien ke rumah sakit milik komunitas lain, bukan milik sendiri, karena kita tidak punya rumah sakit sendiri. Kalau kita menyekolahkan anak, maka kita menyekolahkan ke sekolah orang lain, karena tidak punya sekolah sendiri. Kalau kita butuh publikasi, maka kita pakai media orang lain, karena kita tidak punya media. Kalau kita butuh pembelaan dan advokasi, kita pakai lembaga hukum milik komunitas lain, karena kita sendiri tidak punya. Lantas, kita leading di aspek yang mana? Kita memimpin masyarakat yang mana?

Dalam semua persoalan kecil dan besar, kita masih bergantung kepada komunitas yang lain. Itu faktanya. Itu yang perlu perlahan-lahan kita lawan dan kita ciptakan situasi yang mengarah pada posisi yang dijanjikan kepada kita.

Kebergantungan kita bukan hanya di lini pendidikan, ekonomi, sosial, hukum, media. Yang parah adalah kita masih bergantung kepada komunitas lain bahkan menyangkut masalah-masalah yang sangat privat untuk kita, momen-momen ibadah kita. Kapan kita mau puasa, kapan mau batal puasa, kita masih mendengar dari orang lain, tidak bisa menentukan sendiri. Kapan awal dan akhir Ramadhan, kita masih bergantung kepada pihak lain. Ini menyangkut ibadah kita. Kapan kita mau menghidupkan lailatul qadr, juga bergantung kepada orang lain. Siapa yang mengatakan Anda bermalam lailatul qadr sekarang, kenapa bukan kemarin atau esok? Dari mana Anda tahu bahwa ini malam 19, 21 atau 23? Kita masih mendengar kata orang lain.

Lebih parah lagi, masyarakat lain yang mengatur emosi kita, kapan kita menangis dan kapan kita bahagia. Darimana Anda tahu hari ini hari Asyura’? Mengapa menangis sekarang, bukan kemarin atau esok? Orang lain yang mengatakan bahwa sekarang tanggal 10 Muharram. Di hari Idul Ghadir, hari Nisfu Sya’ban untuk berbagi kebahagiaan dengan menyelenggarakan acara bahagia lainnya juga bergantung kepada komunitas lain, karena harinya yang menentukan orang lain, bukan kita sendiri.

Training Rukyatul Hilal Lembaga Falak ABI di Denpasar, 20-21 Mei 2017 bekerjasama dengan Rukyatul Hilal Indonesia (RHI)

Kebergantungan seperti ini mengerikan. Jika kita bergantung di bidang teknologi dan ekonomi, masih ada alasan bahwa kita bukan dari kalangan yang kuat di bidang ekonomi dan teknologi. Masih butuh waktu sekian lama untuk menjadi mandiri di bidang ekonomi dan bahkan menjadi umat yang leading di akhir zaman.

Tetapi untuk bidang yang satu ini, untuk ibadah, perasaan, dan emosi kita, apakah kita harus bergantung kepada orang lain? Situasi seperti ini sangat memprihatinkan. Dilihat dari sudut pandang apa? Bukan dari sudut pandang agama, tetapi dari sudut pandang kemasyarakatan. Anda komunitas yang utuh. Anda punya struktur keyakinan yang luar biasa, unggul dibanding yang lain. Anda punya sejarah keterpimpinan. Anda punya masa depan. Mengapa harus ketergantungan untuk masalah yang sepele seperti ini?

Jadi, ini bukan sekadar masalah ibadah yang kita bisa mencari solusinya, toh pada akhirnya kita berpuasa dan berlebaran dengan ada atau tidaknya tim rukyatul hilal. Bukan sekadar itu! Lihat permasalahan dari sudut pandang kemandirian sebagai komunitas. Lihat permasalahan dari sisi bahwa Anda harus bisa eksis di tengah masyarakat yang lainnya.

Kalau kita melihat permasalahan dari sudut pandang ini, masalah rukyatul hilal menjadi sangat penting bagi kita. Karena setidaknya menawarkan sebuah kemandirian, setidaknya kita sendiri yang menentukan kapan kita bermunajat di malam lailatul qadr, kapan kita menangis bersedih dan berbahagia dan kapan kita melakukan ibadah lainnya. Inilah sisi yang menjadikan permasalahan rukyatul hilal menjadi penting bagi kita.

Kami tidak rela menyaksikan bahwa kita dalam urusan ini selalu merujuk pada pihak-pihak yang lain. Apalagi dikaitkan dengan pihak-pihak yang tidak pantas dijadikan sandaran. Bersandar kepada siapa pun kita tidak pantas, karena hal ini bisa kita lakukan. Hal ini sangat terjangkau. Sangat mungkin kita melakukannya. Insya Allah lebih baik dari siapa pun. Kita sudah punya sejarah dan pengalaman dalam urusan rukyatul hilal ini. Sebelum pelatihan yang diselenggarakan oleh ABI ini, kita sudah punya 9 tim di Jawa yang ketika tampil di lapangan, begitu mengesankan. Orang lain terperangah melihat keteraturan dan keseriusan kita. Untuk yang satu ini, masalahnya kecil. Kita bisa melakukannya. Okelah untuk pendidikan, ekonomi, sosial dan media perlu kita garap pelan-pelan. Tapi untuk urusan ini perlu kita segerakan.

(dikutip dari rubrik Opini, Buletin Al-Wilayah, Edisi 13, Juni 2017, Ramadhan 1438)

No comments

LEAVE A COMMENT