Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Peran Puasa Dalam Tazkiyah Nafs (8)

Doa Para Malaikat

Dalam hadis disebutkan bahwa para malaikat berdoa untuk kebaikan orang-orang yang menjalankan ibadah puasa. Rasulullah saw bersabda; “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kepada para malaikat agar berdoa untuk orang-orang yang berpuasa.” Beliau juga bersabda; “Jibril telah memberitahu aku dari Tuhannya bahwa Dia berfirman; ‘Aku tidak memerintahkan kepada para malaikatku berdoa untuk seseorang di antara hambaKu kecuali aku kabulkan doa mereka untuknya.”[1]

Di dunia ini jika daun dapat dengan mudah menjadi sutera maka manusiapun bisa menjadi seperti malaikat. Al-Quran menyebutkan bahwa di dalam surga terdapat permadani yang sebelah dalamnya adalah sutera. Allah SWT berfirman:

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ.

“Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera.”[2]

Disebutkan bahwa di sebelah dalamnya adalah sutera, lantas apa bagian permukaannya? Al-Quran tidak menyebutkan apa atau seperti apa bagian luarnya, sebab di alam ini tidak ada rajutan yang lebih mewah daripada rajutan sutera sehingga al-Quran menjadikan sutera sebagai iming-iming bagi manusia. Karena itu, untuk mengetahui bagian luarnya manusia dipersilakan masuk sendiri ke dalam surga. Kemudian, sutera pada permadani surga itu dibuat dan dirajut bukan oleh ulat, melainkan oleh ibadah semisal shalat dan puasa. Sutera yang dibuat oleh satu ulat bisa dirusak oleh ulat lain, sedangkan sutera yang dibuat dan dirajut oleh shalat dan puasa sama sekali tak kenal kumuh dan rusak.

Sungguhpun demikian, semua ini baru berkenaan dengan kenikmatan ragawi, belum menyentuh kenikmatan “surga pertemuan dengan Sang Pencipta” (jannat al-liqa’) seperti yang diisyaratkan dalam hadis qudsi: “Puasa adalah untukku, dan Aku Sendiri yang akan membalasnya,” atau “Akulah balasannya.” Nah, doa yang dipanjatkan oleh para malaikat adalah doa yang berkenaan dengan kenikmatan “jannat al-liqa’”.

Mengenai para malaikat Allah SWT berfirman:

وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَّعْلُومٌ.

“Tiada seorangpun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu.”[3]

Setiap malaikat memiliki kedukakannya masing-masing, sementara malaikat yang diperintahkan untuk berdoa untuk orang yang berpuasa bukanlah malaikat yang diperintahkan berdoa untuk orang yang beribadah lainnya. Jenjang para malaikat serta doa-doa mereka bervariasi.

Karena itu, seorang Muslim harus melihat aspek batiniah puasa, dan tidak berkutat hanya pada aspek lahiriah berupa menahan lapar dan haus. Dalam konteks ini, jangan sampai dalam pikirannya terlintas sesuatu yang tidak diridhai Allah, karena Dia mengetahui apa saja yang terlintas dalam pikiran hambaNya.

Puasa orang kebanyakan berbeda dengan puasa kalangan khusus, dan puasa kalangan khususpun berbeda dengan kalangan yang lebih khusus (akhash). Puasa yang dilakukan karena riya’ atau pencitraan diri jelas tidak akan menghasilkan apa-apa, karena dia terjauh dari puasa batin, meskipun secara fisik berpuasa.

Perpisahan Dengan Bulan Suci

Imam Ali Zainal Abidin al-Sajjad as menyebut bulan suci Ramadhan sebagai ied atau hari raya bagi para wali Allah.  Dalam kumpulan doa beliau yang berjudul al-Shahifah al-Sajjadiyyah terdapat doa khusus perpisahan dengan bulan suci. Di bagian awal doa ini disebutkan berbagai anugerah nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada hambaNya secara cuma-cuma (ibtida’i) , bukan karena ada pamrih (istihqaqi). Setelah itu baru disebutkan bahwa salah satu anugerah nikmat terbesar Allah SWT bagi hambaNya antara lain ialah bulan suci Ramadhan dan ibadah puasa di bulan ini.[4]

Betapa tidak, jangankan amal ibadah semisal shalat dan sedekah, bernafas dan tidurpun bahkan dicatat sebagai ibadah di bulan ini, sebagaimana disebutkan dalam sabda terkenal Nabi saw;

أنفاسكم فيه تسبيح، ونومكم فيه عبادة.

“Nafas-nafasmu di dalamnya adalah tasbih, dan tidurmu di dalamnya adalah ibadah.”

Idul Fitri yang datang menyusul bulan suci adalah hadiah atas amal ibadah yang telah dilakukan selama bulan ini. Hari raya ini adalah buah yang dihasilkan bulan suci Ramadhan. Dengan demikian kebesaran Idul Fitri kembali kepada keagungan bulan suci ini.

(Bersambung)

[1] Raudhat al-Muttaqin, jilid 3, hal. 228.

[2] QS. Al-Rahman [55]: 54.

[3] QS. Al-Shaffat [37]: 164.

[4] Al-Shahifah al-Sajjadiyyah, Doa 45.

No comments

LEAVE A COMMENT