Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Teologi Kemerdekaan

Oleh: Dr. Muhsin Labib

Mengapa para nabi menyampaikan ajakan bertauhid dan tidak menyekutukan Tuhan? Apa implikasi pengesaan dan penyekutuan Allah? Pentingkah tauhid bagi-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu dijawab secara rasional agar urgensi tauhid yang merupakan ajaran utama Islam terungkap. Selama ini kita sering diceramahi dengan anjuran tauhid dan larangan syirik.

Jelaslah, Allah tetaplah Allah, zat satu-satunya yang sempurna dalam eksistensi, diyakini keesaan-Nya maupun tidak, disembah atau tidak disembah.

Anjuran kepada umat manusia untuk mengesakannya justru untuk memuliakan manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling utama.

Tujuan di balik perintah mentauhidkan Allah dan larangan mensyirikkan-Nya adalah menyadarkan manusia akan posisi spesialnya. Allah memerintahkan manusia bertauhid semata-mata agar setiap manusia menghormati dirinya. Self respect adalah target utama misi para nabi hingga Nabi Muhammad Saw.

Penghormatan setiap manusia atas posisi kemanusiaannya meniscayakan kesadaran setiap individu manusia tentang supremasinya atas semua makhluk, termasuk malaikat. Kesadaran ini meniscayakan kesadaran setiap individu manusia tentang kesejajaran.

Kesadaran tentang kesejajaran esensial meniscayakan runtuhnya dominasi individu manusia atas individu-individu lainnya.

Runtuhnya dominasi antar sesama individu manusia menciptakan revolusi kebebasan dan kemerdekaan. Inilah yang menjadi alasan tunggal perlawanan para raja tiran, para tuan tanah yang rasis, dan para saudagar tamak terhadap Tauhid.

Para nabi sepanjang sejarah menghadapi resistensi sengit dari para penguasa karena menganggap ajakan tauhid sebagai seruan melucuti kuasa para tuhan bertuhan.

Semua penguasa tiran, karena menuhankan diri dan menghambakan orang lain melakukan segala macam cara untuk mempertahankan dominasi. Namrud, Firaun, Abu Jahal, Yazid dan para bromocorah adalah ikon-ikon penghambaan manusia.

Demi mempertahankan kekuasaan dan melawan ajaran tauhid, para penguasa kejam menjadikan tuhan palsu sebagai kedok dan jargon manipulatif. Abu Lahab dan para raja kabilah berpura-pura membela Lata dan Uzza serta tradisi leluhur semata-mata demi mempertahankan dominasi politik dan ekonomi dengan ladang-ladang kurma yang memperkerjakan ratusan budak-budak gratis.

Karena itu ajakan Nabi Saw lebih diterima oleh kelas bawah terutana kaum tertindas, seperti Ammar, Bilal, dan lainnya.

Ringkasnya, seruan bertauhid yang dipekikkan oleh Nabi bermakna “jangan berlagak tuhan bagi sesamamu dan jangan jadi hamba bagi sesamamu. Jangan jadi penjajah dan jadi terjajah.”

Atas dasar itu, memperingati hari kemerdekaan merupakan ekspresi kebertauhidan. Merdeka!

No comments

LEAVE A COMMENT