Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Urgensi Wahyu dalam Kehidupan Manusia

Imam Shadiq as pernah ditanya oleh Ibnu Sinan: “Malaikat lebih utama, ataukah anak Adam?” Beliau menjawab dengan mengutip ucapan Amirul mu`minin Ali as, bahwa: “Orang yang akalnya mengalahkan nafsunya lebih baik dari malaikat, dan bila nafsunya mengalahkan akalnya ia lebih buruk dari binatang.” (‘Ila asy-syarayi’ 1/5, bab 6, hadis 1)

Berdasarkan riwayat ini, manusia memiliki potensi untuk mencapai tingkat kesempurnaan di atas malaikat. Kesempurnaan inilah yang menjadi tujuan penciptaannya. Barangkali dipertanyakan, bukankah dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna? Jika bukan demikian yang dimaksud kesempurnaan baginya, lantas kesempurnaan seperti apakah yang harus dicapainya?

Dalam perbincangan masyarakat beragama, ketika dikatakan si fulan orang yang bersih, tidak pernah menyakiti dan menyalahi orang lain, suka menolong tanpa pamrih dan sebagainya, mereka menyebut dia “malaikat”. Juga ketika dikatakan si anu orang yang jahat, tukang tipu, pengganggu dan sebagainya, mereka menyebutnya “syaitan”, atau “binatang”. (Baca: Bagaimana Allah Menciptakan Al-Masih?)

Kesempurnaan dalam Penciptaan

Sedemikian itu adalah dikarenakan saking baiknya atau saking buruknya orang itu. Hal ini bila merujuk pada riwayat tersebut, yang dikatakan olehnya bukan “seperti”, tetapi “lebih baik” dari malaikat dan “lebih buruk” dari binatang.

Maksudnya, terdapat perbedaan antara pandangan riwayat dan pandangan masyarakat terhadap manusia dalam kaitannya dengan kesempurnaan dirinya. Bahwa yang pertama memandang manusia lebih kepada sifatnya. Sedangkan yang kedua, memandangnya lebih kepada perbuatannya. Lebih jelasnya, yang ingin penulis katakan di sini ialah bahwa yang lebih baik dari pelaku kebaikan adalah perbuatan baiknya. Karena, ia melakukan kebaikan atas kehendak dan pilihannya, atau atas ikhtiarnya ia melakukan perbuatan baik dengan kesadarannya.

Kesempurnaan yang diusahakan untuk mencapainya ini, berbeda dengan kesempurnaan yang memang dimiliki sejak awal penciptaan manusia. Bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang berakal seperti halnya malaikat, dan mempunyai nafsu seperti halnya binatang, kesempurnaannya pada apa yang telah ada pada dirinya. Sebagaimana kesempurnaan semacam ini juga dimiliki malaikat dan binatang. (Baca: Iman tak Bisa Dipaksakan)

Dengan kesempurnaan yang demikian, mereka adalah makhluk yang sempurna. Karena Allah Yang Maha sempurna lah yang menciptakan mereka, dan tiada ciptaan yang lebih sempurna dari ciptaan Sang Sumber kesempurnaan. Namun, bukanlah kesempurnaan macam ini yang dimaksud bagi manusia dalam pembahasan kenabian. Melainkan adalah kesempurnaan yang harus dicapai dengan tindakan-tindakan ikhtiarinya.

Kesempurnaan yang Dicapai dengan Perbuatan Ikhtiari

Kendati apa yang ada pada diri manusia, seperti daya penglihatan, pendengaran, penciuman dan lainnya terkadang indera binatang lebih kuat dan tajam, atau katakanlah indera sebagian binatang berdaya lebih sempurna dari indera manusia. Akan tetapi, seberapapun besarnya daya ini, jangkauan inderawi tak melampaui batas alam material.

Kendati pula malaikat yang berada di alam immateri, jangkauan eksistensi mereka lebih luas dari jangkauan manusia yang berada di alam materi, sehingga mereka mengetahui di mana manusia, dan manusia tidak mengetahui di mana mereka. Tetapi, walau demikian manusia yang berada di alam terbatas mampu mengetahui hal tersebut dan meyakini keberadaan malaikat. Pengetahuan dan keyakinan ini tak lain didapati melaui kenabian. (Baca: Skeptisisme terhadap Keyakinan pada Imam Mahdi)

Ialah melalui pengetahuan yang bukan dengan indera dan juga bukan dengan akalnya, melainkan dengan wahyu yang disampaikan oleh utusan Tuhan. Dari sisi pengetahuan ini, manusia lebih sempurna dari malaikat. Namun demikian, kesempurnaan ini masih pada batas pengetahuan, bukan sampai pada keyakinan yang melahirkan perbuatan-perbuatan yang bernilai, yaitu yang dilakukan dengan ikhtiarnya.

Pembuktian atas Adanya Kenabian

Kesempurnaan itulah yang diisyaratkan riwayat di atas, dan yang menjadi tujuan dari penciptaan manusia. Yaitu, sebagaimana dijelaskan dalam QS: adz-Dzariyat 65(1), bahwa penciptaan manusia adalah untuk supaya beribadah kepada Allah dan dengan demikian ia akan mencapai kesempurnaannya dan memperoleh rahmat-Nya yang khusus.

Ayatullah Misbah Yazdi menjelaskan bahwa kehendak Allah berkaitan langsung dengan kesempurnaan itu yang dicapai manusia perbuatan-perbuatan ikhtiarinya dalam ketaatan kepada Allah swt. Dengan ikhtiarnya yang berarti dalam hidupnya ia mendapati jalan yang lurus dan jalan lain yang menyimpang, lalu memilih satu di antara dua jalan ini.

Di dalam berikhtiar, ia memerlukan potensi dan motivasi serta pengetahuan yang benar tentang apa yang harus dilakukan dan jalan mana yang harus ditempuh. Dengan demikian ia benar-benar mempunyai pilihan dan menempuh jalan kesempurnaannya dengan penuh kesadaran, apabila ia mengetahui tujuan dan jalannya serta semua kendala yang menghambatnya. (Baca:  Hidupkan Keadilan)

Jika tidak demikian, manusia ibarat mendapatkan undangan untuk datang ke satu rumah tanpa diberitahu alamatnya dan jalan yang harus ditempuh. Hal ini bertentangan dengan kemahabijaksanaan Allah swt, dan dengan tujuan penciptaan manusia.

Pengetahuan manusia dengan indera dan akalnya kendati berperan efektif dalam memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya, namun dua sarana ini tidaklah cukup memberikan pengetahuan baginya tentang jalan kesempurnaan dan kebahagiannya yang hakiki dalam semua aspek. Yaitu, aspek individual dan sosial, material dan spritual, duniawi dan ukhrawi.

Oleh karenanya, untuk memenuhi segala kekurangan itu, hikmah Allah swt memberikan sarana lain selain indera dan akal yang dimiliki manusia. Yaitu, wahyu yang Allah turunkan kepada para rasul. Melalui mereka inilah manusia mendapatkan pengetahuan tentang jalan kesempurnaannya itu di dalam kehidupannya, untuk dicapai olehnya dan dengan demikian ia sampai pada kebahagiaannya yang abadi.

Bersambung…

Referensi:

1-“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

2- Omuzesye Aqaed, bagian kenabian.

Baca selanjutnya: “Urgensi Wahyu dalam Kehidupan Manusia (2)

 

No comments

LEAVE A COMMENT