*Ditranskrip dari ceramah Ustadz Miqdad Turkan pada peringatan Malam Duka Muharam
“Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (QS. Ibrahim: 5)
Asyura bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang setiap tahun. Ia adalah sebuah madrasah agung yang mengajarkan nilai-nilai Islam paling mendasar: keteguhan iman, keberanian menghadapi kezaliman, kemuliaan akhlak, dan kesetiaan kepada jalan kebenaran. Selama umat berpegang teguh kepada pelajaran-pelajaran Asyura, identitas mereka akan tetap terjaga. Namun ketika nilai-nilai Asyura ditinggalkan, umat akan kehilangan arah, kehilangan kepribadian, bahkan kehilangan masa depan generasinya.
Di era modern ini, manusia hidup dalam situasi yang oleh banyak ulama disebut sebagai zaman fitnah. Berbagai bentuk kebohongan, manipulasi informasi, dan penyesatan pemikiran tersebar melalui berbagai media. Tidak sedikit orang yang akhirnya kehilangan pegangan, goyah keyakinannya, bahkan kehilangan identitas dirinya sebagai seorang mukmin.
Perang Terhadap Identitas Umat
Ketika kepentingan materi dan penyembahan terhadap dunia menguasai politik dan ekonomi global, berbagai kekuatan besar berusaha membentuk manusia menjadi makhluk yang jauh dari Allah SWT. Mereka tidak hanya menguasai pasar dan sumber daya, tetapi juga berusaha mengendalikan cara berpikir masyarakat.
Akidah dilemahkan, moralitas dirusak, dan keyakinan agama dijadikan sasaran utama. Dalam kondisi seperti ini, kelompok yang paling menjadi target adalah orang-orang beriman, para pencinta kebenaran, dan mereka yang tetap berpegang teguh kepada ajaran Ilahi.
Mengapa?
Karena mereka adalah hujjah Allah di muka bumi. Dalam masa gaib Imam Mahdi a.s., orang-orang beriman menjadi saksi hidup keberadaan nilai-nilai ketuhanan di tengah masyarakat. Oleh sebab itu mereka senantiasa menjadi sasaran berbagai bentuk serangan pemikiran dan budaya.
Tiga Ancaman bagi Ahlul Iman
Ceramah ini menjelaskan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mengancam kaum beriman.
1. Target Setan Berwujud Manusia
Al-Qur’an menyebut adanya syayathin al-ins, setan-setan dari kalangan manusia. Mereka menyebarkan kebohongan, propaganda, dan berbagai rekayasa informasi untuk menjauhkan manusia dari jalan kebenaran.
Sejak dahulu para penguasa zalim, ulama su’, politisi oportunis, dan media yang tidak bertanggung jawab telah digunakan untuk melemahkan keyakinan umat. Mereka berusaha membuat manusia ragu terhadap kebenaran yang diyakininya.
2. Target Setan dari Kalangan Jin
Selain gangguan manusia, orang beriman juga menjadi sasaran setan dari golongan jin. Al-Qur’an mengabadikan sumpah Iblis yang berjanji akan menghalangi manusia dari jalan Allah yang lurus.
Sasaran utama mereka adalah orang-orang yang berada di atas shirath al-mustaqim. Dalam Surah al-Fatihah kita setiap hari memohon:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Menurut penjelasan Al-Qur’an, jalan lurus adalah jalan para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dalam riwayat Ahlulbait a.s., jalan itu mencapai puncaknya pada wilayah dan kepemimpinan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. serta Ahlulbait Rasulullah saw.
Karena itu tidak mengherankan bila setiap kali seseorang berbicara tentang Ahlulbait, sering muncul berbagai tuduhan dan fitnah. Tujuannya adalah menjauhkan manusia dari jalan yang telah Allah tetapkan sebagai jalan keselamatan.
3. Kelemahan Mental (Al-Wahan)
Faktor ketiga yang sering kali paling menentukan adalah kelemahan internal manusia sendiri.
Rasulullah saw pernah memperingatkan tentang penyakit al-wahan, yaitu kelemahan mental dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Ketika mental menjadi lemah, manusia mudah dipengaruhi oleh propaganda, tekanan sosial, maupun godaan duniawi.
Banyak orang yang mencintai Ahlulbait dalam hati, tetapi tidak berani menampakkan keyakinannya. Sebagian takut kepada lingkungan, sebagian takut kepada tekanan sosial, dan sebagian lagi takut kehilangan kenyamanan duniawi.
Padahal kelemahan mental inilah yang membuka pintu bagi dominasi musuh-musuh Allah.
Pelajaran dari Fir’aun
Al-Qur’an memberikan contoh yang sangat jelas melalui kisah Fir’aun. Pertanyaannya bukan mengapa Fir’aun zalim, melainkan bagaimana satu orang mampu menguasai sebuah bangsa besar?
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Fir’aun terlebih dahulu melemahkan rakyatnya. Ia menakut-nakuti mereka, mengendalikan informasi, memecah belah masyarakat, dan membuat mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Masyarakat yang tenggelam dalam hawa nafsu dan kebodohan menjadi mudah dikendalikan. Karena itulah para penguasa zalim sepanjang sejarah selalu berusaha menghancurkan ilmu pengetahuan, merendahkan peran ulama, dan menciptakan ketergantungan ekonomi.
Bangsa yang miskin secara ekonomi dan miskin secara intelektual akan mudah diperbudak.
Mengapa Iran Mampu Bertahan?
Dalam ceramah ini juga disinggung pengalaman Republik Islam Iran. Banyak orang mengira ketahanan Iran lahir dari sejarah peradaban Persia yang telah berusia ribuan tahun. Namun sesungguhnya faktor utama yang membentuk ketahanan masyarakat Iran adalah budaya Asyura.
Imam Khomeini pernah menegaskan bahwa Revolusi Islam dan ketahanan bangsa Iran lahir dari pelajaran Asyura dan Arba’in.
Ketika masyarakat dibesarkan dengan semangat Imam Husain a.s., mereka belajar bahwa harga diri lebih berharga daripada kenyamanan, dan kebenaran lebih penting daripada keselamatan pribadi.
Karena itu tekanan politik, embargo ekonomi, bahkan ancaman militer tidak mudah menggoyahkan mereka.
Asyura telah membentuk mentalitas yang kokoh.
Peran Ulama sebagai Murabithun
Imam Ja’far al-Shadiq a.s. menggambarkan ulama sejati sebagai murabithun, yaitu penjaga perbatasan umat.
Mereka bukan sekadar penceramah atau penghibur. Tugas mereka adalah menjaga celah-celah kelemahan masyarakat agar tidak dimasuki oleh musuh-musuh Allah.
Jika ada kebodohan, ulama harus mencerdaskan.
Jika ada kerusakan moral, ulama harus memperbaiki.
Jika ada kelemahan akidah, ulama harus menguatkan.
Dalam sebuah riwayat, Imam Shadiq a.s. menjelaskan bahwa pahala ulama yang menjaga akidah dan jiwa umat jauh lebih besar daripada para penjaga perbatasan yang menjaga tubuh dan wilayah negara. Sebab yang dijaga para ulama adalah ruh dan keselamatan akhirat manusia.
Asyura: Benteng Terakhir Umat
Pada akhirnya, Asyura adalah benteng utama yang menjaga identitas umat Islam, khususnya para pencinta Ahlulbait a.s.
Di tengah perang informasi, perang budaya, dan perang identitas yang semakin kompleks, pelajaran Karbala tetap relevan. Imam Husain a.s. telah mengorbankan seluruh yang beliau miliki demi menjaga agama Allah. Karena pengorbanan itulah hingga hari ini umat masih dapat mengenal jalan kebenaran.
Setiap majelis Husaini sesungguhnya bukan sekadar tempat menangis dan mengenang tragedi. Ia adalah pusat pendidikan ruhani, tempat membangun keberanian, keteguhan, dan kesadaran.
Barang siapa berpegang teguh kepada nilai-nilai Asyura, ia akan memiliki identitas yang kuat dan tidak mudah digoyahkan oleh fitnah zaman.
Sebaliknya, mereka yang meninggalkan pesan-pesan Asyura akan kehilangan arah, mudah terpengaruh oleh propaganda, dan akhirnya menjadi korban berbagai bentuk penyesatan.
Karena itu, menjaga hubungan dengan Imam Husain a.s., menghadiri majelis-majelis Asyura, serta menghidupkan ajaran Karbala bukan hanya bentuk kecintaan kepada Ahlulbait, melainkan juga upaya menjaga diri, keluarga, dan masyarakat dari keruntuhan spiritual di tengah badai fitnah akhir zaman.