Di antara tragedi paling memilukan dalam sejarah Islam adalah kesyahidan Imam Hasan al-Mujtaba a.s., cucu sulung Rasulullah saw, putra Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. dan Sayidah Fatimah az-Zahra a.s. Beliau adalah sosok yang dipuji langsung oleh Rasulullah saw sebagai “penghulu para pemuda surga” bersama saudaranya, Imam Husain a.s. Namun, kehidupan beliau yang dipenuhi pengorbanan justru berakhir dengan racun yang diberikan dari dalam rumahnya sendiri. Bahkan setelah wafatnya, jenazah beliau tidak diizinkan dimakamkan di sisi makam kakeknya, Rasulullah saw.
Peristiwa ini bukan hanya ada dalam literatur Syiah, tetapi juga terekam dalam banyak karya sejarawan Ahlusunnah.
Imam Hasan: Pewaris Akhlak Rasulullah
Imam Hasan a.s. lahir pada tahun ketiga Hijriah. Rasulullah saw sangat mencintainya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi saw bersabda bahwa melalui al-Hasan Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin.
Namun, perdamaian itu bukanlah penyerahan prinsip. Dalam perjanjian damai disebutkan bahwa Muawiyah tidak boleh menunjuk penerusnya secara turun-temurun dan setelah wafatnya Muawiyah, kepemimpinan harus dikembalikan kepada Imam Hasan atau, jika beliau telah wafat, kepada Imam Husain. Akan tetapi, sejarah memperlihatkan bahwa Muawiyah kemudian berusaha mengangkat putranya, Yazid, sebagai pewaris kekuasaan.
Di sinilah keberadaan Imam Hasan menjadi penghalang terbesar bagi proyek monarki Bani Umayyah.
Racun yang Datang dari Dalam Rumah
Hampir seluruh sejarawan awal sepakat bahwa Imam Hasan wafat akibat diracun. Perselisihan muncul pada pertanyaan: siapakah dalang di balik peristiwa itu?
Riwayat yang paling terkenal menyebutkan bahwa istri beliau, Ju’dah binti al-Asy’ats bin Qais, memberikan racun atas bujukan Muawiyah. Sebagai imbalan, ia dijanjikan sejumlah besar harta dan akan dinikahkan dengan Yazid. Setelah Imam Hasan wafat, Muawiyah memang memberikan uang tersebut, tetapi menolak menikahkannya dengan Yazid seraya berkata bahwa ia tidak ingin perempuan yang telah membunuh suaminya menjadi istri putranya. Riwayat seperti ini ditemukan dalam sejumlah karya sejarah awal dan juga diakui sebagai riwayat yang tersebar luas dalam literatur klasik.
Muhammad ibn Jarir ath-Thabari mencatat kisah adanya surat Muawiyah kepada gubernurnya di Madinah agar segera mengabarkan apabila Imam Hasan wafat. Riwayat lain dalam sejarah menyebut adanya hubungan antara rencana suksesi Yazid dengan wafatnya Imam Hasan.
Selama berhari-hari Imam Hasan menanggung penderitaan akibat racun yang sangat kuat. Riwayat-riwayat menyebutkan bahwa racun itu merusak organ dalam tubuh beliau hingga beberapa kali beliau memuntahkan darah.
Wasiat Terakhir: Jangan Sampai Ada Darah Tertumpah
Menjelang wafat, Imam Hasan menyampaikan wasiat yang sangat menyentuh kepada adiknya, Imam Husain a.s.
Beliau meminta agar jenazahnya dibawa terlebih dahulu ke dekat makam Rasulullah saw sebagai bentuk penghormatan kepada kakeknya. Apabila masyarakat mengizinkan, beliau ingin dimakamkan di samping Rasulullah saw. Namun apabila hal itu menimbulkan pertumpahan darah, beliau berpesan agar segera dimakamkan di Baqi’ tanpa peperangan sedikit pun.
Wasiat ini memperlihatkan bahwa bahkan setelah wafatnya sekalipun, Imam Hasan masih memikirkan keselamatan umat lebih daripada kehormatan dirinya sendiri.
Penolakan terhadap Pemakaman di Samping Rasulullah
Ketika rombongan Bani Hasyim membawa jenazah Imam Hasan menuju makam Rasulullah saw, mereka dihadang oleh kelompok Bani Umayyah.
Dalam riwayat-riwayat sejarah klasik disebutkan bahwa Marwan bin al-Hakam menjadi tokoh yang paling keras menolak pemakaman tersebut. Ia beralasan bahwa selama Utsman dimakamkan di Baqi’, maka Imam Hasan tidak boleh dimakamkan di samping Rasulullah. Ketegangan meningkat hingga hampir terjadi bentrokan bersenjata antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah.
Sejumlah riwayat yang terdapat dalam literatur Syiah dan sebagian kitab sejarah Sunni juga menyebutkan bahwa salah satu Ummul Mukminin turut menyatakan keberatan terhadap pemakaman Imam Hasan di kamar Rasulullah saw dengan alasan rumah tersebut berada dalam haknya. Riwayat-riwayat ini diperselisihkan dalam penilaiannya oleh para ulama Sunni, tetapi keberadaannya tercatat dalam beberapa karya sejarah klasik.
Bahkan sebagian riwayat menyebut bahwa anak-anak panah dilepaskan ke arah keranda Imam Hasan sehingga beberapa anak panah menancap pada usungan jenazah beliau.
Melihat situasi yang hampir berubah menjadi perang saudara, Imam Husain teringat wasiat kakaknya. Demi menjaga persatuan umat dan menghindari pertumpahan darah, beliau mengurungkan niat pemakaman di sisi Rasulullah saw dan membawa jenazah Imam Hasan menuju pemakaman Baqi’.
Dengan demikian, bahkan setelah wafatnya, Imam Hasan tetap menjadi penyelamat darah kaum Muslimin.
Pelajaran Sejarah
Kesyahidan Imam Hasan mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan dengan pedang. Terkadang kemenangan justru tampak dalam kesabaran. Beliau diracun oleh orang yang paling dekat dengannya menurut banyak riwayat sejarah. Beliau tidak membalas. Beliau dihalangi dimakamkan di sisi Rasulullah saw. Beliau tidak menghendaki peperangan. Bahkan wasiat terakhirnya adalah agar tidak ada darah seorang Muslim pun tertumpah demi dirinya.
Ironisnya, orang yang semasa hidup disebut Rasulullah sebagai “penghulu para pemuda surga” justru mengalami perlakuan yang demikian menyakitkan setelah wafatnya. Tragedi ini menjadi salah satu mata rantai yang kemudian berujung pada tragedi Karbala, ketika proyek pewarisan kekuasaan kepada Yazid benar-benar terlaksana.
Bagi kaum Muslimin, mengenang Imam Hasan bukan sekadar mengenang sebuah kematian tragis. Ia adalah pengingat bahwa kekuasaan dapat mengubah wajah politik, tetapi tidak akan pernah mampu menghapus kemuliaan akhlak. Racun dapat menghentikan kehidupan seorang Imam, tetapi tidak dapat membunuh kebenaran yang beliau perjuangkan.
Referensi
- Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra.
- Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk.
- Al-Baladzuri, Ansab al-Ashraf.
- Abu al-Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Talibiyyin.
- Al-Mas’udi, Muruj al-Dhahab.
- S.H.M. Jafri, The Origins and Early Development of Shi’a Islam.