Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Rabiul Awal dan Awal Imamah Imam Mahdi afs

Rabiul Awal tahun 260 Hijriah adalah masa yang penuh kecemasan bagi para pengikut Ahlulbait. Di kota Samarra, pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyah, suasana duka menyelimuti rumah Imam Hasan al-Askari a.s. Imam kesebelas dari keturunan Rasulullah saw itu telah syahid setelah bertahun-tahun hidup di bawah pengawasan ketat pemerintah. Bagi para pecinta Ahlulbait, wafatnya Imam bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin agama. Mereka kehilangan seorang pembimbing spiritual, seorang hujjah Allah di muka bumi, dan seorang pewaris ilmu Rasulullah saw.

Namun yang membuat keadaan saat itu semakin menegangkan adalah situasi politik yang melingkupinya. Para penguasa Abbasiyah mengetahui berbagai hadis Nabi Muhammad saw yang berbicara tentang kemunculan seorang penyelamat dari keturunan beliau yang akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman. Mereka juga mengetahui bahwa sosok tersebut berasal dari garis keturunan Imam Hasan al-Askari a.s. Karena itu, kehidupan Imam kesebelas diawasi secara luar biasa. Rumahnya dipantau, para tamunya dicurigai, dan gerak-geriknya dibatasi. Pemerintah berharap dapat memutus mata rantai kepemimpinan Ahlulbait sebelum sosok yang dijanjikan itu muncul. (Syekh al-Tusi, Al-Ghaybah; Syekh Shaduq, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni’mah)

Ketika Imam Hasan al-Askari a.s. syahid pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun 260 H, banyak orang mengira bahwa tujuan tersebut akhirnya tercapai. Musuh-musuh Ahlulbait beranggapan bahwa tidak ada lagi penerus Imam. Jika benar demikian, maka untuk pertama kalinya sejak Rasulullah saw wafat, mata rantai kepemimpinan ilahi akan terputus.

Tetapi sejarah ternyata bergerak ke arah yang sama sekali berbeda.

Di balik ketatnya pengawasan Abbasiyah, Allah telah menjaga hujjah-Nya. Imam Hasan al-Askari a.s. memiliki seorang putra yang selama ini dijaga dari perhatian publik. Putra itu bernama Muhammad bin Hasan, yang kelak dikenal sebagai Imam Mahdi afs. Dengan syahadah ayahnya, amanah Imamah berpindah kepadanya. Peristiwa inilah yang kemudian diperingati oleh kaum Syiah setiap tahun pada 9 Rabiul Awal sebagai awal Imamah Imam Mahdi afs.

Peristiwa tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kepemimpinan. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, Imamah bukanlah jabatan yang ditentukan melalui pemilihan manusia. Imamah merupakan kelanjutan dari misi kenabian dalam menjaga kemurnian agama dan membimbing umat menuju jalan Allah. Karena itu, sebagaimana para nabi dipilih oleh Allah, para Imam juga ditetapkan oleh Allah melalui Rasul-Nya dan para Imam sebelumnya. (Al-Kafi, Kitab al-Hujjah)

Atas dasar itu, wafatnya seorang Imam tidak pernah berarti berakhirnya bimbingan ilahi. Selalu ada Imam berikutnya yang melanjutkan amanah tersebut. Imam Ja’far al-Shadiq as. meriwayatkan bahwa bumi tidak pernah kosong dari hujjah Allah. Jika sesaat saja bumi tanpa hujjah, maka ia akan tenggelam bersama penghuninya. (Al-Kafi, Jilid 1)

Keyakinan inilah yang menjadi sumber ketenangan para pengikut Ahlulbait pada masa itu. Mereka memang kehilangan Imam Hasan al-Askari a.s., tetapi mereka tidak kehilangan harapan. Hujjah Allah masih ada. Bimbingan ilahi masih berlangsung. Mata rantai yang dimulai oleh Rasulullah saw tetap terjaga.

Namun, awal Imamah Imam Mahdi afs sekaligus menandai dimulainya sebuah fase baru yang belum pernah dialami umat sebelumnya: masa ghaibah atau kegaiban. Berbeda dengan para Imam terdahulu yang hidup di tengah masyarakat meskipun berada di bawah tekanan politik, Imam Mahdi afs tidak lagi hadir secara terbuka. Demi menjaga keselamatan beliau dan kelangsungan hujjah Allah, Allah menetapkan bahwa Imam terakhir ini akan memasuki masa ghaibah.

Bagi sebagian orang, kegaiban mungkin tampak sebagai sebuah kehilangan. Akan tetapi, para ulama Ahlulbait menjelaskan bahwa ghaibah bukan berarti ketiadaan. Imam Mahdi tetap hidup, tetap menjadi hujjah Allah, dan tetap memiliki hubungan dengan umat meskipun tidak hadir secara langsung di hadapan mereka. Dalam sebuah riwayat terkenal, ketika ditanya tentang manfaat Imam yang ghaib, Imam Ja’far al-Shadiq a.s. menjelaskan bahwa keberadaan beliau laksana matahari yang tertutup awan. Meskipun tidak terlihat, ia tetap memberikan cahaya dan kehidupan kepada dunia. (Syekh Shaduq, Kamal al-Din)

Perumpamaan ini sangat penting untuk dipahami. Sebab inti keyakinan kepada Imam Mahdi afs bukanlah sekadar menunggu kemunculan seorang tokoh di masa depan. Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat manusia tanpa bimbingan. Di tengah berbagai krisis dan kegelapan sejarah, selalu ada cahaya ilahi yang menjaga arah perjalanan manusia.

Karena itu, para Imam Ahlulbait tidak pernah mengajarkan penantian yang pasif. Mereka tidak menghendaki para pengikutnya hanya duduk dan menunggu. Sebaliknya, mereka mengajarkan konsep intizhar atau penantian aktif. Menanti Imam Mahdi afs berarti mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari masyarakat yang akan menyambut kemunculannya.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa penanti terbaik adalah mereka yang menjaga iman, memperbaiki akhlak, menegakkan keadilan, dan berjuang melawan kezaliman sesuai kemampuan mereka. Imam Ja’far al-Shadiq a.s. bahkan menyebut orang yang menanti urusan ini dengan benar seperti orang yang berjihad bersama Rasulullah saw. (Al-Ghaybah karya al-Nu’mani)

Di sinilah letak keistimewaan ajaran Mahdawiyah dalam tradisi Syiah. Harapan tidak dipahami sebagai pelarian dari realitas, tetapi sebagai kekuatan untuk menghadapi realitas. Seorang mukmin tidak boleh menyerah kepada keadaan karena ia percaya bahwa sejarah pada akhirnya berada di tangan Allah. Kezaliman mungkin tampak kuat, tetapi ia tidak abadi. Kebatilan mungkin tampak dominan, tetapi ia tidak akan bertahan selamanya.

Pandangan ini memiliki relevansi yang sangat besar bagi dunia modern. Kita hidup di zaman yang dipenuhi berbagai bentuk ketidakadilan. Peperangan, penjajahan, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan krisis moral masih menjadi bagian dari kehidupan manusia. Banyak orang kehilangan harapan karena merasa dunia bergerak menuju arah yang semakin buruk.

Akan tetapi, keyakinan kepada Imam Mahdi mengajarkan sesuatu yang berbeda. Ia mengajarkan bahwa masa depan bukan milik para tiran. Masa depan bukan milik mereka yang menebarkan kerusakan dan penindasan. Masa depan pada akhirnya adalah milik kebenaran. Inilah pesan yang diwariskan oleh Rasulullah saw dan dijaga oleh para Imam Ahlulbait sepanjang sejarah.

Karena itu, ketika kaum Syiah memperingati awal Imamah Imam Mahdi afs pada bulan Rabiul Awal, yang mereka rayakan sesungguhnya bukan sekadar sebuah peristiwa sejarah. Mereka merayakan keberlangsungan bimbingan ilahi. Mereka merayakan lahirnya sebuah harapan yang tidak pernah padam. Mereka merayakan keyakinan bahwa meskipun para Imam satu demi satu telah syahid, Allah tetap menjaga agama-Nya melalui hujjah yang hidup.

Rabiul Awal mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat mendalam. Pada saat sebagian orang mengira bahwa semuanya telah berakhir dengan syahadah Imam Hasan al-Askari a.s., justru saat itulah sebuah babak baru dimulai. Ketika musuh-musuh Ahlulbait mengira telah berhasil memadamkan cahaya Allah, cahaya itu justru terus bersinar melalui Imam Mahdi afs

Maka, pesan terbesar dari awal Imamah Imam Mahdi afs adalah bahwa seorang mukmin tidak boleh kehilangan harapan. Duka boleh datang. Ujian boleh silih berganti. Kezaliman boleh tampak berkuasa. Namun selama hujjah Allah masih ada di muka bumi, harapan tidak pernah ikut gugur. Dan selama harapan itu tetap hidup, perjuangan menuju keadilan akan selalu menemukan jalannya.

Referensi Utama

  • Muhammad bin Ya’qub al-Kulayni, Al-Kafi, Kitab al-Hujjah.
  • Syekh Shaduq, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni’mah.
  • Syekh al-Tusi, Al-Ghaybah.
  • Al-Nu’mani, Kitab al-Ghaybah.
  • Syekh al-Mufid, Al-Irsyad.
  • Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Jilid 51–53.
Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT