Tanggal 8 Rabiul Awal merupakan hari duka bagi umat Islam pecinta Ahlul Bait as. Pada hari itulah Imam Hasan al-Askari as, Imam ke-11 dari rangkaian Imam Ahlul Bait Nabi Muhammad saw, menutup usia beliau dalam kondisi syahid akibat racun yang diberikan atas perintah penguasa Abbasiyah. Meski usia beliau ketika wafat hanya sekitar 28 tahun, peran yang dimainkan dalam sejarah Islam sangat besar. Beliau hidup pada masa yang penuh tekanan politik, pengawasan ketat, dan upaya sistematis untuk memutus garis imamah. Namun justru di tengah kondisi tersebut, Imam Askari as berhasil menjaga kesinambungan kepemimpinan Ilahi dan mempersiapkan umat memasuki fase paling krusial dalam sejarah Islam, yaitu masa ghaib Imam Mahdi afs.¹
Lahir dan Tumbuh di Tengah Pengawasan Politik
Imam Hasan al-Askari as lahir di Madinah pada tahun 232 H. Ayah beliau adalah Imam Ali al-Hadi as, Imam ke-10 Syiah Imamiyah. Ketika masih kecil, beliau bersama ayahnya dipindahkan secara paksa oleh Khalifah al-Mutawakkil ke Samarra, sebuah kota garnisun militer yang menjadi pusat pemerintahan Abbasiyah saat itu. Karena tinggal di kawasan militer (‘Askar), beliau kemudian dikenal dengan gelar “al-Askari”.²
Sejak masa Imam Hadi as, para penguasa Abbasiyah memandang Ahlul Bait sebagai ancaman politik dan spiritual. Berbagai riwayat Nabi saw mengenai kemunculan Al-Mahdi dari keturunan Imam Hasan al-Askari as membuat pengawasan terhadap keluarga beliau semakin ketat. Pemerintah khawatir munculnya figur yang dapat mengguncang legitimasi kekuasaan mereka.
Ketika Imam Hadi as syahid pada tahun 254 H, Imam Hasan al-Askari as melanjutkan tugas imamah dalam suasana yang jauh dari normal. Aktivitas beliau diawasi, rumahnya dipantau, dan hubungan beliau dengan para pengikut dibatasi secara sistematis. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau pernah dipenjara oleh Khalifah al-Mu’tamid Abbasiyah.³
Strategi Perjuangan di Tengah Represi
Berbeda dengan Imam Ja’far al-Shadiq as yang memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan pusat ilmu pengetahuan di Madinah, Imam Askari as hidup dalam ruang gerak yang sangat terbatas. Namun keterbatasan tersebut tidak menghentikan perjuangan beliau.
Salah satu strategi penting yang dikembangkan Imam Askari as adalah memperkuat jaringan wakil (wikalah) di berbagai wilayah Islam. Para wakil ini berfungsi sebagai penghubung antara Imam dan komunitas Syiah yang tersebar di Irak, Hijaz, Persia, dan kawasan lainnya. Melalui sistem ini, persoalan keagamaan, sosial, dan keuangan umat dapat tetap dikelola meskipun akses langsung kepada Imam sangat dibatasi.
Para sejarawan menilai bahwa jaringan wikalah yang dibangun pada masa Imam Hadi as dan disempurnakan oleh Imam Askari as menjadi fondasi yang memungkinkan komunitas Syiah bertahan pada masa ghaib. Dengan kata lain, Imam Askari as tidak hanya memimpin umat pada masanya, tetapi juga mempersiapkan struktur sosial-keagamaan untuk generasi-generasi berikutnya.⁴
Selain itu, beliau juga aktif menjaga kemurnian akidah Islam dari berbagai penyimpangan. Pada masa itu muncul sejumlah kelompok ekstrem (ghulat) yang menisbatkan sifat-sifat ketuhanan kepada para Imam. Imam Askari as secara tegas menolak pandangan tersebut dan menegaskan bahwa para Imam adalah hamba-hamba Allah yang dipilih sebagai hujjah-Nya di muka bumi, bukan sosok yang memiliki sifat ketuhanan.⁵
Mempersiapkan Umat Menuju Masa Ghaib
Di antara jasa terbesar Imam Hasan al-Askari as adalah mempersiapkan umat untuk menghadapi masa ghaib Imam Mahdi afs.
Para pengikut Ahlul Bait sejak lama mengetahui berbagai hadis yang menyebutkan bahwa Imam terakhir akan mengalami ghaibah. Namun transisi menuju masa tersebut memerlukan kesiapan mental dan organisatoris yang matang. Karena itu Imam Askari as secara bertahap membiasakan umat untuk berhubungan melalui para wakil yang terpercaya.
Langkah ini sangat penting. Ketika Imam Mahdi afs memasuki masa ghaib sughra, umat telah terbiasa menerima arahan melalui para wakil khusus. Dengan demikian komunitas Syiah tidak mengalami kekosongan kepemimpinan yang dapat menghancurkan persatuan mereka.
Sejarawan Syiah kontemporer Jassim M. Hussain menyebut bahwa salah satu pencapaian terbesar Imam Askari as adalah keberhasilannya menjaga kohesi komunitas Imamiyah menjelang dimulainya masa ghaib.⁶
Hari-Hari Terakhir Sang Imam
Pada tahun 260 H, kesehatan Imam Hasan al-Askari as mulai menurun. Sumber-sumber sejarah Imamiyah meriwayatkan bahwa sakit beliau berlangsung sekitar beberapa hari hingga satu pekan.
Ketika berita sakitnya Imam sampai kepada Khalifah al-Mu’tamid, pemerintah segera mengirim sejumlah pejabat, dokter, dan aparat ke rumah beliau. Mereka diperintahkan untuk mengawasi keadaan Imam secara ketat. Tindakan ini menunjukkan besarnya perhatian politik Abbasiyah terhadap keluarga Imam Askari as, terutama karena mereka terus mencari informasi mengenai kemungkinan keberadaan putra beliau yang kelak diyakini sebagai Imam Mahdi afs.⁷
Imam Hasan al-Askari as gugur sebagai syahid akibat racun yang diberikan atas perintah Khalifah al-Mu’tamid. Pada tanggal 8 Rabiul Awal 260 H (874 M), Imam Hasan al-Askari as menghembuskan napas terakhirnya di Samarra.
Duka yang Mengguncang Samarra
Wafatnya Imam Askari as menimbulkan gelombang duka yang besar. Berbagai riwayat mencatat bahwa masyarakat Samarra berbondong-bondong menghadiri prosesi pemakaman beliau. Para tokoh Bani Hasyim, pejabat pemerintahan, ulama, dan masyarakat umum turut hadir.
Beliau dimakamkan di rumah yang sama dengan makam ayahnya, Imam Ali al-Hadi as. Tempat itu kemudian berkembang menjadi kompleks suci al-Askariyain yang hingga kini menjadi salah satu pusat ziarah terpenting umat Islam.⁹
Namun wafatnya Imam Askari as bukan hanya menandai berakhirnya kehidupan seorang Imam. Peristiwa tersebut juga membuka babak baru dalam sejarah Islam, yaitu dimulainya era ghaib Imam Mahdi afs.
Pandangan Ulama Kontemporer
Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i melihat kehidupan Imam Askari as sebagai bukti bahwa para Imam Ahlul Bait senantiasa memikul tanggung jawab menjaga agama meskipun berada dalam tekanan politik yang luar biasa. Menurut beliau, pengawasan ketat Abbasiyah terhadap Imam menunjukkan besarnya kekhawatiran penguasa terhadap keberlanjutan garis imamah.
Dr. Jassim M. Hussain menilai bahwa keberhasilan terbesar Imam Askari as bukanlah aktivitas politik terbuka, melainkan kemampuan beliau membangun sistem komunikasi dan representasi yang memungkinkan komunitas Syiah bertahan setelah wafatnya beliau.¹⁰
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam sejumlah kajian sejarah Ahlul Bait menegaskan bahwa para Imam tidak pernah menjalani kehidupan pasif. Mereka selalu terlibat dalam perjuangan menjaga agama dan membina umat sesuai dengan kondisi zamannya. Dalam perspektif ini, perjuangan Imam Askari as merupakan contoh bagaimana kepemimpinan spiritual dapat bertahan bahkan di bawah tekanan negara yang represif.
Ayatullah Ja’far Subhani juga menilai bahwa masa Imam Askari as merupakan salah satu fase paling sensitif dalam sejarah imamah karena pada periode inilah fondasi teologis dan organisatoris masa ghaib disiapkan secara matang.
Penutup
Kehidupan Imam Hasan al-Askari as mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan melalui kekuatan politik atau militer. Dalam banyak keadaan, perjuangan justru diwujudkan melalui kesabaran, pendidikan, pembinaan umat, dan keteguhan menjaga prinsip.
Di tengah pengawasan, penjara, dan ancaman pembunuhan, Imam Askari as berhasil menjalankan amanah imamah dengan sempurna. Beliau menjaga kemurnian ajaran Islam, mempersiapkan umat menghadapi masa ghaib, dan mewariskan harapan yang tetap hidup hingga hari ini.
Mengenang syahadah Imam Hasan al-Askari as bukan sekadar mengenang sebuah tragedi sejarah. Ia adalah momentum untuk meneladani keteguhan seorang pemimpin Ilahi yang tetap berdiri di atas kebenaran meskipun seluruh kekuatan dunia berusaha membungkamnya.
Catatan Kaki
- Heinz Halm, “ʿAskarī,” Encyclopaedia Iranica, Vol. II, Fasc. 7, 1987. (Iranica Online)
- Ibid. (Iranica Online)
- Ibid. (Iranica Online)
- Jassim M. Hussain, The Occultation of the Twelfth Imam: A Historical Background, Chapter III. (Al-Islam.org)
- Heinz Halm, “ʿAskarī,” Encyclopaedia Iranica. (Iranica Online)
- Jassim M. Hussain, The Occultation of the Twelfth Imam. (Al-Islam.org)
- Ibid. (Al-Islam.org)
- Ibid. (Al-Islam.org)
- Heinz Halm, “ʿAskarī,” Encyclopaedia Iranica. (Iranica Online)
- Jassim M. Hussain, The Occultation of the Twelfth Imam. (Al-Islam.org)