Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Imam Hasan al-Askari as: Cahaya yang Lahir di Tengah Pengawasan Kekuasaan

Di antara para Imam Ahlulbait as, Imam Hasan al-Askari as menempati posisi yang sangat istimewa. Beliau adalah Imam ke-11 dalam mata rantai Imamah dan ayah dari Imam Mahdi afs, sang Imam yang dijanjikan akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi oleh kezaliman. Kehidupan beliau berlangsung pada masa yang sangat sulit, ketika pemerintahan Abbasiyah menaruh pengawasan ketat terhadap keluarga Rasulullah saw karena mereka mengetahui berbagai riwayat tentang kemunculan seorang penyelamat dari keturunan Imam Hasan al-Askari as.

Kelahiran Imam Hasan al-Askari as bukan sekadar peristiwa historis, melainkan kelahiran seorang hujjah Allah yang kelak menjadi penghubung langsung menuju era Imam Mahdi afs.

Kelahiran Sang Imam

Menurut mayoritas riwayat dan sumber Syiah Imamiyah, Imam Hasan al-Askari as lahir pada 8 Rabiul Akhir tahun 232 Hijriah. Sebagian riwayat menyebut Madinah sebagai tempat kelahirannya, sementara sebagian lainnya menyebut Samarra. Namun pendapat yang paling populer di kalangan ulama Imamiyah adalah bahwa beliau lahir pada 8 Rabiul Akhir 232 H.

Ayah beliau adalah Imam Ali al-Hadi as, Imam ke-10 dari Ahlulbait Nabi saw. Sementara ibunya dikenal dengan beberapa nama dalam literatur Syiah, di antaranya Salil, Susan, Sawsan, atau Haditsah. Para ulama dan perawi sepakat menggambarkan beliau sebagai wanita yang sangat salehah, suci, dan memiliki kedudukan spiritual yang tinggi. Imam Ali al-Hadi as bahkan memuji beliau sebagai wanita yang telah disucikan dari berbagai noda dan keburukan.

Kelahiran Imam Hasan al-Askari as membawa kebahagiaan besar bagi keluarga kenabian. Mereka mengetahui bahwa bayi yang lahir ini bukan anak biasa, melainkan penerus Imamah setelah ayahnya. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Imam al-Hadi as telah memberitahukan kepada para sahabat dekatnya mengenai kedudukan putranya tersebut sebagai Imam berikutnya.

Tradisi Kelahiran yang Sarat Makna

Riwayat-riwayat Syiah menyebutkan bahwa setelah kelahiran Imam Hasan al-Askari as, Imam al-Hadi as mengumandangkan azan di telinga kanan beliau dan iqamah di telinga kirinya. Tradisi ini merupakan sunnah Rasulullah saw yang melambangkan bahwa kalimat tauhid dan panggilan menuju salat menjadi suara pertama yang menyambut seorang mukmin ke dunia.

Pada hari ketujuh, Imam al-Hadi as mencukur rambut putranya dan bersedekah kepada kaum fakir sesuai berat rambut tersebut, sebagaimana tradisi yang diwariskan Rasulullah saw kepada Ahlulbaitnya.

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa sejak awal kehidupannya, Imam Hasan al-Askari as tumbuh dalam lingkungan yang seluruh aspek kehidupannya berporos pada penghambaan kepada Allah dan pengabdian kepada agama.

Mengapa Disebut “Al-Askari”?

Nama asli beliau adalah Hasan bin Ali bin Muhammad. Gelar yang paling terkenal adalah al-Askari.

Gelar ini berasal dari kata ‘Askar yang berarti kamp militer atau garnisun. Julukan tersebut diberikan karena beliau bersama ayahnya tinggal di kawasan militer Samarra yang dibangun oleh penguasa Abbasiyah sebagai pusat pasukan mereka. Kota itu berada di bawah pengawasan ketat pemerintah dan menjadi tempat tinggal paksa bagi Imam al-Hadi as dan keluarganya.

Tumbuh di Bawah Bayang-Bayang Kekuasaan

Berbeda dengan banyak tokoh besar yang menikmati masa muda yang bebas, Imam Hasan al-Askari as tumbuh dalam suasana penuh tekanan politik.

Ketika beliau masih kecil, ayahnya dipaksa pindah ke Samarra oleh khalifah Abbasiyah. Sejak saat itu keluarga Imam hidup dalam pengawasan yang hampir tanpa henti. Rumah mereka diawasi, tamu-tamu mereka dicatat, bahkan pergerakan para pengikut Syiah dimonitor secara ketat.

Namun tekanan tersebut tidak menghalangi pendidikan spiritual dan intelektual beliau. Imam Hasan al-Askari as dibesarkan langsung oleh Imam al-Hadi as, seorang Imam maksum yang menjadi pusat ilmu dan hikmah pada zamannya.

Sejak usia muda, kecerdasan dan kedalaman ilmunya telah menarik perhatian para ulama dan sahabat ayahnya. Banyak yang menyaksikan bahwa beliau memiliki ketenangan, kewibawaan, dan kematangan yang jauh melampaui usianya.

Imam ke-11 Umat Islam

Setelah syahadah Imam Ali al-Hadi as pada tahun 254 H, Imam Hasan al-Askari as memegang amanah Imamah pada usia sekitar 22 tahun. Masa Imamah beliau berlangsung selama enam tahun.

Masa ini merupakan salah satu periode paling sensitif dalam sejarah Syiah. Pemerintah Abbasiyah mengetahui berbagai hadis Nabi saw yang menyebutkan bahwa seorang penyelamat akhir zaman akan lahir dari keturunan Imam Hasan al-Askari as. Karena itulah pengawasan terhadap beliau semakin diperketat.

Meski demikian, beliau tetap membimbing umat melalui jaringan wakil dan murid-murid terpercaya. Metode ini kemudian menjadi fondasi bagi komunitas Syiah untuk menghadapi masa ghaibah Imam Mahdi afs.

Akhlak dan Kepribadian

Berbagai riwayat menggambarkan Imam Hasan al-Askari as sebagai pribadi yang berwibawa, tampan, lembut, dan penuh keteduhan. Bahkan sebagian pejabat Abbasiyah yang tidak sejalan dengan beliau tetap mengakui keagungan akhlaknya.

Beliau dikenal sangat dermawan kepada fakir miskin, gemar membantu orang-orang yang kesulitan, dan selalu mengutamakan kemuliaan akhlak dalam menghadapi musuh maupun sahabat.

Salah satu pesan beliau yang terkenal adalah:

“Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi daripada takwa.”

Pesan-pesan beliau menunjukkan bahwa kekuatan sejati seorang mukmin tidak terletak pada kekuasaan, melainkan pada hubungan yang kokoh dengan Allah.

Warisan yang Menghubungkan Umat dengan Imam Mahdi afs

Keistimewaan terbesar Imam Hasan al-Askari as adalah bahwa beliau merupakan ayah dari Imam Muhammad al-Mahdi afs, Imam ke-12 yang saat ini berada dalam masa ghaibah.

Karena itu, kehidupan beliau menjadi jembatan antara era kehadiran para Imam dan era penantian Imam Mahdi afs. Melalui kebijaksanaan beliau, komunitas Syiah dipersiapkan untuk menghadapi masa ketika Imam tidak lagi hadir secara lahiriah di tengah masyarakat. (Al-Islam.org)

Penutup

Kelahiran Imam Hasan al-Askari as adalah kelahiran cahaya yang muncul di tengah gelapnya penindasan politik. Sejak bayi hingga akhir hayatnya, beliau hidup dalam pengawasan penguasa, tetapi tidak pernah kehilangan perannya sebagai pembimbing umat.

Beliau mewariskan ilmu, ketakwaan, kesabaran, dan harapan. Dari rumah sederhana yang diawasi tentara Abbasiyah itu lahirlah seorang Imam yang menjaga agama, dan dari keturunannya lahirlah harapan terbesar umat manusia: Imam Mahdi afs.

Maka setiap kali 8 Rabiul Akhir tiba, kaum mukmin tidak sekadar mengenang hari lahir seorang tokoh sejarah. Mereka merayakan kelahiran seorang hujjah Allah yang menjadi mata rantai penting dalam kelanjutan cahaya Imamah hingga akhir zaman.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT