*Diolah dari kajian Ustadz Muhsin Labib di Youtube
Di tengah dunia yang semakin seragam di bawah arus globalisasi, ada satu pertanyaan yang terus muncul: mengapa Republik Islam Iran tetap bertahan, bahkan setelah puluhan tahun menghadapi sanksi, embargo, sabotase, tekanan politik, perang proksi, dan kampanye propaganda yang tak pernah berhenti?
Banyak orang menjawab dengan cara yang sederhana. Ada yang mengatakan karena minyak. Ada yang menyebut program nuklir. Ada yang mengaitkannya dengan kekuatan militer atau jaringan politik regionalnya. Namun penjelasan-penjelasan itu sering kali gagal memahami sesuatu yang lebih mendasar: Iran bertahan bukan semata karena sumber daya, senjata, atau strategi negara, melainkan karena adanya sebuah keyakinan kolektif yang terus dipelihara lintas generasi.
Sejak Revolusi Islam 1979, Iran berusaha membangun sebuah sistem yang berbeda dari tatanan global yang dominan. Pilihan itu membuatnya harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan besar dunia. Tekanan ekonomi, pembekuan aset, sanksi internasional, operasi intelijen, hingga perang informasi menjadi bagian dari kenyataan yang harus mereka hadapi selama puluhan tahun.
Karena itu, persoalan Iran sesungguhnya tidak pernah sesederhana minyak atau nuklir. Yang dipertaruhkan adalah kemungkinan lahirnya sebuah model alternatif yang menunjukkan bahwa sebuah negara dapat mencoba berdiri di luar orbit hegemoni global. Inilah yang membuat Iran menjadi objek pertarungan geopolitik yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Tentu saja, Iran bukan negara yang sempurna. Tidak semua kebijakan politiknya dapat diterima oleh semua orang. Tidak semua unsur budayanya cocok dengan masyarakat Indonesia. Bahkan banyak aspek kehidupan sosial dan politiknya yang dapat menjadi bahan kritik.
Namun mengagumi Iran tidak harus berarti menyalin Iran.
Sebagaimana bangsa Indonesia tidak kehilangan identitasnya ketika belajar dari Jepang, Turki, atau Korea Selatan, demikian pula ketika melihat Iran. Yang dapat dipelajari bukanlah seluruh bentuk dan ekspresinya, melainkan semangat kemandirian, keberanian mempertahankan kedaulatan, dan kesediaan membayar harga dari sebuah pilihan politik yang independen.
Sebab kemerdekaan yang sejati tidak cukup diwujudkan dalam simbol-simbol seremonial. Kemerdekaan harus hadir dalam kemampuan mengambil keputusan sendiri, menentukan arah bangsa sendiri, dan mempertahankan martabat nasional tanpa tunduk kepada tekanan eksternal.
Namun perjalanan panjang Iran juga menghadapi tantangan dari dalam.
Generasi pertama revolusi adalah generasi yang hidup bersama Imam Ruhullah Khomeini. Mereka mengalami langsung suasana revolusi, pengorbanan, dan perang. Setelah itu muncul generasi perang Iran-Irak yang dibentuk oleh pengalaman mempertahankan negara di tengah ancaman eksistensial.
Kemudian lahirlah generasi rekonstruksi, yang lebih akrab dengan pembangunan ekonomi dan modernisasi. Setelah itu datang generasi digital, generasi media sosial, generasi TikTok, yang tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dibanding generasi pendahulunya.
Perubahan generasi ini membawa tantangan baru.
Anak-anak muda Iran melihat dunia melalui layar yang sama dengan anak muda di Jakarta, London, atau New York. Mereka melihat gaya hidup global, budaya populer, dan berbagai narasi alternatif yang masuk tanpa batas.
Dalam situasi seperti itu, sebagian orang mulai bertanya-tanya: apakah sistem yang dibangun sejak revolusi masih mampu bertahan?
Pertanyaan itu bukan hanya muncul di luar Iran. Bahkan banyak orang yang bersimpati kepada Iran pun pernah merasakan keraguan yang sama.
Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap hukum sebab-akibat. Tidak ada sistem yang dapat bertahan hanya dengan slogan. Semua harus menghadapi ujian zaman.
Karena itu, ketika gelombang tekanan semakin besar, banyak pengamat memperkirakan bahwa Iran suatu saat akan mengalami kelelahan historis dan perlahan kehilangan daya hidupnya.
Namun sesuatu yang tidak terduga justru terjadi.
Peristiwa-peristiwa tragis yang dimaksudkan untuk melemahkan semangat perlawanan justru menghasilkan efek sebaliknya. Setiap pengorbanan melahirkan energi baru. Setiap kehilangan memunculkan solidaritas yang lebih luas.
Di sinilah pentingnya memahami dimensi yang sering diabaikan dalam analisis geopolitik modern: peran memori, simbol, dan pengorbanan.
Dalam tradisi Islam, khususnya dalam warisan Karbala, darah para syuhada tidak dipandang sebagai akhir dari sebuah perjuangan. Sebaliknya, ia sering menjadi awal dari kehidupan baru bagi sebuah gagasan.
Karbala mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan material. Ada kalanya sebuah pengorbanan justru menghidupkan kesadaran yang sebelumnya tertidur.
Fenomena itulah yang berulang kali muncul dalam sejarah Iran modern.
Apa yang tampak sebagai kehilangan, sering kali berubah menjadi sumber konsolidasi. Apa yang tampak sebagai kemunduran, justru melahirkan energi baru untuk bertahan.
Karena itu, banyak orang mulai menyadari bahwa kekuatan Iran tidak dapat dijelaskan hanya dengan statistik ekonomi, jumlah rudal, atau kapasitas industrinya.
Jika kekuatan sebuah negara hanya ditentukan oleh senjata, maka banyak negara yang jauh lebih kaya dan lebih lengkap persenjataannya seharusnya mampu mendominasi tanpa kesulitan. Namun sejarah tidak selalu bekerja seperti itu.
Senjata memang penting.
Ekonomi juga penting.
Teknologi pun penting.
Tetapi semuanya hanyalah alat.
Yang menentukan adalah manusia yang menggunakannya.
Sebuah kendaraan sederhana dapat mencapai tujuan jika dikendalikan oleh pengemudi yang memiliki tekad kuat. Sebaliknya, kendaraan paling canggih pun tidak akan berarti jika kehilangan arah.
Begitu pula dengan negara.
Kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pertama-tama pada apa yang dimilikinya, tetapi pada keyakinan yang menggerakkan masyarakatnya.
Iran sendiri telah lama hidup di bawah embargo dan berbagai keterbatasan. Tekanan ekonomi memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan. Namun di tengah semua kesulitan itu tetap ada sesuatu yang membuat sistem tersebut terus bertahan.
Sesuatu itu adalah keyakinan.
Keyakinan bahwa kemerdekaan memiliki harga.
Keyakinan bahwa kedaulatan tidak diberikan, tetapi diperjuangkan.
Keyakinan bahwa dominasi tidak selalu harus diterima sebagai takdir sejarah.
Di sinilah letak pelajaran yang mungkin paling berharga bagi bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia.
Pelajaran itu bukan tentang menjadi Iran.
Bukan pula tentang mengimpor model politik Iran.
Melainkan tentang memahami bahwa sebuah bangsa memerlukan sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar kepentingan ekonomi jangka pendek.
Bangsa memerlukan cita-cita.
Bangsa memerlukan keberanian.
Bangsa memerlukan kesediaan untuk mempertahankan martabatnya ketika menghadapi tekanan.
Pada akhirnya, daya tahan Iran tidak lahir terutama dari rudal, minyak, atau diplomasi.
Semua itu penting, tetapi bukan fondasinya.
Fondasi yang sesungguhnya adalah hati manusia yang tetap percaya pada sebuah tujuan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dan sejarah berulang kali menunjukkan bahwa ketika sebuah bangsa masih memiliki keyakinan semacam itu, tekanan sebesar apa pun mungkin dapat melukainya, tetapi tidak mudah menghancurkannya.