Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Kenapa Al-Qur’an Berulang Kali Mengungatkan tentang Firaun?

Jika seseorang membaca Al-Qur’an secara menyeluruh, ia akan menemukan satu fakta menarik: tidak ada tokoh manusia yang disebut dan dibahas sedemikian sering sebagaimana Fir’aun. Nama atau gelarnya muncul puluhan kali dalam berbagai surah, sementara kisah Nabi Musa dan Fir’aun menjadi narasi yang paling banyak diulang dalam Al-Qur’an. Para peneliti Al-Qur’an mencatat bahwa kisah Musa dan Fir’aun tersebar dalam ratusan ayat, lebih banyak daripada kisah nabi-nabi lainnya.

Pertanyaannya, mengapa Al-Qur’an begitu sering mengulang kisah ini?

Apakah karena Fir’aun adalah tokoh paling jahat dalam sejarah? Ataukah karena ada pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar catatan sejarah?

Dalam tradisi tafsir Syiah, terutama melalui karya besar Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathabai dalam Al-Mizan, kisah-kisah Al-Qur’an tidak dimaksudkan sebagai sejarah untuk sejarah. Al-Qur’an menggunakan sejarah sebagai sarana pendidikan manusia. Sejarah menjadi cermin agar manusia dapat melihat dirinya sendiri, masyarakatnya, dan arah peradabannya.

Karena itu, Fir’aun bukan sekadar seorang raja Mesir yang hidup ribuan tahun lalu. Fir’aun adalah simbol yang terus hidup dalam setiap zaman.

Fir’aun Adalah Pola, Bukan Sekadar Tokoh

Banyak tokoh zalim pernah hidup dalam sejarah. Namun Al-Qur’an memilih Fir’aun sebagai representasi paling lengkap dari kesombongan manusia.

Fir’aun bukan hanya seorang penguasa yang kejam. Ia adalah manusia yang sampai pada titik menganggap dirinya sumber kebenaran. Ketika kekuasaan mencapai puncaknya, ia berkata kepada rakyatnya, “Aku tidak mengetahui bagi kalian tuhan selain aku.” (QS. Al-Qashash: 38).

Dalam pandangan Al-Qur’an, inilah bentuk tertinggi dari thughyan (melampaui batas). Kejahatan Fir’aun bukan bermula dari pembunuhan atau penindasan, melainkan dari kesombongan eksistensial: keyakinan bahwa dirinya tidak lagi membutuhkan petunjuk Tuhan.

Quran menggambarkan Fir’aun sebagai sosok yang meninggikan diri di muka bumi, memecah masyarakat menjadi kelompok-kelompok yang saling berlawanan, lalu menindas kelompok yang dianggap lemah.

Menariknya, metode ini tetap digunakan oleh banyak rezim hingga hari ini. Politik pecah-belah, manipulasi informasi, kultus individu, dan penghapusan suara kritis merupakan pola yang sangat mirip dengan apa yang dilakukan Fir’aun.

Karena itulah Al-Qur’an tidak membiarkan Fir’aun terkubur dalam museum sejarah. Ia terus dihadirkan sebagai peringatan bagi setiap generasi.

Penyakit Fir’aun Ada Dalam Diri Manusia

Para ulama Ahlulbait mengajarkan bahwa Al-Qur’an memiliki dimensi lahir dan batin. Kisah-kisahnya tidak hanya berbicara tentang tokoh tertentu, tetapi juga tentang kondisi jiwa manusia.

Dari sudut pandang ini, Fir’aun bukan hanya sosok di luar diri kita. Ada “Fir’aun kecil” yang dapat tumbuh dalam setiap jiwa manusia.

Ketika seseorang merasa dirinya paling benar dan menolak nasihat, ketika kekuasaan membuatnya meremehkan orang lain, ketika kekayaan melahirkan kesombongan, ketika ilmu menjadikannya angkuh terhadap kebenaran, maka benih-benih Fir’aun sedang tumbuh dalam dirinya.

Imam Ali a.s. berkali-kali memperingatkan bahaya kesombongan. Dalam Nahj al-Balaghah, beliau menggambarkan kesombongan sebagai penyakit yang menghancurkan manusia dan menjauhkannya dari keadilan. Penguasa zalim menjadi contoh paling jelas dari karakter yang telah dikuasai oleh penyakit ini.

Karena itu, ketika Al-Qur’an berbicara tentang Fir’aun, sesungguhnya Al-Qur’an sedang mengajak manusia melakukan introspeksi.

Pertanyaan pentingnya bukan lagi: “Siapa Fir’aun?”

Melainkan: “Apakah ada sifat Fir’aun dalam diriku?”

Mengapa Musa Selalu Hadir Bersama Fir’aun?

Menarik bahwa Al-Qur’an hampir tidak pernah membahas Fir’aun tanpa Musa.

Ini menunjukkan sebuah hukum sejarah yang penting: setiap Fir’aun pasti berhadapan dengan Musa.

Dalam tafsir para ulama Syiah, pertarungan Musa dan Fir’aun bukan sekadar konflik antara dua individu. Ia adalah pertarungan abadi antara kebenaran dan kesombongan, antara wahyu dan kekuasaan, antara keadilan dan penindasan.

Fir’aun memiliki tentara, istana, propaganda, dan kekuatan ekonomi.

Musa hanya membawa wahyu.

Namun Al-Qur’an berulang kali menunjukkan bahwa legitimasi moral pada akhirnya lebih kuat daripada dominasi politik.

Inilah sebabnya mengapa Al-Qur’an tidak memusatkan perhatian pada pembangunan piramida, luas wilayah Mesir, atau kekuatan militernya. Semua itu telah hilang. Yang tersisa hanyalah pelajaran moral.

Musa dikenang sebagai pembawa kebenaran.

Fir’aun dikenang sebagai simbol keangkuhan.

Fir’aun dan Pelajaran tentang Kekuasaan

Dalam literatur Syiah, kekuasaan bukan tujuan, melainkan amanah.

Surat Imam Ali a.s. kepada Malik al-Asytar yang sangat terkenal menegaskan bahwa pemerintahan harus dibangun di atas keadilan, perlindungan terhadap kaum lemah, dan tanggung jawab di hadapan Allah. Penguasa yang menjadikan rakyat sebagai alat kepentingan pribadi sedang bergerak menuju model Fir’aun, bukan model para nabi dan imam.

Karena itu, kisah Fir’aun menjadi standar moral bagi seluruh penguasa sepanjang sejarah.

Al-Qur’an seolah ingin mengatakan bahwa ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukanlah kemegahan bangunannya, melainkan bagaimana ia memperlakukan manusia.

Fir’aun gagal bukan karena kurang kuat.

Ia gagal karena kehilangan keadilan.

Mengapa Tubuh Fir’aun Diselamatkan?

Salah satu bagian paling menarik dalam kisah Fir’aun adalah ketika Allah menyatakan bahwa jasadnya akan diselamatkan agar menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya.

Pesan ini sangat mendalam.

Biasanya manusia berusaha mengabadikan dirinya melalui monumen, istana, atau pencapaian politik. Namun Fir’aun justru diabadikan sebagai peringatan.

Tubuhnya menjadi bukti bahwa tidak ada kekuasaan yang kebal terhadap hukum Tuhan.

Sejarah berkali-kali memperlihatkan hal yang sama. Imperium besar muncul dan runtuh. Penguasa yang merasa dirinya tak tergantikan akhirnya lenyap dari panggung sejarah.

Yang bertahan bukanlah kekuasaan.

Yang bertahan adalah nilai.

Fir’aun Akan Selalu Ada

Al-Qur’an mengulang kisah Fir’aun karena penyakit yang diwakilinya juga terus berulang.

Setiap zaman memiliki Fir’aunnya sendiri.

Kadang ia hadir dalam bentuk seorang penguasa. Kadang dalam bentuk sistem yang menindas. Kadang dalam bentuk budaya yang memuja kekuasaan dan materi. Bahkan kadang ia bersembunyi dalam ego manusia yang paling pribadi.

Karena itu, kisah Fir’aun bukan kisah masa lalu.

Ia adalah cermin yang terus diletakkan Al-Qur’an di hadapan umat manusia.

Setiap kali kita membacanya, Al-Qur’an sedang mengajukan pertanyaan yang sama:

Apakah kita berada di jalan Musa atau di jalan Fir’aun?

Dan selama kesombongan, ketidakadilan, serta penyalahgunaan kekuasaan masih ada di muka bumi, selama itu pula kisah Fir’aun akan tetap relevan.

Bukan untuk dikenang sebagai sejarah.

Melainkan untuk dikenali sebagai ancaman yang selalu mungkin lahir kembali dalam kehidupan manusia.

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.