Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Memahami Fungsi Doa dalam Pemikiran Murtadha Muthahhari

Ada kebiasaan yang sangat umum dalam memahami doa: kita datang kepada Tuhan ketika membutuhkan sesuatu. Ketika sakit, kita berdoa untuk kesembuhan. Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, kita memohon rezeki. Ketika memiliki persoalan, kita meminta jalan keluar. Ketika menginginkan sesuatu, kita berharap Tuhan mengabulkannya.

Semua itu tentu bagian dari doa. Namun, jika doa hanya dipahami sebagai sarana untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari doa yang luput dari perhatian.

Dalam pemikiran Murtadha Muthahhari, ibadah—termasuk doa dan salat—tidak sekadar berhubungan dengan permintaan manusia kepada Tuhan. Ibadah merupakan bagian dari program pendidikan manusia. Ia dirancang untuk membentuk karakter, mengendalikan ego, membangun kesadaran moral, dan membawa manusia menuju kesempurnaan spiritual. Gagasan ini terlihat sangat jelas dalam Spiritual Discourses, terutama pembahasan Muthahhari dalam bukunya “Worship and Prayer I” dan “Worship and Prayer II”.

Dengan demikian, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya, “Apa yang saya dapatkan setelah berdoa?”, tetapi juga, “Menjadi manusia seperti apa saya setelah berdoa?”

Doa dan Pengakuan atas Keterbatasan Manusia

Manusia modern sering dibentuk oleh keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dikendalikan. Dengan ilmu pengetahuan, teknologi, kekayaan, jaringan sosial, dan kekuasaan, manusia merasa semakin mampu menentukan hidupnya sendiri.

Tetapi pada titik tertentu manusia selalu berhadapan dengan batas.

Ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan uang. Ada kehilangan yang tidak dapat diganti dengan harta. Ada ketidakpastian tentang masa depan yang tidak dapat diselesaikan dengan kalkulasi. Bahkan manusia yang paling kuat sekalipun tidak memiliki kendali penuh atas kehidupannya.

Di sinilah doa memiliki makna yang sangat mendasar.

Doa membuat manusia menyadari bahwa dirinya bukan pusat dari seluruh realitas.

Kesadaran ini bukan penghinaan terhadap manusia. Justru sebaliknya. Bagi Muthahhari, manusia menjadi lebih manusiawi ketika ia mengetahui kedudukannya di hadapan Tuhan.

Dalam Man and Faith, Muthahhari membahas hubungan manusia dengan iman serta perbedaan manusia dari makhluk lainnya. Iman bukan sekadar penambahan pengetahuan ke dalam pikiran, melainkan sesuatu yang memberikan arah bagi kehidupan manusia. Karena itu, hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari bagaimana manusia memahami dirinya sendiri.

Doa, dalam pengertian ini, adalah pengakuan eksistensial: Aku bukan segala-galanya.

Dan justru dari pengakuan itu manusia dapat menemukan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

Doa Bukan Pelarian dari Kenyataan

Ada kesalahpahaman lain yang tidak kalah penting. Sebagian orang menganggap doa sebagai bentuk pelarian dari kenyataan. Ketika seseorang tidak mampu menghadapi persoalan, ia dianggap hanya berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Muthahhari justru memberikan gambaran yang berlawanan.

Dalam Spiritual Discourses, ia mengkritik dua kecenderungan ekstrem. Di satu sisi ada orang yang tenggelam dalam ibadah tetapi mengabaikan persoalan sosial. Di sisi lain ada orang yang terlalu sibuk dengan persoalan sosial sehingga mengabaikan ibadah. Menurutnya, Islam tidak menerima pemisahan semacam itu. Hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama harus berjalan bersama.

Karena itu, doa bukan alasan untuk berhenti bekerja.

Doa justru seharusnya memberi manusia kekuatan untuk bekerja dengan orientasi yang benar.

Seseorang berdoa sebelum bekerja, lalu bekerja. Ia berdoa ketika menghadapi kesulitan, tetapi tetap mencari jalan keluar. Ia memohon pertolongan Tuhan, tetapi tidak menjadikan doa sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.

Doa yang benar bukan pengganti ikhtiar. Doa memberi arah spiritual kepada ikhtiar.

Doa sebagai Pendidikan Jiwa

Di sinilah gagasan Muthahhari menjadi sangat menarik.

Dalam “Worship and Prayer II”, ia menjelaskan bahwa ibadah dalam Islam merupakan bagian dari program pendidikan manusia. Ibadah bertujuan mendidik manusia secara moral dan sosial sekaligus membantu manusia mendekat kepada Tuhan dan mencapai kesempurnaan sejatinya. Salah satu fungsi penting ibadah adalah membantu manusia melepaskan keterikatan berlebihan kepada ego dan kepentingan dirinya sendiri.

Maka, doa sesungguhnya adalah latihan untuk keluar dari penjara ego.

Ketika manusia hanya berpikir tentang dirinya, dunia menjadi sangat sempit. Segala sesuatu diukur berdasarkan pertanyaan: Apa yang saya dapatkan? Apa yang menguntungkan saya? Apa yang saya inginkan?

Tetapi ketika seseorang berdiri di hadapan Tuhan, mengangkat tangan dan memohon, pusat perhatian itu mulai bergeser.

Ia mulai belajar mengatakan: Bukan hanya apa yang aku inginkan, tetapi apa yang benar.

Perubahan kecil dalam orientasi ini sangat penting.

Sebab penyakit manusia sering kali bukan karena ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi karena ia menjadikan keinginannya sebagai ukuran kebenaran.

Salat dan Doa Membebaskan Manusia dari Selain Tuhan

Dalam “Worship and Prayer II”, Muthahhari juga menjelaskan makna spiritual dari ungkapan Allahu Akbar. Ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa Tuhan lebih besar daripada segala sesuatu, maka berbagai kekuatan dunia tidak lagi memiliki ukuran yang sama di dalam jiwanya.

Di sini terdapat sebuah paradoks spiritual.

Manusia menjadi hamba Tuhan justru agar tidak menjadi hamba selain Tuhan.

Ia tunduk kepada Allah agar tidak tunduk kepada keserakahan. Ia bersujud kepada Tuhan agar tidak bersujud kepada kekuasaan. Ia mengingat kebesaran Allah agar tidak membesar-besarkan manusia, harta, status, atau kepentingan dirinya sendiri.

Karena itu, doa bukan hanya tindakan meminta.

Doa adalah latihan kebebasan.

Orang yang tidak memiliki hubungan dengan Tuhan dapat menjadi budak dari banyak hal: uang, reputasi, jabatan, pujian, ketakutan, bahkan pendapat orang lain.

Tetapi ketika Tuhan menjadi pusat orientasi hidup, manusia memperoleh jarak dari semua itu.

Gagasan tersebut juga berhubungan dengan tema besar Muthahhari mengenai manusia sempurna dalam The Perfect Man. Buku tersebut membahas realitas spiritual manusia dan bagaimana manusia mencapai kesempurnaan. Dalam kerangka itu, kesempurnaan bukan sekadar kemampuan intelektual atau keberhasilan material, melainkan perkembangan dimensi spiritual manusia secara utuh.

Dari “Aku” Menuju “Kita”

Menariknya, fungsi doa menurut Muthahhari juga memiliki dimensi sosial.

Dalam salat, manusia tidak hanya berhadapan dengan Tuhan sebagai individu yang terisolasi. Bahkan bahasa yang digunakan dalam Al-Fatihah mengandung dimensi kolektif: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in—“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Bukan sekadar “aku”.

Tetapi kami.

Muthahhari melihat dimensi ini sebagai salah satu pendidikan sosial dalam ibadah. Dalam salat, manusia diarahkan untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia belajar bahwa kehidupan spiritual tidak boleh memutus hubungan dengan manusia lain.

Karena itu, doa yang benar semestinya membuat seseorang lebih peduli kepada sesama, bukan semakin egoistis.

Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semestinya semakin kuat pula kesadarannya terhadap keadilan, tanggung jawab, dan hak orang lain.

Doa yang Mengubah Manusia

Barangkali di sinilah kita dapat memahami fungsi doa secara lebih mendalam.

Kita sering mengukur keberhasilan doa dengan satu ukuran: apakah permintaan saya dikabulkan?

Muthahhari mengajak kita melihat persoalan yang lebih fundamental: apa yang terjadi pada diri kita melalui ibadah itu sendiri?

Apakah kita menjadi lebih sabar?

Lebih rendah hati?

Lebih mampu mengendalikan kemarahan?

Lebih bebas dari ketergantungan terhadap manusia?

Lebih berani menghadapi kesulitan?

Lebih peduli terhadap orang lain?

Jika iya, maka doa telah melakukan sesuatu yang sangat besar, bahkan sebelum kita melihat perubahan pada keadaan di luar diri kita.

Sebab bisa jadi persoalan terbesar bukanlah dunia yang belum berubah, melainkan diri kita yang belum berubah.

Dan bisa jadi, ketika kita berdoa meminta Tuhan mengubah keadaan, Tuhan justru terlebih dahulu sedang mengubah orang yang berdoa.

Doa sebagai Jalan Menuju Tuhan

Dalam Spiritual Discourses, Muthahhari menempatkan ibadah sebagai jalan menuju kedekatan dengan Tuhan sekaligus sarana mencapai kesempurnaan manusia. Ia menolak pemisahan antara spiritualitas dan kehidupan sosial. Bagi Muthahhari, manusia yang benar-benar dibentuk oleh ibadah seharusnya bukan manusia yang melarikan diri dari dunia, melainkan manusia yang lebih matang ketika kembali ke dunia.

Di sinilah doa memperoleh maknanya yang sesungguhnya.

Kita memang meminta rezeki, kesehatan, keselamatan, ampunan dan pertolongan. Tetapi di balik semua permintaan itu terdapat proses yang lebih dalam: manusia sedang belajar melepaskan kesombongan bahwa ia dapat menguasai segala sesuatu seorang diri.

Ia belajar bergantung kepada Tuhan tanpa menjadi manusia pasif.

Ia belajar berusaha tanpa menjadi sombong.

Ia belajar menerima tanpa kehilangan harapan.

Ia belajar meminta tanpa menjadikan keinginannya sebagai pusat kehidupan.

Dan pada akhirnya, doa mungkin bukan terutama tentang bagaimana membuat Tuhan mengikuti keinginan kita.

Doa adalah proses ketika kita belajar menata keinginan kita di hadapan Tuhan.

Mungkin karena itulah doa tidak selalu mengubah keadaan seketika.

Tetapi doa yang sungguh-sungguh dapat mengubah cara manusia menghadapi keadaan.

Dan ketika manusia berubah, cara ia melihat dunia pun berubah.

Barangkali di situlah salah satu rahasia terbesar doa: kita datang kepada Tuhan dengan membawa persoalan, tetapi sering kali kita pulang dengan membawa diri yang berbeda.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT