Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Antara Tulus dalam Keburukan dan Pamrih dalam Kebaikan

Kehendak meraih keuntungan di dunia berupa ketenangan, keamanan, kenyamanan, kemakmuran, penghormatan dan sebagainya di balik setiap perbuatan buruk kepada sesama adalah indikator tiadanya kepercayaan tentang kerugian (dosa dan siksa) di akhirat.

Kehendak menghindari kerugian di dunia berupa kecemasan, ketidakamanan, kesengsaraan, kemiskinan, pengabaian dan sebagainya di balik setiap perbuatan buruk kepada sesama adalah indikator lemahnya kepercayaan tentang keuntungan di akhirat.

Baca: Tak Ada Jalan Meraih Tujuan Selain Tunaikan Tugas dan Kewajiban

Kehendak meraih keuntungan di dunia berupa ketenangan, keamanan, kenyamanan, kemakmuran, penghormatan dan sebagainya di balik setiap perbuatan baik kepada sesama adalah indikator tiadanya kepercayaan tentang keuntungan di akhirat.

Lemahnya kepercayaan tentang keuntungan di akhirat adalah akibat lemahnya kepercayaan tentang kepastian kehidupan rohani setelah kehidupan jasmani.

Tiadanya kepercayaan tentang keuntungan di akhirat adalah akibat tiadanya kepercayaan tentang kepastian kehidupan rohani setelah kehidupan jasmani.

Baca: Fanatisme yang Terpuji dan Tercela

Lemahnya kepercayaan tentang kepastian kehidupan rohani setelah kehidupan jasmani adalah akibat niscaya dari lemahnya kepercayaan tentang adanya Tuhan.

Lemahnya kepercayaan yang dikuatkan dengan pengetahuan akan Tuhan berujung dengan lenyapnya kepercayaan. Itulah tiadanya kepercayaan.

Tiadanya kepercayaan tentang kepastian kehidupan rohani setelah kehidupan jasmani adalah akibat niscaya dari tiadanya kepercayaan tentang adanya Tuhan.

Baca: Cara Simpel Muhasabah Diri ala Ahlulbait Nabi

Perbuatan buruk yang tulus dan perbuatan baik yang tak tulus nyaris sederajat.

Kesiapan menerima risiko adalah buah ketulusan. Ketulusan adalah buah kepercayaan akan keberadaan Tuhan. Itulah ketakwaan.


No comments

LEAVE A COMMENT