Hari itu, Imam Ali bin Abi Thalib a.s. mendapati istrinya, Sayidah Fathimah az-Zahra a.s., telah meninggalkan ranjang dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pemandangan itu mengejutkannya. Dalam keadaan yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, Fathimah justru sibuk membersihkan diri dan menyiapkan pakaian anak-anaknya. Ketika Imam Ali menanyakan apa yang sedang dilakukannya, Fathimah menjawab dengan kata-kata yang menyimpan kesedihan mendalam.
“Inilah hari terakhir hidupku. Aku ingin mencuci rambut dan pakaian anak-anakku, sebab mereka akan segera menjadi piatu, tanpa seorang ibu.”
Jawaban itu membuat Imam Ali bertanya dari mana Fathimah mengetahui bahwa ajalnya telah dekat. Fathimah menjelaskan bahwa ia telah melihat Rasulullah saw. dalam mimpi. Dalam perjumpaan tersebut, sang ayah menyampaikan bahwa malam itu ia akan kembali bergabung dengannya. Menyadari bahwa perpisahan semakin dekat, Fathimah kemudian meminta Imam Ali untuk mendengarkan wasiat-wasiatnya.
“Perintahkan aku mengerjakan apa pun yang engkau inginkan, wahai putri Rasulullah,” jawab Imam Ali.
Fathimah pun memulai wasiatnya dengan mengingatkan hubungan yang selama ini mereka jalani. “Sepupuku, engkau tahu bahwa aku bukanlah seorang pendusta atau pengkhianat. Sejak menjadi pasanganmu, aku juga tidak pernah membangkang terhadapmu.”
Imam Ali segera menanggapi perkataan itu. Ia menegaskan bahwa Fathimah adalah perempuan yang mengenal Allah, setia, salehah, terhormat, dan bertakwa. Tidak ada alasan baginya untuk mencela atau menyalahkan sang istri. Namun, pengakuan tersebut tidak mengurangi kesedihan yang sedang menyelimutinya.
Baginya, kehilangan Fathimah berarti menghadapi kembali luka yang belum sembuh akibat wafatnya Rasulullah saw. Dengan suara penuh kepedihan, Imam Ali mengungkapkan betapa berat perpisahan itu. Ia menyadari bahwa ajal merupakan ketetapan yang tidak dapat dihindari, tetapi kesadaran tersebut tidak membuat kehilangan terasa lebih ringan.
“Demi Allah, engkau telah membangkitkan kembali duka yang baru saja kuhadapi dengan wafatnya Rasulullah. Ajal dan kepergianmu akan menjadi petaka besar. Kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Betapa pedih, getir, dan nelangsanya petaka ini. Inilah petaka yang tiada pelipurnya dan bencana yang tiada penukarnya.”
Keduanya kemudian menangis. Imam Ali mendekap kepala Fathimah, lalu kembali menegaskan kesediaannya memenuhi segala permintaan sang istri. Ia berjanji akan tetap setia, melaksanakan seluruh wasiatnya, dan mendahulukan urusan Fathimah daripada kepentingannya sendiri.
Fathimah menyambut kesediaan itu dengan doa agar Allah membalasnya dengan kebaikan. Wasiat pertamanya berkaitan dengan kehidupan anak-anak mereka setelah kepergiannya. Ia meminta Imam Ali menikahi sepupunya, Umamah, yang diharapkan dapat memperlakukan anak-anak mereka sebagaimana dirinya. Fathimah juga mengingatkan bahwa seorang laki-laki tidak dapat menjalani seluruh urusannya tanpa seorang istri.
Namun, wasiat Fathimah tidak hanya menyangkut keluarga. Ada permintaan lain yang memperlihatkan kedalaman luka yang dibawanya menjelang akhir hayat. Ia meminta agar orang-orang yang telah berlaku tidak adil kepadanya tidak menyaksikan pemakamannya. Mereka, menurutnya, adalah musuh-musuhnya sekaligus musuh Rasulullah saw. Ia juga tidak menghendaki mereka dan para pengikutnya menyalatkan jenazahnya.
Fathimah meminta agar pemakamannya dilaksanakan pada malam hari, ketika orang-orang beristirahat dan pandangan mata terpejam. Permintaan tersebut menjadi bagian penting dari kisah akhir kehidupannya, sekaligus memperlihatkan bahwa perpisahan itu tidak dapat dilepaskan dari konflik yang menyertainya setelah wafat sang ayah.
Dalam ulasannya mengenai pidato Imam Ali setelah pemakaman Fathimah, pensyarah Nahjul Balaghah menggambarkan betapa menyedihkannya perlakuan yang diterima putri Nabi setelah kepergian beliau. Meskipun Fathimah hanya hidup beberapa bulan setelah wafatnya Rasulullah, masa singkat itu dipenuhi kisah duka dan ratapan.
Salah satu peristiwa yang disorot adalah perebutan kekuasaan di Saqifah Bani Sa’idah, bahkan sebelum prosesi pemakaman Rasulullah saw. dilaksanakan. Menurut ulasan tersebut, kesibukan sebagian orang dalam urusan kekuasaan telah melukai hati Fathimah yang masih berduka. Mereka yang sebelumnya mengaku mencintai dan setia kepada Nabi justru disibukkan oleh perebutan kekuasaan, hingga disebut tidak mengetahui kapan jenazah beliau dimandikan dan dikebumikan, apalagi memberikan penghiburan kepada putri beliau.
Waktu perpisahan itu akhirnya tiba. Fathimah binti Muhammad bersiap menghadap Tuhannya. Ia mandi, kemudian berbaring dengan mengenakan jubahnya. Sebelum itu, ia meminta Asma’ binti Umais menunggu sejenak dan memanggil namanya. Jika tidak ada jawaban, Asma’ diminta memahami bahwa dirinya telah berangkat menuju Allah.
Setelah menunggu, Asma’ memanggil Fathimah. Tidak ada sahutan. Ia mengulang panggilannya dengan ungkapan penuh cinta: “Wahai putri Muhammad yang terpilih, wahai putri orang yang paling terhormat di antara mereka yang dikandung kaum perempuan. Wahai putri orang terbaik yang melangkah di atas kerikil. Wahai putri orang yang jaraknya sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat.”
Rumah itu tetap sunyi. Asma’ mendekat dan mendapati Fathimah telah tiada.
Tak lama kemudian, Imam Hasan dan Imam Husain a.s. memasuki rumah. Keduanya mencari ibu mereka dan bertanya kepada Asma’ di mana Fathimah berada. Asma’ tidak mampu menjawab. Ketika mereka mendekati sang ibu dan mengetahui bahwa ia telah meninggal dunia, Imam Husain berkata kepada saudaranya, “Semoga Allah menghiburmu atas berpulangnya ibunda.”
Imam Ali saat itu berada di masjid. Hasan dan Husain segera menyampaikan kabar duka tersebut kepada ayah mereka. Mendengar berita itu, Imam Ali jatuh pingsan. Setelah siuman, ia melontarkan pertanyaan yang menggambarkan kehampaan hatinya: “Siapakah yang akan menghiburku kini, wahai putri Muhammad? Engkau biasa menghiburku. Siapakah yang akan menggantikanmu kini?”
Kaum perempuan Bani Hasyim kemudian dikumpulkan untuk menerima kabar duka itu. Luka kehilangan Rasulullah saw. belum mengering, tetapi keluarga beliau kembali harus menghadapi perpisahan yang menyayat hati. Madinah pun berduka. Orang-orang berdatangan untuk menyampaikan penghiburan kepada Imam Ali dan anak-anaknya.
Kepada anak-anak Zahra, seolah hanya doa yang dapat disampaikan: semoga Allah menghibur kalian. Belum lama kalian kehilangan ayah yang agung, Nabi Allah, kini kalian kembali ditimpa petaka yang tidak kalah beratnya. Bersabarlah, sebab semuanya berlangsung dalam ketetapan Allah Yang Mahaagung.
Dikutip dari buku Fathimah Buah Cinta Rasulullah: Sosok Sempurna Wanita Surga, karya Abu Muhammad Ordoni.