Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)

Dari berbagai riwayat atau hadis yang telah lalu dapat dimengerti bahwa kesabaran dalam ketaatan lebih utama daripada kesabaran dalam menghadapi musibah, sedangkan kesabaran dalam menjauhi maksiat lebih utama daripada kesabaran dalam ketaatan. Kesabaran dalam ketaatan jelas lebih utama daripada kesabaran dalam menghadapi musibah yang bersifat materi semisal kehilangan harta atau anggota keluarga.

Adapun kesabaran dalam ketaatan maksudnya ialah kesabaran dalam menjalankan kewajiban, sedangkan kesabaran dalam meninggalkan maksiat maksudnya ialah kesabaran dalam melawan hawa nafsu dan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan yang diharamkan. Kesabaran yang kedua ini jelas lebih berat daripada yang pertama, karena itu kesabaran yang kedua lebih utama daripada kesabaran yang pertama. Namun, jika kita mengabaikan kategorisasi ini maka kesabaran dalam ketaatan sama saja dengan kesabaran dalam menjauhi maksiat, sebab ketidak taatan sama saja dengan maksiat, dan meninggalkan maksiatpun sama saja dengan patuh dan taat.

Sebagian orang berpendapat bahwa sabar dalam taat lebih utama atas sabar dalam meninggalkan maksiat dengan alasan bahwa orang yang sabar dalam meninggalkan maksiat hatinya masih terusik oleh godaan untuk berbuat maksiat, sedangkan orang yang taat terjaga dari godaan ini sehingga kedudukan orang kedua lebih utama daripada orang pertama, apalagi jika orang kedua terus bersabar dalam mempertahankan kepatuhan, menjaganya dari kekurangan, dan melakukannya tepat waktu. [1]

Pendapat ini dapat disangsikan karena orang yang bersabar dalam taatpun hatinya masih dapat terusik oleh godaan untuk meninggalkan kepatuhan. Bahkan banyak orang yang patuh menunaikan kewajiban tapi rentan berbuat sesuatu yang haram dan terlarang, sedangkan orang yang sabar dan konsisten meninggalkan sesuatu yang haram banyak yang konsisten menjalankan kewajiban.

Mengenai kesabaran ini juga terdapat anggapan yang tidak tepat dari kalangan di luar jalur Ahlul Bait as, yaitu bahwa kesabaran merupakan keutamaan bagi kalangan umum, tapi tidak demikian bagi kalangan khusus. Alasannya, kalangan khusus berada di ranah cinta, sedang pecinta justru menikmati siksa yang berasal dari kekasihnya sehingga tidak ada derita yang menjadi obyek kesabaran. Dengan demikian maka kesabaran berkontradiksi dengan kecintaan. Tentang ini ada syair sufi yang mengatakan, misalnya;

أُريد وصاله ويريد هجري    فأترك ما أُريد لما يريد

“Aku ingin mencapainya, tapi dia ingin meninggalkan aku, maka aku meninggalkan kehendakku demi kehendaknya.”

Alasan lain ialah kesabaran merupakan sesuatu yang munkar di jalur tauhid, karena orang yang bersabar pasti merasa dirinya kuat dan tangguh, padahal semua kekuatan adalah milik Allah semata. Tauhid menuntut kefanaan diri sehingga menolak kesabaran, sebab mengafirmasi diri di jalur tauhid merupakan kemungkaran yang terburuk. [2]

Anggapan demikian terjadi karena menolak “eksistensi yang bergantung” (wujud ta’alluqi) serta mengabaikan esensialitas derita fisik bagi manusia ketika mendapatkan musibah di satu sisi, dan tidak berkontradiksi dengan kenikmatan ruhani atas kemampuan mematuhi perintah Allah di sisi lain.

Bukan tempatnya untuk membahas masalah ini secara filosofis, tapi paling tidak anggapan demikian terlalu jauh dalam menakwilkan al-Quran, atau seolah patut bagi penganutnya untuk merasa lebih tinggi kedudukannya daripada para nabi Ulil Azmi. Sebab, sabar juga merupakan sifat para nabi Ulil Azmi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT;

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ…

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar …”[3]

Demikian pula Nabi Ya’qub as yang meskipun bukan tergolong nabi Ulil Azmi namun kesabarannya juga telah diabadikan dalam Al-Quran ketika kehilangan putera tercintanya, Yusuf as.  Allah SWT berfirman:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ.

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan.”[4]

Dengan demikian, gugurlah anggapan bahwa kesabaran tak mungkin bertemu dengan  kecintaan. Pertemuan antara sabar dan cinta bahkan juga dapat terlihat dalam contah manusia biasa yang justru tenggelam dan larut dalam cinta kepada dirinya. Yaitu ketika dia meminum obat yang pahit. Dia bersedia mengenyam rasa pahit demi kecintaan akan dirinya sehingga berharap sembuh dari obat yang diminumnya.

(Selesai)

[1] Lihat Manazil al-Sa’irin, al-Tilmasani, bagi Akhlaq, hal. 222.

[2] Lihat Manazil al-Sa’irin, Bagian al-Ahkhkaq, syarah oleh al-Kasyani, hal, 86, dan disyarahi pula oleh al-Tilmasani, hal. 220.

[3] QS. Al-Ahqaf [46]: 35.

[4] QS. Yusuf [12]: 18.

Post Tags
Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT