Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Keteraniayaan Jasad Imam Hasan setelah Kesyahidannya

Salah satu kejahatan Muawiyah  dalam sejarah yang tak bisa diampuni adalah membunuh cucu yang sangat dicintai oleh Rasulullah, Imam Hasan. Muawiyah, dengan sikap liciknya, secara rahasia merencanakan tindakan kejahatan ini. Muawiyah mendorong Ju’dah, istri Imam Hasan, dan bahkan memprovokasi putri Asy’ats bin Qais untuk membunuh suaminya. Saat Madinah diserbu selama peristiwa Harra pada tahun 63 H, rumah Ju’dah juga menjadi sasaran perampokan. Namun, karena bersekongkol dengan pembunuh suaminya, seluruh harta yang sebelumnya telah dirampok kembali.

Riwayat yang mencatat kematian Imam Hasan sebagai hasil persekongkolan antara Ju’dah dan Muawiyah terdokumentasi dalam banyak sumber. Salah satu kejahatan yang paling mencolok, yang diungkapkan oleh Haitsam bin Adi, adalah upaya meracuni Imam Hasan oleh seorang anak perempuan bernama Suhail bin Amr atas dorongan Muawiyah. Racun tersebut membuat Imam Hasan terbaring sakit di tempat tidur selama empat puluh hari sebelum akhirnya mengalami kematian.

Anak perempuan Miswar, yang bernama Ummu Bakr, mengatakan, “Imam Hasan telah diracuni berkali-kali oleh orang lain. Pada kesempatan sebelumnya, dia selamat. Namun, pada percobaan terakhir, racunnya begitu mematikan hingga potongan-potongan jantungnya keluar dari mulutnya.”

Setelah Imam Hasan syahid, awalnya ada keinginan untuk menguburkannya di samping makam Nabi Saw, sesuai dengan wasiat terakhirnya. Namun, salah satu dari Ummul Mukminin dan Marwan (yang berkuasa di Madinah saat itu) melarang hal ini. Imam Hasan telah memberikan petunjuk bahwa jika mereka mengalami kesulitan, lebih baik baginya untuk dimakamkan di Baqi.

Baca: Surat Menyurat antara Imam Hasan bin Ali a.s. dengan Muawiyah

Sekali lagi, salah satu dari Ummul Mukminin menunjukkan betapa ia sangat iri dan membenci Fatimah az-Zahra as. dan putranya. Ketika jenazah Imam Hasan dibawa ke makam Nabi saw, ia bahkan mengeluarkan peringatan, “Tindakan seperti ini sama sekali tidak boleh diizinkan.”

Baik Abu Said al-Khudri maupun Abu Hurairah pernah mengatakan kepada Marwan, “Apakah Anda melarang pemakaman Hasan di samping makam kakeknya, padahal Rasul sering menyebut Hasan sebagai penghulu pemuda surga?”

“Jika orang-orang seperti Anda, tidak meriwayatkan hadis-hadis Nabi, maka mereka akan segera binasa,” kata Marwan dengan nada merendahkan.

Muhammad bin Hanafiah menceritakan bahwa ketika Imam Hasan tewas, seluruh Madinah berkabung, dan semua orang menangis. Marwan sendiri yang memberitahu Muawiyah, dengan berkata, “Mereka berencana menguburkan Hasan di samping makam Nabi, tetapi selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah membiarkannya terjadi.”

Imam Husain kemudian datang ke makam Nabi dan meminta untuk dibuatkan liang lahat di samping makam Nabi. Said bin Ash, yang menjadi gubernur Madinah saat itu, tidak menghalangi permintaan ini, namun Marwan memerintahkan Bani Umayah untuk bersiap-siap.

“Mustahil bagi Anda untuk melakukan hal ini,” kata Marwan.

“Ini bukan urusan Anda. Anda bukanlah gubernur Madinah,” jawab Imam Husain.

“Betul, tapi selama aku masih hidup, tak akan pernah aku biarkan Anda melakukan ini,” kata Marwan.

Imam Husain minta tolong kepada Hilf al-Fudhu (perjanjian yang dibuat pada zaman pra-Islam untuk menjamin keselamatan para peziarah), yang selalu mendukung Bani Hasyim. Sejumlah orang dari suku Taim, Zuhra, Asad, dan Jauba kemudian mengangkat senjata. Imam Husain dan Marwan, yang membawa bendera, saling menyerang. Namun, sejumlah orang meminta Imam untuk menghormati keinginan atau wasiat Imam Hasan, yang menginginkan pemakamannya di sebelah makam ibunya di Baqi’. Akhirnya, mereka berhasil meyakinkan Imam Husain.

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Marwan pada saat itu sudah dipecat, dan tindakannya ini dimaksudkan untuk mendapatkan perhatian dari Muawiyah. Ketika Marwan merasa cukup kuat untuk mengubah pikiran Imam Husain, dia memberikan laporan kepada Muawiyah dengan bahasa yang sombong dan mencoba mempermalukan Imam Husain.

Marwan berkata, “Bagaimana mungkin kita membiarkan putra dari pembunuh Usman dikuburkan di sebelah makam Nabi, sementara Usman dikubur di Baqi?”

Baca: Perjuangan Imam Hasan al-Mujtaba dalam Catatan Emas Tinta Sejarah

Tidak diragukan lagi, Marwan adalah salah satu tokoh Bani Umayah yang sangat negatif, dan selama menjabat sebagai gubernur Madinah, ia terus-menerus mengutuk Imam Ali dan Bani Hasyim.

Setelah kematian Imam Hasan, Bani Hasyim mengutus beberapa orang untuk menyampaikan berita ini kepada Anshar di berbagai tempat di Madinah dan daerah sekitarnya. Para wanita Bani Hasyim meratapi kepergian Imam sepanjang hari selama sebulan. Thabari mencatat bahwa masyarakat Madinah menutup toko-toko mereka selama tujuh hari sebagai tanda berkabung atas kematian Imam Hasan. Orang-orang juga berduyun-duyun menghadiri pemakaman Imam.

Di Basrah, berita tentang kematian Imam Hasan menyebabkan Muslim Syiah di sana merasa berduka. Setelah kematian Imam Hasan, warga Muslim Syiah di Kufah mengirim surat penghiburan kepada Imam Husain. Mereka menganggap kematian Imam sebagai tragedi bagi umat, khususnya bagi Syiah. Surat ini mencerminkan eksistensi Syiah sekitar tahun 50 H dan penggunaan kata “Syiah” pada saat itu. Mereka merujuk pada Imam Hasan dengan gelar “Alamul Huda wa Nurul Bilad,” yang berarti seseorang yang diharapkan akan menegakkan agama dan memulihkan moralitas yang benar. Mereka juga berharap Allah akan mengembalikan hak Imam Husain yang telah dicuri. Surat ini adalah salah satu dokumen yang menunjukkan bahwa pada saat itu, konsep imamah dan ideologi Syiah sudah ada.

*Disarikan dari buku Sejarah Para Pemimpin – Rasul Jakfarian

No comments

LEAVE A COMMENT