Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Krisis Terbesar Manusia Bukan Kemiskinan

Kajian Murtadha Muthahhari tentang Kehampaan Makna dan Kehilangan Tujuan Hidup

Di mata banyak orang, kemiskinan dianggap sebagai masalah terbesar yang dihadapi manusia. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa sumber utama penderitaan adalah kekurangan harta, lemahnya ekonomi, atau keterbatasan fasilitas hidup. Namun, jika kita menengok lebih dalam kepada realitas manusia modern, kita menemukan sebuah paradoks yang menarik. Banyak masyarakat yang hidup dalam kemakmuran justru mengalami kecemasan, depresi, kesepian, dan kehilangan arah hidup. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana tetapi memiliki ketenangan, harapan, dan kebahagiaan yang mendalam.

Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan manusia tidak sesederhana urusan ekonomi. Ada sesuatu yang lebih mendasar daripada kebutuhan materi. Ada kelaparan yang tidak dapat dipuaskan oleh makanan, ada dahaga yang tidak dapat dihilangkan oleh minuman, dan ada kekosongan yang tidak dapat diisi oleh kekayaan. Kekosongan itu adalah krisis makna.

Dalam pandangan Syahid Murtadha Muthahhari, salah satu tragedi terbesar manusia modern bukanlah kemiskinan material, melainkan kehilangan tujuan hidup dan keterputusan dari sumber makna yang sejati.

Manusia Bukan Sekadar Makhluk Ekonomi

Muthahhari menolak pandangan yang mereduksi manusia menjadi makhluk ekonomi semata. Dalam berbagai karyanya seperti Man and Faith, Perfect Man, dan Spiritual Discourses, ia menjelaskan bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada kebutuhan jasmani.

Menurutnya, manusia terdiri dari tubuh dan ruh. Tubuh membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan material lainnya. Namun ruh memiliki kebutuhan yang berbeda. Ruh membutuhkan makna, cinta, kebenaran, keadilan, keindahan, dan hubungan dengan Tuhan.

Jika tubuh diberi makan tetapi ruh dibiarkan lapar, manusia tetap akan menderita.

Muthahhari menulis bahwa manusia memiliki kecenderungan fitri menuju kesempurnaan yang tak terbatas. Karena itu, ketika seluruh hidup diarahkan hanya untuk mengejar kenikmatan dunia, manusia akan merasakan kehampaan yang tidak dapat dijelaskan oleh logika materialistik.

Inilah sebabnya mengapa kemajuan teknologi tidak otomatis menghasilkan kebahagiaan.

Paradoks Manusia Modern

Peradaban modern berhasil menaklukkan banyak persoalan fisik. Manusia dapat bepergian melintasi benua dalam hitungan jam. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Berbagai penyakit dapat diobati dengan teknologi kedokteran yang canggih.

Namun pada saat yang sama, dunia menyaksikan meningkatnya gangguan kesehatan mental, kesepian, penyalahgunaan narkoba, dan krisis identitas.

Muthahhari melihat fenomena ini sebagai akibat dari ketidakseimbangan pembangunan manusia. Peradaban modern sangat berhasil mengembangkan dimensi material, tetapi gagal memenuhi kebutuhan spiritual manusia.

Manusia modern mengetahui cara hidup lebih lama, tetapi tidak selalu mengetahui untuk apa ia hidup.

Ia memiliki lebih banyak sarana, tetapi kehilangan tujuan.

Ia mampu menguasai dunia luar, tetapi gagal mengenali dunia batinnya sendiri.

Dalam kondisi seperti ini, kemiskinan bukan lagi satu-satunya ancaman. Kehampaan makna justru menjadi penyakit yang lebih berbahaya karena menyerang pusat eksistensi manusia.

Ketika Dunia Menjadi Tujuan Akhir

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir kehidupan manusia. Dunia adalah tempat perjalanan, bukan tempat menetap.

Allah berfirman:

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Ayat ini tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia. Islam tidak memusuhi kemajuan, kekayaan, ataupun pembangunan. Yang diperingatkan adalah menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi kehidupan.

Ketika manusia menganggap harta sebagai sumber kebahagiaan mutlak, ia akan terus merasa kurang.

Ketika jabatan dijadikan tujuan hidup, ia akan hidup dalam ketakutan kehilangan kekuasaan.

Ketika popularitas menjadi ukuran keberhasilan, ia akan selalu haus akan pengakuan orang lain.

Muthahhari menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terbatas tidak akan pernah mampu memuaskan jiwa manusia yang pada hakikatnya merindukan Yang Tak Terbatas, yaitu Allah SWT.

Kehilangan Makna Melahirkan Keputusasaan

Salah satu dampak paling berbahaya dari kehilangan makna adalah munculnya keputusasaan.

Seseorang yang kehilangan tujuan hidup akan sulit menemukan alasan untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan. Masalah yang sebenarnya kecil dapat terasa sangat berat karena ia tidak lagi mengetahui untuk apa perjuangannya dilakukan.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki tujuan yang luhur mampu bertahan menghadapi penderitaan yang besar.

Sejarah para nabi dan manusia-manusia suci menunjukkan hal itu.

Nabi Ibrahim rela menghadapi api.

Nabi Musa menghadapi Fir’aun.

Rasulullah saw menghadapi berbagai tekanan dan penganiayaan.

Imam Husain a.s. berdiri teguh di Karbala meskipun mengetahui risiko yang akan dihadapi.

Apa yang membuat mereka mampu bertahan?

Bukan kekuatan materi.

Bukan kekuasaan politik.

Melainkan keyakinan bahwa hidup memiliki makna yang melampaui dunia.

Mereka mengetahui untuk apa mereka hidup dan untuk siapa mereka berjuang.

Pelajaran dari Karbala

Muthahhari dalam karya monumentalnya Hamaseh-ye Husaini menjelaskan bahwa Karbala adalah salah satu manifestasi paling agung dari kemenangan makna atas materi.

Secara lahiriah, Imam Husain a.s. kehilangan hampir segalanya. Keluarganya syahid, para sahabatnya gugur, dan dirinya sendiri dibunuh secara tragis.

Namun sejarah justru mengingat Karbala sebagai kemenangan.

Mengapa?

Karena kemenangan sejati tidak selalu diukur oleh kekuasaan atau kelangsungan hidup fisik. Kemenangan sejati adalah kesetiaan kepada kebenaran.

Karbala menunjukkan bahwa manusia yang memiliki makna hidup mampu mengalahkan ketakutan terbesar sekalipun, yaitu kematian.

Sebaliknya, mereka yang hidup hanya untuk mempertahankan dunia sering kali menjadi budak ketakutan dan kepentingan pribadi.

Iman sebagai Jawaban atas Krisis Makna

Bagi Muthahhari, iman bukan sekadar ritual atau identitas keagamaan. Iman adalah fondasi makna kehidupan.

Iman menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang tidak mampu dijawab oleh materi:

Dari mana manusia berasal?

Untuk apa ia hidup?

Ke mana ia akan pergi setelah mati?

Apa makna penderitaan?

Apa tujuan keadilan?

Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, manusia akan hidup dalam kebingungan eksistensial.

Iman menghubungkan manusia dengan sumber keberadaan yang absolut. Melalui iman, setiap peristiwa memperoleh makna. Kesulitan menjadi ujian. Keberhasilan menjadi amanah. Kehidupan menjadi perjalanan menuju kesempurnaan.

Karena itu, iman bukan pelarian dari realitas, tetapi cara memahami realitas secara lebih utuh.

Membangun Kembali Makna Hidup

Di tengah dunia yang semakin materialistik, tantangan terbesar manusia bukan hanya mencari nafkah, melainkan menjaga arah hidupnya.

Kita membutuhkan pekerjaan, tetapi kita juga membutuhkan tujuan.

Kita membutuhkan rumah, tetapi kita juga membutuhkan ketenangan.

Kita membutuhkan kemajuan, tetapi kita juga membutuhkan hikmah.

Kita membutuhkan teknologi, tetapi kita juga membutuhkan cahaya spiritual.

Muthahhari mengingatkan bahwa manusia tidak akan pernah menemukan ketenteraman sejati selama ia mencari yang tak terbatas pada hal-hal yang terbatas.

Harta dapat memenuhi kebutuhan tubuh, tetapi tidak dapat mengenyangkan ruh.

Popularitas dapat memuaskan ego sesaat, tetapi tidak dapat memberikan kedamaian abadi.

Hanya hubungan dengan Allah yang mampu mengisi ruang terdalam dalam jiwa manusia.

Karena itu, krisis terbesar manusia bukanlah kemiskinan. Kemiskinan memang dapat menyulitkan kehidupan, tetapi kehilangan makna dapat menghancurkan kehidupan itu sendiri.

Ketika manusia menemukan kembali tujuan penciptaannya, memahami mengapa ia hidup, dan menyadari bahwa seluruh perjalanan hidupnya menuju Allah, maka bahkan dalam kesederhanaan ia dapat menemukan kebahagiaan. Sebaliknya, tanpa makna, kemewahan sekalipun sering kali hanya menjadi penjara yang dihiasi gemerlap dunia.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT