Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Mengapa Manusia Membutuhkan Wahyu?

Di zaman modern, pertanyaan tentang kebutuhan manusia terhadap wahyu kembali mengemuka. Kemajuan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, dan semakin besarnya kemampuan manusia menguasai alam membuat sebagian orang merasa bahwa agama tidak lagi memiliki peran yang penting. Jika manusia dapat menjelaskan fenomena alam melalui sains, membangun sistem politik melalui akal, dan menyelesaikan persoalan kehidupan dengan teknologi, lalu untuk apa wahyu masih diperlukan?

Pertanyaan ini sesungguhnya bukan persoalan baru. Dalam tradisi intelektual Islam, para filsuf dan ulama telah lama mendiskusikan hubungan antara akal dan wahyu. Di antara tokoh yang memberikan penjelasan mendalam mengenai masalah ini adalah Syahid Murtadha Muthahhari dan Allamah Muhammad Husain Thabathabai. Keduanya menolak anggapan bahwa wahyu hadir karena akal manusia lemah atau tidak berguna. Sebaliknya, mereka menempatkan akal pada posisi yang sangat tinggi, namun pada saat yang sama menunjukkan bahwa akal memiliki batas-batas tertentu yang membuat wahyu menjadi sebuah kebutuhan yang tak tergantikan. Akal adalah karunia besar, tetapi bukan tanpa batas

Muthahhari berulang kali menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang sangat menghormati akal. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling banyak mengajak manusia untuk berpikir. Kata-kata seperti afala ta’qilun (tidakkah kalian berpikir), afala tatafakkarun (tidakkah kalian merenung), dan berbagai bentuk seruan intelektual lainnya tersebar di seluruh Al-Qur’an.

Melalui akal, manusia mampu memahami hukum-hukum alam. Akal memungkinkan manusia menciptakan peradaban, membangun ilmu pengetahuan, menemukan obat-obatan, dan menghasilkan berbagai kemajuan yang memudahkan kehidupan. Tanpa akal, manusia tidak akan berbeda jauh dari makhluk lainnya.

Namun penghargaan Islam terhadap akal tidak berarti bahwa akal bersifat absolut. Menurut Muthahhari, mengakui kebesaran akal tidak sama dengan menganggapnya mahakuasa. Akal tetap merupakan kemampuan yang dimiliki makhluk yang terbatas. Ia bekerja berdasarkan pengalaman, informasi, dan kemampuan analisis yang juga terbatas.

Karena itu, menghormati akal justru berarti memahami batas-batasnya.

Pertanyaan terbesar manusia tidak dapat dijawab sepenuhnya oleh akal

Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa akal sangat efektif dalam menjawab pertanyaan tentang “bagaimana”. Akan tetapi, akal sering kali kesulitan menjawab pertanyaan tentang “mengapa”.

Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan bagaimana hujan turun. Fisika dapat menjelaskan bagaimana planet bergerak. Biologi dapat menjelaskan bagaimana tubuh manusia bekerja.

Namun pertanyaan yang lebih mendasar tetap muncul.

Mengapa manusia ada?

Apa tujuan kehidupan?

Apa makna penderitaan?

Apakah kehidupan berakhir dengan kematian?

Apa dasar objektif bagi kebaikan dan kejahatan?

Mengapa manusia harus berlaku adil?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak dapat dijawab hanya melalui eksperimen laboratorium. Mikroskop tidak dapat menemukan makna hidup. Teleskop tidak dapat menunjukkan tujuan keberadaan manusia. Rumus matematika tidak mampu menjelaskan mengapa manusia harus berbuat baik.

Sepanjang sejarah, para filsuf menghasilkan berbagai jawaban yang berbeda-beda terhadap persoalan tersebut. Sebagian menjadikan kenikmatan sebagai tujuan hidup. Sebagian menjadikan kekuasaan sebagai tujuan. Sebagian lagi menjadikan kebebasan sebagai nilai tertinggi.

Perbedaan yang begitu besar ini menunjukkan bahwa akal manusia, meskipun sangat penting, tidak selalu mampu mencapai kesimpulan yang sama mengenai tujuan akhir kehidupan.

Di sinilah wahyu hadir sebagai petunjuk yang berasal dari sumber pengetahuan yang melampaui keterbatasan manusia.

Masalah Manusia Bukan Hanya Kebodohan

Salah satu gagasan menarik dari Muthahhari adalah bahwa problem utama manusia bukan semata-mata kurangnya pengetahuan.

Banyak orang mengetahui apa yang benar tetapi tetap melakukan kesalahan.

Hampir semua orang memahami bahwa korupsi merugikan masyarakat. Namun korupsi tetap terjadi.

Banyak orang sadar bahwa kebohongan adalah perbuatan buruk. Namun mereka tetap berbohong.

Banyak orang mengetahui pentingnya keadilan. Namun ketidakadilan terus berlangsung.

Jika pengetahuan saja sudah cukup, seharusnya manusia tidak melakukan berbagai pelanggaran tersebut.

Fakta bahwa manusia tetap melakukan kesalahan meskipun mengetahui kebenaran menunjukkan adanya faktor lain dalam diri manusia, yaitu hawa nafsu, kepentingan pribadi, egoisme, keserakahan, dan berbagai kecenderungan negatif lainnya.

Dalam konteks ini, wahyu tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan spiritual. Wahyu membentuk hati manusia, membangkitkan kesadaran moral, dan menghubungkan tindakan manusia dengan tanggung jawab di hadapan Tuhan.

Karena itu para nabi tidak hanya mengajarkan pengetahuan. Mereka juga membangun karakter.

Kemajuan ilmu tidak otomatis menghasilkan kemajuan moral

Peradaban modern memberikan contoh yang sangat jelas mengenai keterbatasan ilmu pengetahuan.

Manusia berhasil menciptakan teknologi komunikasi yang luar biasa. Dalam hitungan detik seseorang dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia yang berbeda.

Manusia berhasil mengembangkan kecerdasan buatan, teknologi medis, dan berbagai inovasi yang sebelumnya dianggap mustahil.

Namun pada saat yang sama, perang, ketidakadilan, eksploitasi ekonomi, kerusakan lingkungan, dan berbagai bentuk penindasan tetap berlangsung.

Mengapa?

Karena ilmu pengetahuan memberikan kemampuan, tetapi tidak menentukan arah penggunaan kemampuan tersebut.

Pisau yang sama dapat digunakan untuk memasak atau membunuh.

Teknologi yang sama dapat digunakan untuk pendidikan atau propaganda.

Energi nuklir yang sama dapat digunakan untuk menerangi kota atau menghancurkan jutaan manusia.

Menurut Muthahhari, ilmu adalah alat. Yang menentukan tujuan penggunaan alat tersebut adalah sistem nilai. Dan sistem nilai yang benar membutuhkan petunjuk wahyu.

Ilmu menjawab apa yang bisa dilakukan manusia.

Wahyu menjawab apa yang seharusnya dilakukan manusia.

Wahyu sebagai Bentuk Kasih Sayang Tuhan

Dalam pandangan Thabathabai, keberadaan wahyu merupakan manifestasi rahmat Ilahi.

Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan tertentu. Karena itu Tuhan juga menyediakan petunjuk agar manusia dapat mencapai tujuan tersebut.

Bayangkan seseorang diberi kendaraan yang sangat canggih tetapi tidak diberi peta atau petunjuk arah. Kemungkinan besar ia akan tersesat.

Demikian pula manusia. Ia memiliki akal, kehendak, dan berbagai kemampuan luar biasa. Namun tanpa petunjuk yang benar, kemampuan tersebut dapat mengantarkannya kepada kesesatan.

Wahyu hadir untuk menjelaskan jalan yang harus ditempuh manusia menuju kesempurnaan dirinya.

Dalam kerangka ini, pengutusan para nabi bukanlah bentuk pembatasan kebebasan manusia. Justru sebaliknya, wahyu membantu manusia menggunakan kebebasannya secara benar.

Tanpa petunjuk, kebebasan dapat berubah menjadi sumber kehancuran.

Dengan petunjuk, kebebasan menjadi sarana menuju kesempurnaan.

Nabi sebagai Kebutuhan Peradaban Manusia

Muthahhari juga menjelaskan bahwa kehidupan manusia tidak hanya bersifat individual tetapi juga sosial.

Setiap masyarakat membutuhkan nilai-nilai bersama yang menjadi dasar keadilan dan ketertiban.

Jika seluruh nilai diserahkan sepenuhnya kepada selera manusia, maka tidak ada standar yang benar-benar tetap. Apa yang dianggap baik hari ini dapat dianggap buruk besok. Apa yang dianggap benar di satu tempat dapat dianggap salah di tempat lain.

Akibatnya, masyarakat kehilangan fondasi moral yang kokoh.

Para nabi datang membawa prinsip-prinsip yang melampaui kepentingan kelompok, ras, bangsa, maupun kelas sosial tertentu. Mereka menghadirkan ukuran moral yang tidak bergantung pada selera manusia yang berubah-ubah.

Karena itulah para nabi menjadi kebutuhan bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi peradaban.

Akal dan Wahyu Saling Melengkapi

Kesalahan yang sering terjadi adalah mempertentangkan akal dengan wahyu.

Padahal menurut Muthahhari dan Thabathabai, keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah.

Akal adalah hujjah batin, sementara wahyu adalah hujjah lahir.

Akal membantu manusia memahami wahyu. Wahyu membantu akal menemukan arah yang benar.

Tanpa akal, seseorang dapat terjatuh pada fanatisme buta.

Tanpa wahyu, seseorang dapat terjebak dalam relativisme dan kebingungan moral.

Islam tidak menghendaki manusia meninggalkan akal demi agama. Islam juga tidak menghendaki manusia meninggalkan wahyu demi akal. Yang dikehendaki adalah sinergi keduanya.

Penutup

Bagi Murtadha Muthahhari dan Allamah Thabathabai, kebutuhan manusia terhadap wahyu bukan muncul karena akal tidak berharga, melainkan karena akal memiliki batas-batas tertentu. Akal mampu memahami banyak hal tentang dunia, tetapi tidak mampu secara mandiri menjawab seluruh pertanyaan tentang tujuan hidup, makna keberadaan, dan arah moral manusia.

Lebih dari itu, masalah manusia bukan hanya ketidaktahuan, tetapi juga kecenderungan untuk mengikuti hawa nafsu. Karena itu manusia membutuhkan petunjuk yang tidak hanya menerangi pikirannya, tetapi juga membimbing hatinya.

Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, kebutuhan terhadap wahyu justru tidak berkurang. Semakin besar kekuatan yang dimiliki manusia, semakin besar pula kebutuhan akan petunjuk yang mampu mengarahkan kekuatan tersebut kepada kebaikan. Ilmu memberi manusia kemampuan untuk mengubah dunia, tetapi wahyu mengajarkan untuk apa dunia itu diubah dan ke arah mana perubahan itu harus diarahkan.

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.