Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Melacak Sufi dan Arif Sejati (3)

Melacak, Sufi, Arif, Sejati, Teman

3. Kecenderungan mengelabui orang lain, terutama kaum awam. Kitab Ruh Mujarrad menyebutkan beberapa contoh antara lain kisah pria di Irak yang menaiki angkutan umum bersama lima orang temannya dari Karbala menuju Kazimiyah. Saat tiba di tujuan, pria itu hendak membayar upah untuk lima orang. (Baca Sebelumnya: Melacak Sufi dan Arif Sejati -2)

Pengemudi lantas memrotes karena jumlah mereka enam orang, dan pria itu tetap bersikukuh bahwa jumlah mereka lima orang. Singkatnya, pria itu ternyata tidak menghitung dirinya karena dia merasa “fana”, tenggelam di alam tauhid, dan tak mendeteksi eksistensi dirinya karena “melebur” dengan Allah, namun akhirnya tetap membayar upah yang genap untuk enam orang tapi bukan karena pengakuan atas kebenaran jumlah enam orang, melainkan demi menuruti saran teman-temannya.

sufismKlaim tak sadar diri dan kefanaan itu jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan karena di saat yang sama ternyata dia masih dapat menghitung teman-temannya. 

Penutup

Tidak semua orang yang mengklaim dan disebut sebagai salik, penghayat irfan ataupun tasawwuf dapat dipertanggungjawabkan kelurusannya. Ada sebagian di antara mereka yang terlampau muluk dan bahkan bernuansa khurafat. (Baca: Kemukjizatan Sabda Nabi saw)

Syariat yang diajarkan oleh Islampun juga bukan tuntutan yang hanya bersentuhan dengan aspek lahiriah dan permukaan. Karena itu Imam Ali bin Abi Thalib as berkata;

وَكم مِنْ صَائِم لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلاَّ الجُوعُ والظّمأ، وَكَم مِنْ قَائِم لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إلاَّ السَّهَرُ والعَنَاءُ.

“Betapa banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya itu kecuali lapar dan haus. Dan betapa banyak orang mendirikan shalat malam tapi tidak memperoleh apapun dari shalat malamnya kecuali keterjagaan di malam hari dan keletihan.”[1]

Shalat, puasa, dan amal ibadah lainnya yang diajarkan dalam syariat memang sah jika dilakukan sesuai dengan ketentuan fikih, tapi dimensi dan tujuan semua ibadah itu tidak berhenti di permukaan dan performanya saja. Sebaliknya, pada ibadah juga terdapat dimensi spirit. Keduanya adalah ibarat kulit dan isi yang semuanya menjadi satu kesatuan yang utuh. (Baca: Makna Kawan Menurut Imam Ali a.s.)

Pada dimensi permukaan ibadah terdapat cahaya, namun dimensi kedalamannya jauh lebih bercahaya dan cemerlang. Sayangnya, meskipun dimensi kedalaman itu jauh lebih bercahaya, banyak orang justru berhenti pada dimensi permukaan dan gagal menangkap benderang cahaya dimensi kedalaman akibat kerabunan mata hati. Allah SWT berfirman;

فَإِنَّهَا لاَ تَعْمَى الاْبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ.

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.[2]

Spirit agama memiliki dua aspek;

Pertama, aspek irfani dan ruhani, atau katakanlah aspek kecintaan kepada Allah dan antusiasme untuk memperoleh keridhaan Allah yang nilainya jauh lebih besar daripada surga. Pada aspek ini seorang Muslim dapat meluangkan banyak waktunya untuk bercengkrama dengan Allah dalam bentuk ibadah ritual, zikir, doa dan munajat. (Baca: Nasihat Imam Ja’far Shadiq as. tentang Berzikir)

Kedua, aspek keumatan dan responsibilitas Islam terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar  sehingga agama ini menjadi agama yang paripurna karena tak hanya menuntun manusia menuju kebahagiaan di akhirat, tapi juga ketentraman dan kesejahteraan hidup di dunia.

Seseorang bisa jadi tampak tekun beribadah dan menjalankan syariat, tapi terpaling dari hakikat responsibilitas Islam terhadap kehidupan sosial, yaitu hakikat yang seandainya umat Islam berkomitmen penuh kepadanya niscaya mereka akan menjadi para pemuka nan makmur dan sejahtera di muka bumi, sebagaimana disinggung dalam firman Allah SWT;

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الاْرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ.

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”

Dua aspek inilah yang harus sama-sama diperhatikan. Jangan sampai aspek keruhanian yang membuat seseorang menyandang atribut salik menjebaknya ke dalam tempurung yang mengasingkannya dari kewajiban mengolah ladang kehidupan untuk kemakmuran negara, bangsa dan umat. Demikian pula, jangan sampai aspek keumatan yang membuat seseorang menyandang atribut aktivis dan politisi, misalnya, mengasikannya dari kenikmatan tenggelam dalam samudera ruhani dalam ritual ibadah. Jika dua aspek dalam tujuan dan dimensi spirit agama ini terpelihara secara seimbang maka itulah pertanda arif dan sufi sejati.[*] (mz)

[1] Nahj al-Balaghah, Hikmah 145.

[2] QS. al-Hajj [22]: 46.

Baca Fikih Quest 60: Taqlid kepada Marja’ dan Ikut Tarekat

No comments

LEAVE A COMMENT