Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Muharram: Parade Kepala Suci dan Para Tawanan Keluarga Imam Husein


Sebagian orang sedang mencoba untuk mendustakan tragedi Karbala dan sisi kejahatan tiada tara dari kelompok yang mengaku sebagai umat Rasulullah Saw terhadap cucu beliau, al-Husein a.s. Padahal dalam literatur sejarah dapat dengan mudah kita temukan informasi terkait fakta-fakta tersebut bila kita mau meluangkan waktu meski sekadarnya saja.

Lebih dari itu, tragedi Karbala terbilang lebih dekat dengan masa kita ketimbang soal masa lahirnya Rasulullah Saw di tahun Gajah, yang tiada seorang pun memungkirinya. Seluruh ulama kaum Muslimin sepakat menganggap tragedi Karbala seperti mutawatirnya peristiwa al-Husein menunggangi pundak Rasulullah Saw saat beliau sedang sujud.

Demikian pula halnya terkait peristiwa usai tragedi Karbala, saat kepala suci itu diarak dari satu kota ke kota lainnya. Para penulis sejarah kawakan lintas abad telah mencatatkan ke dalam karya-karya abadi mereka tentang peristiwa yang memilukan ini.

Baca: Dua Wajah Muharram

Baladzuri (w. 279 H) meriwayatkan, “Mereka berkata, Ibnu Ziyad mengangkat kepala al-Husein di Kufah. Dia memerintahkan agar diarak keliling. Kemudian dia memanggil Zahr bin Qays al-Ju’fi agar membawa serta kepala al-Husein, para sahabat dan keluarganya bersamanya kepada Yazid bin Muawiyah.”[1]

Ibnu Sa’ad (168 – 230 H) meriwayatkan dari as-Sya’bi, “Kepala al-Husein adalah kepala pertama yang diarak dalam Islam.”[2]

Ibnu Katsir (701 – 774 H), murid Ibnu Taimiyah (661 – 728 H) berkata, “Kemudian (Ibn Ziyad) memerintahkan agar kepala al-Husein diarak keliling pelosok Kufah. Kemudian Zahr bin Qays membawa serta pula kepala-kepala para sahabat al-Husein kepada Yazid bin Muawiyah di Syam. Zahr bin Qays bersama sekelompok pasukan berkuda, seperti Abu Burdah bin Auf al-Azdi dan Tariq bin Abu Zabyan al-Azdi. Mereka berangkat sehingga menyerahkan kepala-kepala itu kepada Yazid bin Muawiyah.”[3]

Parade Kepala dan Tawanan atas Perintah Yazid

Parade kepala suci Imam Husein a.s. bersama para tawanan Karbala yang terdiri dari kaum perempuan keluarganya juga disampaikan oleh para sejarahwan sebagai perintah Yazid kepada Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad.

At-Thabari (224 – 310 H) meriwayatkan, “Datanglah surat yang memerintahkan agar mengirimkan para tawanan kepada Yazid.” Lalu Ubaidillah bin Ziyad menyerukan Muhaffiz bin Tsa’labah dan Syimr bin Dzil Jausyan seraya berkata, “Giringlah tawanan dan kepala ini kepada Amirul Mukminin, Yazid bin Muawiyah.”

Baca: Jalinan Ruh Suci Imam Husein a.s. dengan Allah Kekasihnya Lewat Lantunan Doa

Lalu mereka berangkat sehingga menyerahkannya kepada Yazid. Muhaffiz bin Tsa’labah berseru dengan nada tinggi, “Kami datang membawa kepala orang paling pandir dan paling keji.”

Lalu Yazid berkata, “Ibu Muhaffiz tidak melahirkan orang terkeji dan terbodoh, tetapi ia seorang perampok yang jahat.”

Ketika Yazid melihat kepala al-Husein, dia bersyair, “Para lelaki mulia telah memenuhi hasrat kami, mereka dulu orang paling durhaka dan jahat.”[4]

Ibnu Sa’ad meriwayatkan, “Utusan Yazid bin Muawiyah datang membawa perintah kepada Ubaidillah agar mengirimkan rombongan tawanan al-Husein yang tersisa dari keluarganya dan kaum perempuan, dan Abu Kholid membekali mereka sepuluh ribu dirham.”[5]

Hal yang cukup menarik ialah apa yang ditulis oleh seorang ulama yang disegani di kalangan kelompok salaf, Ibnu al-Jauzi (510 – 597 H). Beliau adalah seorang ahli fikih, teolog dan ahli hadis dari mazhab Hambali.

Ibnu al-Jauzi menulis karya berjudul “Bantahan untuk Seorang Fanatik Akut yang Melarang dari Mencela Yazid.” Buku ini adalah respons Ibnu al-Jauzi terhadap tulisan Syekh Abd al-Mughits al-Hanbali yang menulis “Keutamaan Yazid”.

Di antara yang disampaikan oleh Ibnu al-Jauzi dalam buku tersebut ialah tentang perintah Yazid agar kepala suci Imam Husein a.s. dibawa dari Kufah kepadanya di Damaskus.

Baca: Komitmen Para Sahabat Imam Husein a.s. di Malam Asyura

Ibnu al-Jauzi berkata, “Utusan Yazid datang dan memerintahkan Ubaidullah bin Ziyad agar mengirimkan kepadanya rombongan al-Husein dan keluarganya yang tersisa.”[6]

Kedatangan Kepala Suci Imam Husein a.s. kepada Yazid

Yazid berbahagia atas syahidnya Imam Husein a.s. dan tercermin pada saat kedatangan kepala suci itu kepadanya.

Ibnu al-Jauzi menukil riwayat dalam bukunya itu, “Kepala al-Husein bin Ali tiba, lalu diletakkan di hadapan Yazid bin Muawiyah, lalu dia bersyair,

Andai para datukku (yang wafat) di Badar menyaksikan.

yang membuat takut Khazraj dan terperosok belukar

lalu mereka tampil berteriak riang

kemudian mereka berkata kepadaku kau telah menang.[7]

Lain halnya dengan Ibnu Katsir yang mengetengahkan syair Yazid lainnya,

Kami telah membunuh si lemah dari orang-orang mulia kalian

kami telah membalas kekalahan di Badar dan menjadi impas[8]

Bagaimanakah mungkin Yazid yang demikian itu dapat disebut sebagai seorang Muslim? Seorang yang menyimpan dendam kekalahan masa lalu kakeknya, Abu Sufyan, di Badar, lalu berkedok sebagai khalifah Islam?

Ibnu Sa’ad meriwayatkan, “Muhaffiz bin Tsa’labah al-‘Aidzi menyerahkan kepala al-Husein kepada Yazid seraya berkata, ‘Aku datang kepadamu, hai Amirul Mukminin, membawa kepala orang terbodoh dan terkeji.'”

Yazid menjawab, “Ibu Muhaffiz tidak melahirkan seorang terpandir dan terkeji, tetapi seorang yang tidak dapat membaca kitabullah,

تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وتُذِلُّ مَن تَشَاء

Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. (Q.S. Alu ‘Imran [3]:26)

Kemudian Yazid sambil menyodorkan bambu ke antara dua bibir al-Husein bersyair, “Para lelaki mulia telah memenuhi hasrat kami, mereka dulu orang paling durhaka dan jahat.” Ini merupakan syair Hushain bin Humam al-Murri.

Salah seorang lelaki dari Anshar yang hadir di sana berkata, “Jauhkanlah tongkatmu itu! Sebab aku pernah menyaksikan Rasulullah menciumi bagian itu!”

Riwayat lain menyebutkan bahwa ketika Yazid bin Muawiyah menerima kepala al-Husein bin Ali, dia pukulkan tongkatnya ke giginya (kepala al-Husein) seraya berkata, “Aku tidak menyangka Abu Abdillah telah mencapai usia ini.”

Baca: Hujjah Kebangkitan Imam Husein Melawan Kezaliman Yazid dan Bani Umayah

Periwayat itu berkata, “Janggut dan kepalanya telah berlumuran darah yang hitam.”[9]

Baladzuri meriwayatkan, “Mereka mengatakan bahwa Yazid memukulkan tongkatnya ke gigi al-Husein yang pecah saat kepala itu dihadapkan ke hadapannya.”[10]

Lantas, di manakah Islam dan di manakah Yazid yang tiada memiliki kehormatan terhadap dirinya sendiri dan terhadap al-Husein, kinasih Rasulullah Saw?

Bukankah Rasulullah Saw bersabda, “Husein dariku dan aku dari Husein”?

Sebagai penutup adalah syair Yazid yang dinukil oleh at-Thabari berikut ini:

Hasyim dipenuhi hasrat cinta pada kekuasaan padahal

tiada kabar langit yang datang dan wahyu yang turun[11]

Kemudian, adakah salahnya memperingati tragedi Karbala setiap tahun, setiap hari bahkan setiap saat sementara referensi Islam penuh dengan catatan kelam dan memi(a)lukan? Atau haruskah membuang seluruh catatan sejarah itu agar tidak lagi perlu diperingati oleh umat Islam?

[1] Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, j. 3, h. 415

[2] Ibnu Sa’ad, at-Thabaqāt al-Kubrā, j. 6, h. 446 no. 1374

[3] Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, j. 8, h. 153 peristiwa tahun 61 H

[4] at-Thabari, Tārīkh at-Thabari, j. 3, h. 340

[5] Ibnu Sa’ad, at-Thabaqāt al-Kubrā, j. 6, h. 447

[6] Ibnu al-Jauzi, ar-Radd ‘alā al-Muta’asshib al-‘Anīd al-Māni’ min Dzamm Yazīd, h. 45

[7] Ibnu al-Jauzi, ar-Radd ‘alā al-Muta’asshib al-‘Anīd al-Māni’ min Dzamm Yazī犀利士
d, h. 47-48

[8] Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, j. 8, h. 153-154

[9] Ibnu Sa’ad, at-Thabaqāt al-Kubrā, j. 6, h. 447-448

[10] Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, j. 3, h. 416

[11] Tārīkh at-Thabari, j. 5, h. 623


No comments

LEAVE A COMMENT