Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Para Pelaku Kebajikan yang Dicintai Allah

oleh: Syekh Muhsin Qiraati

ٱلَّذِینَ یُنفِقُونَ فِی ٱلسَّرَّاۤءِ وَٱلضَّرَّاۤءِ وَٱلۡكَـٰظِمِینَ ٱلۡغَیۡظَ وَٱلۡعَافِینَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِینَ
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu senang maupun susah, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (Q.S. Āl ‘Imrān [3]:134)

Pada ayat 130 di surah yang sama, Allah Swt melarang orang-orang beriman dari memakan riba. Sementara pada ayat 134 ini, Allah Swt memberikan sanjungan yang agung kepada orang-orang yang menafkahkan hartanya, menahan amarahnya, dan pemberi maaf sebagai para pelaku kebajikan.

Baca: Pesan Moral Tragedi Asyura: Peran Cemburu dalam Menjaga Fitrah Manusia dan Martabat Masyarakat

Dalam sejumlah referensi Islam yang memberi catatan kaki tentang ayat 134 ini biasanya dikemukakan riwayat seputar ayat ini. Sebut saja misalnya riwayat tentang pelayan yang dimerdekakan oleh Imam Ali Zainal Abidin a.s.

Riwayat menyebutkan bahwa suatu hari, seorang pelayan Imam Ali Zainal Abidin a.s. menuangkan kendi berisi air untuk wudhu Beliau a.s. Tiba-tiba ia menjatuhkan kendi itu dan memecahkannya berkeping-keping. Imam pun mengangkat kepalanya, lalu sang pelayan berkata kepada Imam, “Sesungguhnya Allah Swt berfirman, ‘Dan orang-orang yang menahan amarahnya’. Imam menjawabnya, “Aku telah menahan amarahku.” Lalu pelayan itu berkata lagi, “Dan orang-orang yang memaafkan orang lain.” Imam berkata, “Allah telah memaafkanmu.” Pelayan itu berkata lagi, “Dan Allah menyukai para pelaku kebajikan.” Imam berkata, “Pergilah, sebab kau telah merdeka karena Allah!” [1]

Sementara itu Imam Ja’far as-Sadiq a.s. berkata, “Seseorang hamba yang menahan amarahnya, niscaya Allah Swt meningkatkan kemuliaannya di dunia dan akhirat. Sebab Allah Swt berfirman, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (Q.S. Āl ‘Imrān [3]:134). Allah Swt mengganjar amarah yang ia tahan dengan itu.” [2]

Baca: Jalinan Ruh Suci Imam Husein a.s. dengan Allah Kekasihnya Lewat Lantunan Doa

Pesan moral ayat ini sebagai berikut:
1. Tiada jarak antara takwa dan infak. Sebab itu ayat ini menerangkan ciri-ciri orang bertakwa pada ayat 133 kemudian pada ayat 134 ditutup dengan sanjungan kepada para muhsinin (pelaku kebajikan).

2. Infak itu memerlukan kedermawanan bukan harta. Sebab itu, ayat menyebut kondisi “baik di waktu senang maupun susah”.

3. Upayakan agar infak kita di saat senang tidak melupakan orang-orang yang enggan meminta atau membutuhkan dan tidak menjadikan kesusahan kita sebagai alasan untuk tidak memberi.

4. Orang-orang yang bertakwa bukanlah mereka yang memperturutkan keinginan mereka. Tetapi mereka yang menentang kehendak diri mereka sendiri. Sebab itu, mereka menahan amarah.

5. Takwa itu beriringan dengan sikap lapang dada. Sebab itu ayat ini memuji orang-orang yang memaafkan orang lain.

6. Warak itu bukan menghindar diri dari khalayak, tetapi justru berperan serta di masyarakat dengan harta (berinfak) dan perangai mereka (menahan amarah dan memaafkan).

7. Memaafkan tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang berbuat kesalahan tetapi ayat ini menyebut kepada manusia secara umum.

8. Sesiapa hendak meraih keberuntungan berupa cinta Allah kepadanya, hendaklah dia merasa cukup atas hartanya, menahan amarahnya, dan memaafkan orang lain.

9. Berinfak kepada yang membutuhkan dan memaafkan kesalahan orang lain itu contoh dari ihsan (kebajikan).

Baca: Cara Simpel Muhasabah Diri ala Ahlulbait Nabi

Rujukan:
[1] Tafsir Majma’ al-Bayān dan Rūh al-Bayān
[2] Syekh al-Kulayni, al-Kāfī, j. 2, h. 110


No comments

LEAVE A COMMENT