Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Sebagai Pemimpin, Nabi SAW adalah Orang yang Ikhlas, Pekerja Keras, Akomodatif, dan Komunikatif

Bertepatan dengan bulan Rabi’ul Awal 1438 H ini, Buletin Al-Wilayah edisi ke-7 ini mengetengahkan wawancara dengan Ustadz Husein Shahab sebagai salah satu anggota Dewan Syura ABI sekaligus ketua Komisi Penguatan Relasi dan Jaringan (KPRJ) Dewan Syura ABI. Berikut ini adalah petikan wawancara tersebut:

AW: Dalam Al-Qur’an dan hadis tentu banyak yang menyebutkan tentang karakteristik Nabi Muhammad dan khususnya dalam hal kepemimpinan, mohon dipaparkan salah satu ayat dan hadis sebagai pengantar wawancara ini.

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad

Cara yang paling tepat untuk mengetahui siapa Rasulullah SAW hanyalah dari Alquran dan Hadis, bukan dari laporan semata para sejarawan. Apalagi jika kita ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya Rasulullah SAW karena yang bisa mengungkapkan keagungan Nabi SAW dengan benar adalah Allah Swt karena Dialah yang paling mengenal Rasulullah SAW. Alquran ketika berbicara tentang Rasulullah tentu banyak sekali. Bahkan di dalam Alquran ada beberapa surah yang langsung menyebut nama Rasulullah Saw, seperti Surah Muhammad, Thaha, Yaasiin.

Pertama-tama yang ingin saya sampaikan, yang paling kenal Rasulullah SAW adalah Allah, Rasulullah SAW sendiri dan para Maksumin. Karena itu, jika orang ingin mengenal Rasulullah Saw, maka hanya melalui Alquran, Hadis-hadis Nabi dan kata-kata Aimmah terutama dari Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah.

Yang kedua, ayat-ayat tentang kepemimpinan Nabi SAW ada beberapa. Misalnya, ada ayat dalam bentuk perintah untuk mematuhi Rasulullah SAW..

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡ‌ۖ

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul [Nya], dan ulil amri di antara kamu. (QS. An-Nisa’ [4]: 59) Jelas bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk menaati perintah Rasulullah SAW. Begitu pula dalam ayat…

وَمَآ ءَاتَٮٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَہَٮٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ‌ۚ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr [59]: 7) dan ayat lainnya.

Ketika Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk taat kepada Rasulullah SAW, bukan sekadar perintah teologis tanpa melihat kualitas Nabi Saw. Jadi, Allah SWT memerintahkan hal itu karena melihat kualitas kepemimpinan Rasulullah itu tinggi. Kalau tidak, tidak mungkin Allah perintahkan untuk taat. Karena kepemimpinan Nabi Saw itu diakui Allah SWT sebagai pemimpin dengan kemampuan yang sangat tinggi, manajerialnya yang sangat bagus, kemampuan persuasinya yang sangat baik, leadingnya yang sangat mumpuni, semuanya itu menjadi sebab Allah SWT memerintahkan manusia untuk taat kepadanya.

Selain itu, dalam ayat tersebut tidak ada ‘qaid’ dalam bahasa Arab. Artinya, sifatnya mutlak tanpa syarat; dalam ayat tersebut tidak ada syarat atau pengecualian, seperti patuhilah Rasul jika begini.

Saya masih ingat dengan Fazlurrahman, warga Pakistan yang hijrah ke Amerika. Beliau merupakan salah satu dosen para pemikir di Indonesia, seperti Buya Syafi’i Ma’arif. Fazlurrahman menulis dalam bukunya, Philosophy of Mulla Shadra Shirazi, ketika membahas psikologi, dia membahas juga tentang kenabian. Dia menyebutkan alasan Allah SWT memilih Rasulullah SAW bukan asal ‘comot’ tanpa melihat kualitas, namun Dia melihat tidak ada orang lain sekualitas Nabi Muhammad Saw dalam segala hal, termasuk dalam hal kepemimpinan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW dalam waktu yang sangat singkat, 23 tahun, keberhasilan dakwah beliau telah mengislamkan seluruh jazirah Arabia bahkan di luar jazirah arabia.

Ada orang berhasil, namun setelah dia wafat, selesai dan yang telah dibangun, roboh. Hal itu berarti suksesinya tidak berhasil. Salah satu barometer keberhasilan adalah keberlanjutan misi yang sudah dicanangkan setelah wafat. Rasulullah telah wafat misinya terus berlanjut hingga sekarang. Dalam pandangan Ahlulbait, dan diakui, sekiranya suksesi yang telah direncanakan Rasulullah berjalan dengan mulus, yakni Ali bin Abi Thalib menjadi pemimpin setelah Rasulullah SAW, maka seluruh dunia ini dalam waktu singkat menjadi Islam sebagaimana yang dicita-citakan Rasulullah SAW.

AW: Sudah banyak buku yang ditulis tentang figur Nabi Muhammad, buku apa saja yang Antum rekomendasikan untuk dibaca dan diamalkan para pengurus ABI?

Bicara tentang buku yang membincangkan Rasulullah SAW sebenarnya banyak sekali. Saya menganjurkan khususnya kepada para asatidzah, dan siapa saja yang bisa bahasa Arab, untuk membaca buku tentang Rasulullah Saw berjudul As-Shahih min Sirah An-Nabiy Al-A’zham Saw yang ditulis oleh Sayid Ja’far Murtadha Al-‘Amili. Beliau adalah salah satu guru saya di Qom yang saat ini tinggal di Libanon. Usianya sekarang sekitar delapan puluh tahun.

biografi nabi Muhammad yang benar

Diberi judul demikian, karena beliau menuliskan riwayat-riwayat yang benar tentang Nabi SAW. Referensinya bisa lebih dari seribu kitab. Buku As-Shahih ini menyoroti berbagai seluruh kitab-kitab sirah Nabi, seperti Sirah Ibn Hisyam, Tarikh Tabari, Tarikh Ya’qubi, dan sebagainya dari referensi klasik yang di dalamnya terdapat biografi Rasulullah SAW.

Yang menarik adalah para sejarawan hanya menyisipkan biografi Nabi dalam kitab-kitab mereka. Sebut saja misalnya Qishashul Anbiya’, Tarikh Al-Khulafa’, yang hanya menyisipkan penggalan kisah tentang Nabi. Itu pun sebagian besarnya banyak yang maudhu’ (rekayasa).

Allamah Ja’far Al-Amili menyeleksi riwayat-riwayat dalam seluruh kitab tersebut lalu mengklasifikasikan riwayat yang sahih dan tidak sahih dari kitab-kitab tersebut hingga tiga puluh lima jilid.

Buku ini mulai membahas tentang jazirah Arab dan biografi para leluhur Nabi yang semuanya dalam pandangan Ahlulbait tidak pernah syirik kepada Allah SWT. Sementara segelintir orang menuduh orang tua Nabi kafir. Jadi, saya merekomendasikan para asatidz dan peminat biografi Rasulullah untuk membaca buku ini.

ar-risalah

Buku kedua adalah yang ditulis Syekh Jafar Subhani berjudul Ar-Risalah. Berbeda dengan buku sebelumnya, buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sekitar 600 halaman.

Sayangnya penulis dari Indonesia sendiri belum banyak yang berkontribusi dalam menulis buku tentang Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, saya menyebutkan beberapa di antaranya. Sayid Muhammad Al-Hamid Al-Husainy menulis buku berjudul Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad Saw yang diterbitkan oleh Pustaka Hidayah. Sayangnya, buku yang mengupas biografi Nabi SAW secara deskriptif ini sudah langka. Bagi yang ingin membaca sirah Nabi SAW secara runut dan tidak rumit, bacalah buku ini.

Selain itu, buku yang juga patut dibaca adalah tulisan analitis O. Hashem berjudul Muhammad Sang Nabi, dan buku yang ditulis F. Hashem berjudul Sirah Muhammad Rasulullah: Suatu Penafsiran Baru yang diberi kata pengantar oleh M. Dawam Raharjo.

Di antara karya orientalis Barat, buku yang ditulis oleh Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messenger. Buku ini telah diterjemahkan oleh Mizan, dan Muhammad adalah Utusan Allah, Cahaya Purnama Kekasih Tuhan. Membaca buku ini bisa meneteskan air mata, karena lebih banyak menyentuh aspek kemanusiaan dan spiritualitas Nabi Muhammad. Bahkan menurut penulis buku Api Sejarah, Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, hampir selalu berwudhu sebelum membaca karya Annemary Schimmel ini.

Karya orientalis yang lain dengan menggunakan pendekatan sosiologis adalah Muhammad His Life Based on the Earliest Sources yang ditulis oleh Martin Lings.

AW: Seringkali kita mendengar tuduhan bahwa Syiah lebih mengutamakan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dari Nabi Muhammad SAW. Bagaimana tanggapan Antum?

Itu tuduhan yang tidak benar! Imam Ali dibandingkan dengan Rasulullah SAW, maka Imam Ali tidak ada apa-apanya. Nabi menyatakan Ana madinatul ‘ilmi wa ‘Aliyyun babuha. Itu saja bisa dibayangkan betapa jauhnya perbedaan “Aku bagaikan kota ilmu dan Ali gerbangnya.” Bayangkan, mau masuk kota besar seperti Jakarta lewat satu gerbangnya.

Imam Ali as sendiri mengatakan bahwa saya ini murid kecil Rasulullah SAW. Jadi, jika ada orang menuduh bahwa Syiah lebih mengagungkan Imam Ali, tuduhan tersebut tidak mendasar dan lebih kepada fitnah. Bahwa orang Syiah cinta kepada Imam Ali dan mengagungkannya, benar. Karena yang menyuruh mencintai dan mengagungkan Imam Ali itu Rasulullah SAW sendiri berdasarkan hadis-hadis dari beliau, tapi menempatkan Imam Ali lebih dari Rasulullah SAW tidak benar.

Dalam kitab Nahjul Balaghah, Imam Ali mengatakan, “Aku mengikuti Nabi seperti anak unta yang mengikuti induknya.” Di mana ada Rasulullah SAW di situ ada Imam Ali. Rasulullah SAW berjalan, Imam Ali mengikutinya. Persis seperti anak unta yang mengikuti induknya. Imam Ali juga pernah mengisahkan bahwa waktu masih kecil, di rumah Nabi hanya ada tiga orang; Rasulullah, Siti Khadijah dan dirinya. Ketika Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah, beliau mendengar suara wahyu itu turun kepada Rasulullah SAW. Begitu dekatnya Imam Ali dengan Rasulullah SAW. Namun jika ditanyakan bagaimana kedudukan Rasulullah dibandingkan Imam Ali, sedikit pun Imam Ali tidak ada apa-apanya. Di dalam kitab Bihar Al-Anwar ada bab khusus tentang Rasulullah SAW dari para Aimmah. Mungkin ada yang mengatakan bahwa orang Syiah lebih mengagungkan Imam Ali ketimbang Rasulullah dengan bukti lebih banyaknya peziarah di makam Imam Ali a.s. di Najaf daripada makam Rasulullah SAW di Madinah. Perlu diketahui bahwa makam Rasulullah SAW itu di bawah kendali Wahabi. Orang mau ziarah kepada Rasulullah Saw saja dianggap syirik dan bid’ah. Seandainya Madinah bukan di bawah pemerintahan Wahabi dan mengizinkan ziarah Rasulullah SAW dengan bebas sebagaimana ziarah Imam Ali, yakin seratus persen peziarah Rasulullah SAW lebih banyak, lebih syahdu, lebih khidmat daripada peziarah Imam Ali a.s..

Jadi, Imam Ali a.s. hanyalah murid, menantu, sepupu Rasulullah SAW dan orang kedua setelah Rasulullah SAW.

AW: Banyak riwayat yang menyebutkan besarnya pahala ziarah ke pusara Imam Husein a.s., namun jarang sekali diungkap tentang keutamaan ziarah ke pusara Nabi Muhammad. Apakah demikian realitasnya?

Sesungguhnya jika bicara tentang riwayat yang menganjurkan ziarah kepada Rasulullah SAW yang ditulis para ulama Syiah itu banyak. Misalnya Bihar al-Anwar, yang telah saya sebutkan sebelumnya, memuat bab khusus betapa pentingnya ziarah kepada Rasulullah SAW. Begitu juga dengan kitab Kamil Az-Ziyarat banyak memuat riwayat keutamaan ziarah kepada Rasulullah SAW. Namun demikian sejak peristiwa Karbala pada 61 Hijriah hingga masa kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah (sekitar 3-4 abad) permusuhan kepada Ahlulbait begitu dahsyatnya sehingga makam Imam Husein pernah dihilangkan saking mereka tidak mau Syiah Ahlulbait menziarahi Imam Husein a.s..

Para Imam pada masa itu, terutama Imam Ja’far As-Shadiq a.s., sangat mendorong umat untuk menziarahi Imam Husein a.s. agar tidak melupakannya, karena itu banyak sekali riwayat yang menganjurkan Syiah untuk menziarahi Imam Husein a.s. agar tidak takut walaupun orang zalim di tengah jalan akan menzalimi hingga membunuh mereka.

Jadi, ada konteks untuk mengonter para penguasa zalim yang melarang mereka menziarahi Imam Husein. Misalnya saja, hadis dari Imam Ja’far As-Shadiq a.s., bahwa satu langkah ziarah ke Imam Husein a.s. seperti satu bahkan seribu kali haji dan hadis lainnya. Kita sebagai Syiah meyakini bahwa para Imam menyatakan demikian bukan berdasarkan hawa nafsu mereka. Boleh jadi hadis-hadisnya ada yang daif, namun para ulama Syiah tidak terlalu kritis atau selektif atas hadis-hadis yang berkaitan dengan ziarah dalam upaya memotivasi umat untuk ziarah ke Imam Husein a.s.. Buktinya orang yang berziarah ke Imam Husein a.s. akan memperoleh spirit Imam Husein, lebih mengenal Imam Husein a.s., lebih cinta kepada Ahlulbait Nabi dan seterusnya.

Lantas mengapa hadis-hadis tentang keutamaan ziarah ke Rasulullah SAW tidak sebanyak itu? Hal ini karena ziarah ke Rasulullah SAW tidak ada tantangan seperti ziarah ke Imam Husein a.s.. Orang-orang Syiah harus ziarah kepada Rasulullah SAW.

Salah satu hadis yang terkenal di kalangan Ahlussunnah dan Syiah adalah

من حج فلم يزرني فقد جفاني

bahwa siapa yang berhaji tapi tidak menziarahiku, maka telah memutuskan hubungannya denganku. Ada satu kitab berjudul Al-Mahajjah Al-Baidha’ yang salah satu babnya membahas tentang ziarah ke Rasulullah SAW. Di sana banyak riwayat yang menyebutkan keutamaan ziarah ke Rasulullah SAW.

AW: Karakteristik apa saja dari pribadi agung Nabi Muhammad SAW yang dapat diteladani oleh jajaran pengurus ABI dari pusat hingga daerah?

Jika kita berbicara karakteristik apa yang bagus untuk diteladani, semua karakter Nabi SAW bagus. Allah berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيم

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam [68]: 4).

Tidak ada satu bagian pun dari karakter Nabi SAW sehingga kita tidak berkata karakter Nabi yang satu kurang dari yang lain. Nabi Muhammad SAW adalah tajalli, manifestasi sempurna dari nama Allah SWT. Kita sering mendengar takhallaqu bi akhlaqillah, berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah. Maksudnya adalah kamu tampakkan dalam dirimu seluruh asma’, sifat, dan akhlak Allah, maka Nabi Muhammad itu sendiri bukan lagi menampakkan, tetapi merupakan manifestasi yang utuh.

Oleh karena itu, sedapat mungkin kita cerminkan atau internalisasikan seluruh karakter Nabi Muhammad SAW dalam diri kita. Namun demikian, karena rendahnya kedudukan kita, kita hanya bisa mencerminkan kecenderungan dan kemampuan kita dalam berkhidmat kepada masyarakat, misalnya keikhlasan, perjuangan, pengabdian dan kontribusi Rasulullah. Dari kecil hingga wafat, segala yang dilakukan Rasulullah SAW hanyalah untuk Allah SWT. Tidak hanya ibadah ritualnya, tapi juga ibadah sosialnya untuk Allah SWT. Dia tidak pernah melihat dirinya, tapi yang dilihat hanyalah untuk Allah SWT. Itu dari sisi keikhlasan.

Berikutnya adalah seluruh aktifitas Nabi Muhammad SAW adalah bekerja keras untuk Islam dan Allah SWT, memakmurkan, mencerahkan, mendewasakan masyarakat, bagaimana membimbing mereka dengan ilmu, spiritual, dan praktiknya. Sungguh kerja keras Nabi Muhammad luar biasa. Saya selalu berpikir mengapa Nabi meninggal dalam usia muda di saat sebagian sahabat ada yang mencapai usia lebih dari seratus tahun, seperti Jabir dan Salman. Jawaban yang paling mudah adalah itu merupakan ketentuan Allah SWT. Itu benar, tetapi menurut saya, Nabi Muhammad SAW bekerja terlalu keras sehingga tubuhnya sangat capek dan kurang istirahat. Secara manusiawi, segitu beratnya beban Nabi Muhammad sehingga kemampuan badannya tunduk dengan hukum alam.

Yang ketiga adalah sifat akomodatif. Nabi Muhammad SAW tidak pernah memilah-milah seseorang berasal dari suku, bangsa dan strata mana pun. Ada riwayat mengatakan orang yang paling fakir ketika duduk di hadapan Nabi terasa Nabi seperti dirinya. Demikian pula orang yang kaya duduk bersama Nabi tidak merasa lebih kaya dari Nabi. Orang kafir bertemu Nabi, dihormati. Seperti itulah sifat akomodatif Rasulullah.

Sifat Nabi Muhammad SAW yang keempat adalah komunikatif. Alqur’an menyebutnya ‘Allamahul bayan. Dia mengajarkannya pandai berbicara. (QS. Al-Rahman [55]: 4) Bisa dibayangkan seorang profesor tidak bisa mengajar anak TK. Seorang profesor tidak bisa berbicara dengan seorang tukang becak. Mengapa? Karena tidak ‘nyambung’. Orang pintar belum tentu mampu berkomunikasi dengan anak-anak SD, tapi Nabi Muhammad mampu berkomunikasi dengan orang yang berpendidikan paling rendah sekali pun. Para pengurus ABI perlu memperhatikan komunikasi yang baik dengan struktur bahasa, tutur kata, dengan terminologi yang tepat dan mimik wajah yang pas.

Jadi, sifat ikhlas, pekerja keras, akomodatif dan komunikatif Rasulullah SAW harus ditiru oleh seluruh pengurus ABI di pusat maupun di daerah.[]

 

(sumber: rubrik Wawancara pada Buletin Al-Wilayah, Edisi 07, Rabi’ul Awal 1438, Desember 2016)

No comments

LEAVE A COMMENT