Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Tafsir Surat al-Insyirah

Bukankah telah Kami lapangkan untukmu dadamu? Dan telah Kami hilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Serta telah Kami tinggikan untukmu sebutanmu? Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Surat ini meskipun pendek, memuat berbagai permasalahan yang penting sekali bagi pribadi Rasulullah Saw dalam kaitannya sebagai penyampai dakwah dan ajaran Islam. Allah Swt memberi dukungan dan kemantapan kepada jiwa Rasulullah Saw. Sesungguhnya beliau Saw, juga nabi-nabi yang lain, dalam menyampaikan kebenaran yang datang dari Allah Swt mendapatkan tantangan dan perlawanan yang keras dari orang-orang kafir. Cemoohan dan siksaan selalu mengisi hari-hari mereka. Kenyataan semacam itu merupakan risiko bagi orang-orang yang mengajak ke kebenaran dan kebaikan. Untuk menghadapi itu, mereka harus memiliki kesabaran dan ketabahan yang sangat besar.

Sehubungan dengan itu, Allah berfirman kepada Rasulullah Saw: Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). [QS. al-Qalam: 48]

Baca: Tafsir Surat al-Layl

Tanpa memiliki kesabaran dan ketabahan, mereka tidak akan sanggup dan bertahan dalam mengemban tugas dari Allah Swt. Oleh karena itu, Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah Swt agar diberi jiwa yang lapang dalam menghadapi Firaun. “Ya Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku dan mudahkanlah bagiku urusanku.” (QS. Thaha: 26)

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa besar anugerah yang Allah Swt berikan kepada Rasulullah Saw Anugrah itu berupa pelapangan dada atau jiwa beliau sehingga beliau mampu bertahan menghadapi rong-rongan dan gangguan kaum musyrikin. Selain itu, Allah Swt juga membantu beliau dengan menghilangkan beban yang memberatkan punggung beliau. Beban berat yang beliau pikul itu adalah menyampaikan ajaran Allah Swt.

Perasaan berat atas beban dan tanggung jawab dakwah ini diungkapkan dalam ayat: “Thaha, Tidaklah Kami menurunkan Alquran kepadamu agar kamu menderita. Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha: 1 – 3)

Jerih payah dan penderitaan yang dialami oleh Rasulullah Saw dalam mengemban wahyu Allah Swt tidak sia-sia, karena beliau menyaksikan hasil dakwahnya pada saat beliau masih hidup. Pada masa hidup beliau, Islam telah menjadi satu kekuatan yang disegani oleh suku­suku Arab. Satu per satu suku-suku Arab masuk Islam, bahkan dakwah Islam sudah mulai tersebar melewati perbatasan-perbatasan semenanjung Arab. Beliau sempat mengirim surat kepada kaisar Romawi, raja Kisra di Persia dan tokoh-tokoh besar lainnya. Kegemilangan dakwah Rasulullah Saw ini dijelaskan secara ringkas dalam surat al-Nashr.

Baca: Tafsir Surat asy-Syam

Setelah Islam tersebar, maka tersebar pula sebutan Rasulullah Saw. Sebutan beliau bersandingan dengan nama Allah Swt dalam syahadatain (dua kalimat syahadat). Ketika kaum muslimin akan melakukan salat, maka mereka mengumandangkan azan, dan pada saat itu, nama Muhammad Saw dikumandangkan di angkasa luas, sedikitnya, lima kali.

Fakhr al-Razi dalam menafsirkan “Serta Kami tinggikan sebutan mu” menjelaskan bahwa nama Rasulullah populer di langit dan di bumi. Namanya tertulis di ‘Arsy dan disebutkan dalam kalimat syahadat dan tasyahhud. Nama beliau juga disebut-sebut dalam kitab-kitab samawi terdahulu dan selalu disandingkan dengan nama Allah Swt dalam Alquran.

*Dikutip dari Tafsir Quran Juz Amma, yang disusun oleh Ustadz Husein Alkaff

No comments

LEAVE A COMMENT