Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Untaian Nasihat Spiritual Imam Khomeini (1)

Mungkin banyak yang belum mengenal sosok Imam Khomeini. Khususnya masyarakat Indonesia yang terbiasa menerima informasi salah dan fitnah tentang sosok Imam Khomeini dari kelompok tertentu. Pemimpin Revolusi Islam di Iran ini banyak memberikan nasihat spiritual kepada murid-muridnya. Di antaranya adalah yang dikutip dari Majalah Afagh terbitan Teheran berikut ini:

Jangan Menunda-Nunda Waktu

Jika kalian memang berniat untuk berbuat baik dan memperbaiki diri, mulailah dari sekarang. Jangan tunda-tunda waktunya. Menunda-nunda waktu adalah ciri orang yang gagal dan tidak beriman. Kenapa harus menunda-nunda waktu? Apakah kalian kira kalian masih masih punya banyak waktu untuk melaksanakan berbagai amanat yang ada di pundakmu?

Wahai kalian yang aku sayangi, bangunlah dari tidur dan kelengahan. Sembuhkan segala penyakit dengan tuntunan yang ada pada Al-Quran dan hadis. Ketahuilah, jika kalian berupaya untuk melangkah menuju jalan kebahagiaan, berdamai dengan Allah, serta meminta ampunan kepada-Nya, maka pintu kebahagiaan akan dibuka untuk kalian. Lalu, kalian akan mendapatkan pertolongan dari alam gaib. (Baca: Doa Ma’rifat Imam Mahdi pada Zaman Kegaiban)

Jangan pernah terjebak untuk mengikuti hawa nafsu karena keinginan hawa nafsu tidak akan berakhir dan tidak mengenal batas akhir. Hawa nafsu adalah penghalang utama langkah kalian yang ingin memperbaiki diri. Sekali saja kalian mengikuti hawa nafsu maka langkah kalian untuk maju ke arah Tuhan akan terhalangi, dan kalian tidak akan pernah bisa melangkah.

Perbaiki Diri Sendiri sebelum Memperbaiki Masyarakat

Di antara kalian, pasti ada yang punya cita-cita untuk memperbaiki keadaan masyarakat, dengan menjadi tokoh, figur, atau pemimpin. Tapi, siapa saja yang berniat memperbaiki dunia, seharusnya ia terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri. Dan, sekali lagi, waktu untuk memperbaiki diri sendiri itu adalah sekarang ini, bukan di waktu yang akan datang.

Jika kalian menunda-nunda, kalian akan terjebak ke dalam situasi di mana kalian terlanjur menjadi panutan masyarakat. Di saat itu, masyarakat mengagumi dan menjadikan kalian sebagai orang yang terpercaya. Padahal, diri kalian sendiri belumlah benar. Kalau itu sampai terjadi, kalian akan terlena dan kehilangan kontrol diri. Kalian akan menjadi pribadi yang menyesatkan masyarakat, karena yang kalian bimbingkan kepada masyarakat adalah hal-hal yang tidak otentik. (Baca: Tabuik Pariaman: Dari Tradisi Keluarga Menjadi Budaya Masyarakat)

Manfaatkan Masa Muda Sebaik Mungkin

Kalian, khususnya para pemuda, masih punya kesempatan. Pergunakanlah kesempatan itu. Betapa banyak sifat buruk seperti bakhil atau iri yang masih baru muncul dalam diri seorang pemuda, akan tetapi dengan sedikit perhatian dan perbaikan akan berubah menjadi sifat yang baik. Tapi, bila masalah ini dibiarkan saja, maka dibutuhkan pelatihan yang serius, usaha sungguh-sungguh, serta waktu yang cukup lama. Boleh jadi nantinya malah nasib dan ajal yang tidak memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki dirinya, sehingga sampai mati, ia tetap memiliki akhlak buruk, yang akan menjadi penyebab siksa kubur dan siksa neraka.

Di masa muda, kemauan dan kebulatan tekad manusia juga masih kuat. Oleh karena itu, di masa tersebut, perbaikan diri bagi seseorang akan lebih mudah. Namun, jika usia sudah beranjak tua, kemauan dan tekad manusia juga akan menjadi melemah sehingga sulit untuk menundukkan kekuatan nafsu.

Nasihat Spiritual Imam Khomeini

Bertaubat, Terutama di saat Musim Seminya

Sebenarnya, kesempatan bagi tetap terbukanya pintu taubat senatiasa terbuka bagi siapa saja yang berbuat dosa dan kesalahan. Rahmat Allah itu sangat luas. Tapi, ada masa-masa tertentu yang merupakan musim semi taubat, dan itu adalah masa muda. Di masa muda, beban dosa seseorang masih ringan. Kotoran dan noda hati lebih sedikit. Kemungkinan bertaubat menjadi lebih mudah. (Baca: Rukun dan Syarat Taubat – 1/6)

Pemuda yang paling dicintai Allah adalah pemuda yang rajin dan sangat cepat menyadari kekeliruannya untuk kemudian segera bertaubat. Itu karena pemuda yang rajin bertaubat dipastikan akan mudah meluruskan kekeliruan yang mungkin dilakukannya di masa depan. Kemungkinan untuk menjadi tersesatpun menjadi kecil karena setiap kesalahan langkah yang dilakukan segera diperbaiki.

Jauhi Pembicaraan yang Sia-sia, atau Diamlah

Di antara kalian mungkin ada yang pernah melakukan perbuatan yang sia-sia dan tidak berguna. Kalian habiskan waktu kalian untuk sesuatu yang sangat sedikit manfaatnya. Padahal, waktu terus berlalu dan tiap detik waktu itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Sadarilah hal ini.

Yang sia-sia itu bukan hanya terkait dengan perbuatan, melainkan bisa jadi terkait dengan kata-kata dan pembicaraan. Ada banyak orang yang kalau berbicara, yang dibicarakan adalah hal-hal yang tidak ada manfaatnya sekali. Sungguh, tidak mungkin jika ada orang yang gemar melakukan perbuatan dan perkataan sia-sia tapi pada saat yang sama ia bisa terjaga dari perbuatan dosa. Karena itu, jauhilah perbuatan sia-sia. Jauhi pula perkataan yang tidak berfaedah, atau diamlah. (Baca: 4 Simpanan Kebaikan)

Jagalah Kesucian Diri

Orang-orang yang tidak menjaga kesucian dirinya bukan termasuk Syiahnya (pengikut) Imam Sadiq as, meskipun mereka menganggap dirinya sebagai Syiah. Orang-orang yang mengikuti nafsu binatang dan berperilaku seperti perilaku binatang, mereka telah keluar dari keluhuran akal dan bukan termasuk orang yang taat kepada Allah SWT.

Jangan Mencari-cari Kejelekan Orang Lain

Perbuatan buruk yang dilakukan oleh diri sendiri adalah sebuah keburukan. Yang lebih buruk dari itu adalah perbuatan buruk yang tidak dipahami oleh diri sendiri. Ia berbuat keliru tapi tidak tahu bahwa dirinya melakukan kesalahan. Orang yang demikian itu akan merasa bahwa ia tidak memiliki atau melakukan keburukan. Akan tetapi, ada yang jauh lebih buruk dari itu, yaitu seseorang yang sudah berbuat buruk, lalu ia melalaikannya (tidak menyadari bahwa dirinya telah berbuat buruk), dan ia kemudian mencari-cari kejelekan orang lain. Inilah puncak dari sebuah keburukan.

Ingatlah, mencari-cari keburukan pada sesama Muslim sama sekali bukan perintah agama. Ini semua pasti berangkat dari sifat cinta dunia dan cinta hawa nafsu. Ini adalah bisikan-bisikan setan yang menyeret manusia ke dalam kehancuran. (Baca: SafinahQuote: Manusia dan Urusan Dunia)

Berdzikir, Senantiasa Ingat Allah

Kalian yang aku sayangi, ketahuilah bahwa sebanyak apapun kalian mengingat Allah, tetap saja hal itu akan dianggap kurang. Apalagi jika kalian sangat sedikit untuk berdzikir kepada-Nya. Dzikir adalah ibadah yang tidak mengenal ruang dan waktu. Dzikir bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Biasakan hati untuk senantiasa mengingat Allah, sehingga atas kehendak-Nya, hati secara spontan akan senantiasa mengingat Allah.

Agar hati tetap hidup, biasakanlah selalu mengingat Allah terutama dengan penyebutan nama-nama-Nya seperti “Ya Hayyu Ya Qayyum” dengan disertai kehadiran hati.

Diriwayatkan dari sebagian ahli dzikir dan makrifat, bahwa untuk perbaikan hati, kalian sebaiknya bersujud minimalnya sekali di siang hari dan sekali di malam hari sambil memperbanyak bacaan “La Ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin”. (Tiada Tuhan selain Engkau. Sungguh aku sudah menjadi orang yang zhalim).

Jangan sampai melupakan Allah meskipun hanya sekejap, karena melupakan Allah akan menyeret manusia kepada kehancuran.

Mengingat Allah juga bisa dilakukan dengan membaca Al-Quran. Bacalah ayat apa saja, dengan disertai kehadiran hati dan kondisi suci. Jika kalian tidak mengerti bahasa Al-Quran, anggap saja bahwa kalian seperti anak kecil yang belum bisa berbicara dan Al-Quran sedang sedang mengajari kalian berbicara. (Baca: SafinahQuote: Manusia dan Urusan Dunia)

Hitung Dirimu

Jika kalian selama di dunia ini menghitung dirimu sendiri (amal perbuatan selama masih hidup), maka di yaumul hisab nanti, kalian tidak akan mengalami kesulitan dan tidak juga merasa takut.

Bacalah surat Al Hasyr ayat 18 dan seterusnya. Ayat ini berbicara tentang perintah kepada kita agar selalu memperhitungkan segala apapun yang telah kita lakukan. Lakukanlah itu ketika pikiran kalian kosong, misalnya di akhir malam ketika mau tidur atau sesudah terbitnya fajar sampai terbitnya matahari dengan kehadiran hati dan bertafakkur tentangnya. Insya Allah, kalian akan mendapatkan hasil yang baik dan dengan cepat. Kalian akan segera mendapatkan pengaruh dari cahaya iman di dalamnya.

Lakukanlah itu. Sering-seringlah menghitung diri, sebelum catatan amal kita sampai kepada Allah SWT, dan sebelum catatan amal kita sampai di tangan Imam Zaman af…

Bersambung…

Sumber: Dikutip dari Buletin Al-Wilayah Edisi 02 Juli 2016/Syawal 1437

Baca selanjutnya: Untaian Nasihat Spiritual Imam Khomeini (2)

 

No comments

LEAVE A COMMENT