Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Zainab binti Ali as: Wanita Pemberani Penyelamat Islam

“Wahai warga Kufah! Celakalah kalian! Apakah kalian sadar betapa besar dosa yang telah kalian perbuat? Kalian telah merusak tubuh Rasulullah, melanggar sumpah, dan menumpahkan darah suci. Keluarga terhormat dihadapkan sebagai tawanan, dan kesucian yang seharusnya dijaga telah dilanggar. Tindakan kalian seakan meruntuhkan langit, membongkar bumi, dan menghilangkan gunung-gunung. Sejauh bumi ditarik dan setinggi langit dihormati, perbuatan kalian tak memiliki tandingan, persamaan, atau kesopanan. Benar, kalian melakukan perbuatan buruk, menyedihkan, dan mengerikan.”

Dengan kata-kata ini, Sayidah Zainab binti Ali as menghadapi pengkhianatan warga Kufah terhadap Imam mereka di Karbala. Zainab as, sosok cemerlang dalam sejarah Islam dan kemanusiaan, bagai matahari yang bersinar terang. Nama saudaranya, Imam Husain as, dan peristiwa di Karbala, mencerminkan konsep kebebasan, keadilan, kemanusiaan, kebajikan, dan perjuangan melawan despotisme, semuanya terwujud dalam kedaulatan Allah Swt.

Untuk memahami sepenuhnya pesan di balik peristiwa Karbala, perlu dipahami dua aspek pemikiran. Pertama, kebangkitan Imam Husain as, dan kedua, kebangkitan Zainab as. Zainab as, dianugerahi ketabahan dan keteguhan hati, menjadi sosok luar biasa di sejarah Karbala. Setelah menyaksikan kesyahidan saudara dan kedua putranya, Zainab as tetap tegar, berkata, “Wahai Tuhanku! Terimalah pengorbanan kami yang sederhana ini.”

Sayidah Zainab as terkenal karena kehidupannya yang saleh dan sifat-sifat terbaiknya. Dalam ketenangan dan ketenteraman, dibandingkan dengan neneknya, Ummul Mukminin, Sayidah Khadijah as; dalam kesucian dan kerendahan hati, dibandingkan dengan ibunya yang suci, Sayidah Fathimah as; dan dalam kefasihan berbicara, dibandingkan dengan ayahnya yang suci, Imam Ali as.

Zainab as mengumumkan kepada dunia pengorbanan terbesar oleh saudaranya dan keluarga Rasulullah saw di Karbala. Di sisi lain, wanita dan anak-anak menyaksikan kekejaman tanpa belas kasihan di Karbala. Namun, mereka tak putus asa, tegar, berdiri, dan meminta pertanggungjawaban. Mereka tidak merasakan takut atau cemas, melainkan menunjukkan kekuatan dan ketegasan.

Bagian dari khotbah Zainab as pada majelis Yazid bin Muawiyah di Suriah, meski mengguncang, tetap bermakna. Dalam pidatonya, Zainab as dengan tegas menyatakan, “Demi Allah, kalian tidak bisa menghapus kami dari ingatan manusia atau mengaburkan pesan kami. Kemuliaan kami tak akan pernah kalian capai, dan kalian tidak akan mampu membersihkan noda kejahatan ini dari tangan kalian. Keputusan-keputusan kalian tak akan stabil, masa kekuasaan kalian singkat, dan penduduk kalian akan tercerai-berai. Suara akan berseru, ‘Sungguh, laknat Allah Swt akan menimpa orang-orang yang zalim.'”

Dalam pidato-pidatonya, Zainab as menekankan agar orang-orang saleh tidak terpengaruh oleh kondisi sulit. Beliau menegaskan bahwa Ahlulbait memiliki kehadiran, kekuatan, keyakinan, dan keimanan yang kuat, meskipun dihadapkan pada musibah berat. Keluarga Nabi saw berhasil mengubah ancaman menjadi peluang dengan kepemimpinan pemberani Zainab as.

Sebagai contoh pembangkangan terhadap penindasan dan ketidakadilan, Zainab as menjadi teladan wanita penuh kesabaran dan ketabahan. Tak ada bentuk ibadah yang lebih agung daripada melanjutkan perjuangan saudaranya, menyampaikan khotbah penuh semangat di Kufah dan Suriah, serta menyadarkan mereka yang tertipu oleh propaganda beracun Yazid, putra Muawiyah.

Khotbah-khotbahnya menciptakan gelombang perlawanan di Kufah dan Damaskus, mengguncang basis kerajaan Yazid. Bahkan putra Yazid menolak menggantikan ayahnya sebagai raja dan setelah beberapa waktu, mundur dari pemerintahan, membawa malu pada dinasti penindas Bani Umayyah.

Sepanjang hidupnya, Zainab as menanggung rasa sakit luar biasa menyaksikan orang-orang yang dicintainya mati syahid. Namun, beliau tak pernah menolak takdir yang ditetapkan oleh Allah Swt. Kepasrahan beliau sangat monumental, dan kesedihan yang diungkapkan mencerminkan rasa kemanusiaan yang mendalam.

Sumber: Khamenei.ir

No comments

LEAVE A COMMENT