Kajian Al-Qur’an dan Nahjul Balaghah tentang dahaga ruhani
Ada satu pertanyaan yang terus berulang sepanjang sejarah manusia: mengapa seseorang yang telah memiliki harta, kedudukan, popularitas, bahkan berbagai kemewahan hidup, tetap merasakan kegelisahan dalam dirinya?
Kita menyaksikan orang-orang yang berhasil secara materi, namun hidup dalam kecemasan. Kita melihat mereka yang memiliki rumah megah, kendaraan mewah, dan segala fasilitas dunia, tetapi tetap merasa ada sesuatu yang hilang. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana justru tampak lebih tenang, lebih lapang, dan lebih bahagia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kebahagiaan manusia tidak sesederhana persoalan kepemilikan materi. Ada dimensi lain dalam diri manusia yang tidak dapat dipuaskan oleh uang, jabatan, atau kenikmatan duniawi. Al-Qur’an, Nahjul Balaghah, dan para pemikir Islam seperti Syahid Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa manusia bukan hanya makhluk jasmani, tetapi juga makhluk ruhani yang memiliki kebutuhan-kebutuhan batin yang jauh lebih dalam daripada kebutuhan fisiknya.
Dahaga yang Tidak Bisa Dipuaskan Oleh Materi
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk yang selalu memiliki kecenderungan untuk mencari sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya. Dalam pandangan Islam, kecenderungan ini bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari fitrah manusia.
Masalah muncul ketika pencarian tersebut diarahkan sepenuhnya kepada dunia.
Allah Swt berfirman:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menarik karena tidak mengatakan bahwa ketenangan hati diperoleh melalui kekayaan, kekuasaan, atau popularitas. Al-Qur’an justru menunjuk kepada dzikrullah sebagai sumber ketenteraman jiwa.
Mengapa demikian?
Karena kebutuhan terdalam manusia bukanlah kebutuhan tubuh semata. Tubuh memang membutuhkan makanan, minuman, tempat tinggal, dan berbagai fasilitas kehidupan. Namun jiwa membutuhkan makna, tujuan, cinta, pengabdian, dan hubungan dengan Tuhan.
Muthahhari menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan spiritual yang tertanam dalam fitrahnya. Jika kebutuhan tersebut diabaikan, maka pemenuhan kebutuhan material saja tidak akan pernah cukup untuk menghasilkan kebahagiaan yang sejati. Bahkan ketika kenikmatan jasmani meningkat, kekosongan ruhani tetap dapat membuat seseorang merasa hampa.
Kesalahan Terbesar: Menjadikan Dunia sebagai Tujuan
Nahjul Balaghah memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang hubungan manusia dengan dunia.
Imam Ali a.s. tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap dunia sebagai ciptaan Allah. Yang beliau kritik adalah ketika dunia berubah dari sarana menjadi tujuan hidup.
Dalam penjelasan yang dikaji oleh Muthahhari, dunia tidak tercela karena keberadaannya. Yang tercela adalah keterikatan yang memperbudak manusia kepada dunia sehingga seluruh cita-cita, kecintaan, dan perjuangannya hanya berputar di sekitar kenikmatan material.
Di sinilah akar kegelisahan manusia modern.
Banyak orang mengira bahwa jika mereka berhasil mencapai satu target, maka mereka akan bahagia. Setelah target itu tercapai, muncul target berikutnya. Setelah memperoleh rumah, muncul keinginan memiliki rumah yang lebih besar. Setelah mendapatkan jabatan tertentu, muncul ambisi untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi.
Keinginan tidak pernah berhenti.
Dunia menawarkan kepuasan sesaat, tetapi tidak pernah memberikan kepuasan yang permanen.
Karena hakikat dunia memang sementara.
Manusia yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir akan selalu hidup dalam kekurangan, sebab apa yang dicarinya berada dalam wilayah yang fana dan terus berubah.
Fitrah Manusia Adalah Mencari Kesempurnaan
Menurut Muthahhari, manusia pada dasarnya adalah pencari kesempurnaan. Dalam dirinya terdapat kecenderungan alami untuk mencintai sesuatu yang sempurna dan tanpa batas. Namun sering kali kecenderungan ini salah arah. Manusia berusaha menemukan kesempurnaan itu dalam harta, kekuasaan, ketenaran, atau kenikmatan dunia.
Padahal semua itu terbatas.
Karena itu, ketika seseorang berhasil meraih sesuatu yang dianggapnya sebagai puncak kebahagiaan, ia segera menyadari bahwa benda tersebut ternyata tidak mampu memenuhi dahaga batinnya.
Mengapa?
Karena jiwa manusia sebenarnya sedang mencari Yang Tak Terbatas.
Dan tidak ada yang tak terbatas selain Allah.
Inilah sebabnya mengapa manusia yang menjauh dari Tuhan sering kali mengalami krisis makna meskipun hidupnya terlihat sukses secara lahiriah. Sebaliknya, orang yang dekat dengan Allah dapat merasakan ketenangan bahkan dalam kesederhanaan.
Karbala dan Rahasia Kebahagiaan Ruhani
Pelajaran yang sangat jelas tentang kebahagiaan ruhani dapat ditemukan dalam peristiwa Karbala.
Jika kebahagiaan identik dengan kenyamanan duniawi, maka Imam Husain a.s. dan para sahabatnya seharusnya menjadi orang-orang yang paling menderita. Mereka menghadapi pengepungan, kelaparan, kehausan, kehilangan keluarga, dan ancaman kematian.
Namun sejarah justru menggambarkan hal yang berbeda.
Semakin dekat dengan syahadah, semakin tampak ketenangan mereka.
Mereka tidak menunjukkan kepanikan sebagaimana lazimnya manusia ketika menghadapi kematian.
Mengapa?
Karena kebahagiaan yang mereka rasakan bukan berasal dari dunia.
Mereka telah menemukan makna hidup yang lebih tinggi daripada sekadar mempertahankan keberadaan fisik. Jiwa mereka dipenuhi keyakinan, pengabdian, dan kedekatan kepada Allah.
Inilah yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai nafs al-muthma’innah—jiwa yang tenang.
Ketenangan semacam ini tidak bisa dibeli dengan uang dan tidak bisa diwariskan melalui kekuasaan.
Ia lahir dari hubungan yang benar antara manusia dan Tuhannya.
Kegelisahan sebagai Tanda Kebutuhan Ruhani
Dalam pandangan Islam, kegelisahan tidak selalu merupakan sesuatu yang negatif.
Sering kali kegelisahan adalah alarm yang menunjukkan bahwa jiwa sedang lapar.
Sebagaimana rasa lapar menunjukkan kebutuhan tubuh terhadap makanan, kegelisahan batin sering kali menunjukkan kebutuhan jiwa terhadap makna, ibadah, dan kedekatan kepada Allah.
Masalahnya, banyak orang salah mendiagnosis penyakitnya.
Ketika jiwanya lapar, ia justru menambah konsumsi duniawi.
Ketika hatinya kosong, ia menambah hiburan.
Ketika hidupnya kehilangan makna, ia menambah kesibukan.
Akibatnya, masalah utama tidak pernah terselesaikan.
Muthahhari menegaskan bahwa kenikmatan spiritual jauh lebih dalam, lebih murni, dan lebih bertahan lama daripada kenikmatan fisik. Karena itu manusia tidak akan mencapai kebahagiaan yang utuh jika hanya memusatkan hidupnya pada pemuasan kebutuhan material.
Menemukan Ketenteraman yang Sejati
Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia. Islam juga tidak menganggap kekayaan, ilmu, atau kemajuan sebagai sesuatu yang buruk.
Yang diajarkan Islam adalah menempatkan dunia pada posisinya yang benar.
Dunia adalah kendaraan, bukan tujuan.
Dunia adalah jalan, bukan rumah abadi.
Imam Ali a.s. menggambarkan dunia sebagai tempat persinggahan yang harus dimanfaatkan untuk perjalanan menuju Allah. Ketika dunia diposisikan sebagai sarana, ia menjadi berkah. Namun ketika dunia dijadikan tujuan akhir, ia berubah menjadi penjara yang membelenggu jiwa.
Karena itu, rahasia ketenangan bukanlah memiliki lebih banyak dunia, melainkan memiliki orientasi yang benar terhadap dunia.
Hati manusia tidak pernah puas dengan dunia karena ia memang tidak diciptakan untuk dunia semata.
Di dalam diri manusia terdapat kerinduan kepada sesuatu yang lebih besar daripada seluruh isi bumi. Ada dahaga yang tidak dapat dipadamkan oleh harta, jabatan, maupun pujian manusia.
Dahaga itu adalah kerinduan fitrah kepada Sang Pencipta.
Dan selama hati belum kembali kepada sumber asalnya, selama itu pula ia akan terus mencari, terus gelisah, dan terus merasa ada yang kurang.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak diciptakan untuk memiliki dunia.
Manusia diciptakan untuk mengenal Allah.