Dalam sejumlah riwayat yang dinukil dalam literatur hadis dan sejarah Islam, Rasulullah saw. digambarkan pernah menangis ketika mengingat nasib keluarganya setelah kepergiannya. Di antara sosok yang paling beliau khawatirkan adalah putri tercintanya, Sayidah Fathimah az-Zahra a.s. Tangisan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesedihan karena perpisahan, tetapi juga dengan berbagai penderitaan yang, menurut riwayat-riwayat tersebut, akan dialami Fathimah setelah wafatnya sang ayah.
Riwayat-riwayat ini menggambarkan hubungan emosional Rasulullah saw. dengan keluarganya sekaligus mengungkapkan kekhawatiran beliau terhadap masa depan Ahlulbait. Beberapa di antaranya juga memuat gambaran tentang konflik yang akan terjadi setelah wafatnya Nabi, termasuk perlakuan terhadap Sayidah Fathimah dan persoalan hak-haknya.
Berikut empat riwayat yang dikutip dari literatur yang dirujuk dalam buku Biografi Sayidah Fathimah karya Abu Muhammad Ordoni. Penyajian ini mengikuti isi dan atribusi sumber yang disebutkan dalam buku tersebut.
1. Tangisan Rasulullah Mengenang Nasib Keturunannya
Syekh Mufid, dalam kitab al-Amali, meriwayatkan sebuah peristiwa yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Abbas. Menurut riwayat tersebut, ketika Rasulullah saw. terbaring dalam keadaan menjelang wafat, beliau menangis hingga air matanya membasahi wajah.
Orang-orang yang berada di sekitarnya bertanya tentang penyebab tangisan itu. Rasulullah menjawab bahwa beliau menangisi keturunannya dan kejahatan yang akan dilakukan oleh orang-orang zalim dari umatnya setelah beliau wafat.
Dalam riwayat tersebut, Rasulullah menggambarkan seolah-olah beliau menyaksikan putrinya, Fathimah, menghadapi penindasan dan menangis memanggil ayahnya. Namun, tidak seorang pun dari umatnya datang memberikan pertolongan.
Mendengar perkataan itu, Sayidah Fathimah turut tersedu. Rasulullah kemudian berusaha menenangkan putrinya.
“Jangan menangis, putriku,” sabda beliau.
Fathimah menjelaskan bahwa kesedihannya bukan terutama karena perlakuan yang akan diterimanya setelah sang ayah wafat, melainkan karena harus berpisah dengannya.
“Aku tidak menangis karena apa yang dilakukan terhadapku sesudah wafatnya Ayah, tetapi karena akan dipisahkan darimu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah kemudian menghiburnya dengan menyampaikan kabar bahwa perpisahan itu tidak akan berlangsung selamanya. Beliau berkata agar Fathimah bergembira karena akan segera menyusulnya dan menjadi orang pertama di antara Ahlulbait yang bergabung dengannya.
Riwayat ini dinukil dalam al-Bihar, jilid 10.
2. Gambaran Penderitaan Fathimah Setelah Wafatnya Nabi
Riwayat lain yang dinukil dalam al-Bihar, jilid 10, menggambarkan kekhawatiran Rasulullah saw. ketika memandang putrinya. Dalam riwayat tersebut, beliau menyatakan bahwa wajah Fathimah mengingatkannya pada berbagai peristiwa yang akan dialaminya setelah beliau wafat.
Rasulullah menggambarkan seolah-olah beliau melihat penghinaan memasuki rumah Fathimah, kehormatannya dicemari, hak-haknya dirampas, dan hak warisannya diambil. Riwayat itu juga menyebutkan penderitaan fisik yang akan menimpanya, termasuk patahnya pinggang dan gugurnya anak yang dikandungnya.
Semua itu digambarkan berlangsung ketika Fathimah menangis memanggil ayahnya. Namun, panggilan tersebut tidak memperoleh jawaban dan permohonan pertolongannya tidak mendapatkan sambutan.
Riwayat itu melanjutkan bahwa setelah kepergian Rasulullah, Fathimah akan terus hidup dalam kesedihan dan tangisan. Ia akan mengenang dua kehilangan yang sangat berat: terhentinya wahyu dari rumah ayahnya dan perpisahan dengan sosok yang selama ini menjadi tempatnya mendapatkan kasih sayang serta ketenteraman.
Kesunyian malam pun digambarkan sebagai saat yang semakin mengingatkannya pada kehilangan tersebut. Malam-malam yang dahulu diisi dengan mendengarkan Rasulullah membaca Alquran kini menjadi waktu ketika ia merasakan keterasingan.
Riwayat tersebut ditutup dengan gambaran tentang perubahan keadaan Fathimah: sosok yang semasa hidup ayahnya memperoleh penghormatan, tetapi kemudian harus menghadapi perlakuan yang merendahkan dirinya.
3. Rasulullah Mengajarkan Kesabaran kepada Fathimah
Riwayat ketiga dinukil dalam tafsir Alquran karya Furat bin Ibrahim. Jabir bin Abdullah al-Anshari meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah saw. mengalami sakit yang berujung pada wafatnya, beliau meminta Fathimah memanggil suaminya, Imam Ali bin Abi Thalib a.s.
“Semoga kedua orang tuaku menjadi penebus bagimu! Panggillah suamimu untukku,” sabda Rasulullah.
Fathimah kemudian meminta kedua putranya, Imam Hasan dan Imam Husain a.s., untuk menyampaikan pesan tersebut kepada ayah mereka. Ia meminta keduanya mengatakan bahwa kakek mereka memanggilnya.
Imam Husain lalu pergi menjemput Imam Ali. Setelah memasuki rumah, Imam Ali mendapati Fathimah duduk di sisi Rasulullah saw. Dalam suasana yang dipenuhi kesedihan itu, Fathimah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penderitaan yang sedang dialami sang ayah.
“Betapa aku khawatir atas penderitaanmu, Ayah!”
Rasulullah menjawab bahwa setelah hari itu, beliau tidak akan lagi mengalami penderitaan. Beliau kemudian meminta Fathimah melakukan sebagaimana yang pernah beliau lakukan ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia.
Untuk menjelaskan maksudnya, Rasulullah mengingatkan bahwa air mata boleh mengalir dan hati boleh bersedih, tetapi manusia hendaknya tidak mengucapkan perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah.
Beliau kemudian mengenang kesedihannya ketika Ibrahim meninggal dunia.
Riwayat ini, yang dinukil dalam al-Bihar, jilid 6, memperlihatkan bagaimana Rasulullah mengajarkan kesabaran di tengah kehilangan. Kesedihan tidak harus disangkal atau disembunyikan, tetapi perlu diungkapkan dengan tetap menjaga keridaan Allah.
4. Wasiat Rasulullah kepada Imam Ali tentang Fathimah
Riwayat keempat menggambarkan pertemuan Rasulullah saw. dengan Imam Ali, Sayidah Fathimah, Imam Hasan, dan Imam Husain pada masa menjelang wafat beliau.
Dalam riwayat tersebut, Rasulullah memanggil mereka dan meminta orang-orang lain meninggalkan ruangan. Beliau kemudian meminta Ummu Salamah berjaga di pintu agar tidak seorang pun mendekat.
Setelah itu, Rasulullah meminta Imam Ali mendekat. Beliau menggamit tangan Fathimah dan meletakkannya di dada, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Imam Ali. Ketika hendak berbicara, Rasulullah justru menangis hingga tidak mampu segera menyampaikan perkataannya.
Melihat keadaan itu, Imam Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain turut menangis.
Fathimah kemudian mengungkapkan kesedihannya. Ia mengatakan bahwa tangisan Rasulullah semakin melukai hatinya. Ia menyebut sang ayah sebagai pemimpin para nabi dan nabi Allah yang paling terpercaya, lalu mempertanyakan siapa yang akan melindungi anak-anaknya setelah beliau wafat.
Ia juga bertanya siapa yang akan melindunginya dari penghinaan, siapa yang akan menjadi sandaran Imam Ali setelah kepergian Rasulullah, dan siapa yang akan memperhatikan urusan wahyu serta perkara Allah.
Tangisan keluarga itu berlangsung ketika Rasulullah memeluk Fathimah bersama Imam Ali dan kedua putranya. Setelah mengangkat kepala, beliau meletakkan tangan Fathimah ke tangan Imam Ali dan menyampaikan pesan agar sang menantu menjaga putrinya.
“Abul Hasan, ia adalah amanat Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, kepadamu. Karena itu, jagalah amanat Allah dan Rasul-Nya dengan melindunginya. Aku tahu bahwa engkau akan melakukannya.”
Rasulullah kemudian menegaskan kedudukan Fathimah sebagai pemimpin perempuan di surga dan menyebutnya sebagai Maryam al-Kubra. Beliau juga menyampaikan bahwa sebelumnya telah memohon sejumlah hal kepada Allah untuk dirinya dan Imam Ali, dan Allah telah mengabulkan apa yang dimintanya.
Selanjutnya, Rasulullah meminta Imam Ali melaksanakan apa yang diperintahkan Fathimah kepadanya. Beliau menjelaskan bahwa dirinya juga telah memerintahkan Fathimah melakukan sejumlah urusan sebagaimana yang disampaikan Jibril kepadanya.
Rasulullah kemudian menyatakan bahwa keridaannya mengikuti keridaan Fathimah, demikian pula keridaan Allah dan para malaikat. Dalam riwayat itu, beliau juga melontarkan kutukan terhadap orang-orang yang menindas Fathimah, merampas haknya, dan mencemari kehormatannya.
Riwayat tersebut menggambarkan bagaimana Rasulullah memeluk dan mencium tangan putrinya berulang kali. Beliau menangis hingga air matanya membasahi janggut dan pakaian. Imam Hasan dan Imam Husain pun menangis sambil mencium kaki sang kakek.
Ketika Imam Ali berusaha menjauhkan keduanya, Rasulullah meminta agar mereka dibiarkan mendekat dan mencium beliau. Beliau menyampaikan bahwa kedua cucunya itu akan menghadapi kesedihan dan persoalan berat setelah kepergiannya. Beliau kemudian memohon kepada Allah agar melindungi mereka dan menyerahkan mereka ke dalam perlindungan-Nya serta orang-orang beriman yang lurus.
Di tengah suasana perpisahan tersebut, Fathimah kembali memohon kepada ayahnya agar berbicara kepadanya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya melihat para malaikat maut mendatangi Rasulullah dengan keras.
Rasulullah kemudian menyampaikan perkataan perpisahan kepada putrinya:
“Putriku, aku meninggalkanmu. Salam untukmu dariku.”
Riwayat ini dinukil dalam al-Bihar, jilid 6.
Perpisahan yang Menyimpan Duka dan Peringatan
Keempat riwayat di atas menghadirkan gambaran tentang kedekatan Rasulullah saw. dengan Sayidah Fathimah a.s. sekaligus kesedihan yang menyertai hari-hari terakhir kehidupan beliau. Dalam kisah-kisah tersebut, tangisan Rasulullah tidak hanya menggambarkan beratnya perpisahan dengan keluarga, tetapi juga kekhawatiran terhadap apa yang akan mereka hadapi setelah beliau wafat.
Khusus mengenai Fathimah, riwayat-riwayat itu menyoroti dua hal yang saling berkaitan: kedudukannya yang istimewa di sisi Rasulullah dan penderitaan yang, menurut penuturan tersebut, akan dialaminya setelah sang ayah tiada. Wasiat Rasulullah kepada Imam Ali untuk menjaga Fathimah juga memperlihatkan pentingnya perlindungan terhadap putri beliau dan keluarganya.
Perlu dibedakan bahwa bagian-bagian di atas merupakan penuturan riwayat sebagaimana dinukil dalam sumber yang dirujuk oleh Abu Muhammad Ordoni. Adapun penilaian mengenai autentisitas setiap riwayat memerlukan penelitian tersendiri terhadap sanad, redaksi, dan konteks masing-masing sumber.
Dengan demikian, kisah-kisah ini dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi literatur Ahlulbait yang merekam kasih sayang Rasulullah kepada keluarganya, kesedihan menjelang perpisahan, serta kekhawatiran terhadap nasib mereka setelah beliau wafat.
Bacaan terkait