Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Akhlak Mulia Para Ksatria Karbala (1)

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (Hadis Rasulullah saw)

Adik-adik, Rasulullah saw pernah bersabda bahwa beliau diutus Allah untuk memperbaiki akhlak umatnya. Artinya, akhlak yang baik itu sangat penting. Sayangnya, coba lihat di sekitarmu. Apakah kamu pernah melihat anak-anak yang membentak orang tua, pergi dari rumah tanpa pamit, mengejek teman, tidak patuh dengan guru, atau membuang sampah sembarangan?

Coba kamu bayangkan  jika kamu membentak ibu yang telah melahirkanmu atau pergi dari rumah tanpa izin maka  ibumu akan sedih. Rasulullah saw pun demikian, beliau akan sedih bila melihat akhlak burukmu. (Baca: Mengapa Hanya Imam Ali as dan Imam Husein as Yang Bangkit Melawan Penguasa Zamannya?)

Tahukah kamu bahwa Rasulullah saw dan Ahlul Bait as memiliki akhlak yang sangat mulia? Yuk, kita simak kisah berikut ini, tentang akhlak mulia Imam Husein, keluarga dan para sahabatnya.

Akhlak Mulia Imam Husain AS

Imam Husain as saat ingin meninggalkan Madinah, pertama beliau pergi berziarah ke pusara datuknya, Nabi saw dan mengucapkan selamat tinggal kepada beliau saw. Imam Husain as juga pergi ke makam ibunda Fatimah as, berdiri di hadapan tanah suci, mengingat seluruh keagungan, pengorbanan dan kasih sayang Ibunda dan berpamit untuk terakhir kalinya. Lalu beliau as pergi ke makam saudara beliau, Imam Hasan as, melaksanakan shalat dan berpamitan dengan sang kakak.

Hal seperti ini juga adik-adik lakukan ketika hendak pergi dari rumah kan, sebelum pergi kita berpamit kepada ayah atau bunda dan mencium tangan mereka?

Pada hari Asyura, setiapkali pasukan musuh menghina atau melaknat Imam Husain as, beliau as hanya mengadukannya kepada Allah swt. Tidak pernah sekalipun keluar ucapan yang menyalahi akhlak, bahkan beliau selalu berusaha mengingatkan mereka supaya mereka sadar bahwa mereka telah ditipu oleh Bani Umayyah. Beliau as mengajak mereka kembali kepada agama kakeknya Nabi Muhammad saw. (Baca: Akhlak Pengikut Ahlul Bait)

Ketika teman-teman mengolok-olok dan menghina kita, apa yang harus kita lakukan? Mengikuti akhlak mulia Imam Husein as atau membalas perbuatan mereka dengan keburukan juga?

Ketika di Karbala, Syimr maju ke depan dan berteriak: “Dimanakah putera-putera saudariku (Ummul Banin),  Abbas, Abdullah, Ja’far dan Usman?  Aku (Syimr) ingin memberikan keamanan kepada kalian.”

Imam Husain as berkata: Jawablah (seruan)nya, meskipun ia seorang yang fasik, karena ia salah satu paman kalian.

Ucapan Imam Husain as ini menjelaskan bahwa manusia dalam kondisi apapun harus menjaga akhlaknya sekalipun dihadapan musuh.

Akhlak Mulia Abul Fadl Abbas

Sekarang mari kita saksikan bagaimana dengan  Abul Fadl Abbas yang dikenal sebagai Rembulan Bani Hasyim. Lebih dari 30 tahun ia menjadi saudara Imam Husain as, namun tidak pernah memanggil beliau as dengan sebutan saudara. Ia selalu memulai dialog penuh kasih dengan putera Zahra dengan panggilan “tuanku, junjunganku”. Kecuali satu kali, pada detik-detik terakhir perjuangannya , ia memanggil: “Wahai saudaraku, tolonglah saudaramu ini.”

Jika adik- adik di posisi Sayyidina Abbas apakah akan melakukan hal yang sama?

Ketika Imam Husein as mendekatinya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan beliau, Abbas berkata: “Jangan bawa jasadku ke perkemahan, aku malu dan tidak ingin membuat para wanita dan anak-anak sedih karena tidak bisa membawakan air untuk mereka.

Akhlak Ibunda Qasim, Isteri Imam Hasan as

Sekarang kita lihat, bagaimana akhlaq salah satu wanita mulia yang hadir di Karbala, isteri Imam Hasan as, ibu Qosim. Qosim memohon izin kepada Imam Husain as untuk maju ke medan perang. Supaya permohonan Qosim diterima, sang ibu meminta kepada beliau as. Imam Husain as pun merestui kepergiannya ke medan tempur untuk membela kehormatan dan kesucian imamah. (Tonton: Video Kartun Anak: Imam Hasan as. Memerdekakan Budak)

Setelah Qosim syahid, Imam Husain as membawa jenazah sang keponakan ke kemah. Ibunda Qasim tidak keluar dari kemahnya karena rasa malu dan akhlak yang dimilikinya, hingga akhirnya Imam Husain as menanyakan keadaannya dan memintanya keluar dari kemah.

Lihatlah akhlak dan kepribadian agung wanita mulia ini. Pertama ia memutari Imam Husain as dan berkata, “Wahai tuanku, terimalah kurban kami.” Saat Ibunda Qasim menuju kepala jenazah sang putera, ia tidak bergegas menuju ke atas kepala jenazah karena menghormati bibi-bibinya. Ia duduk di bawah kaki jenazah Qasim dan mengusap sepatu sang putera yang berlumuran darah.

Demikianlah akhlak mulia manusia-manusia suci ini, semoga kita mampu meneladaninya.

Bersambung…

Baca: “Peringatan Asyura Momentum Menghidupkan Fakta Sejarah

 

No comments

LEAVE A COMMENT