Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Asyura, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Adalah lagu lama tapi dirasa tak pernah usang. Terkadang boleh dibilang sebenarnya kenal, tetapi keadaan yang biasa fokus pada yang lain, menjadi lupa. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ali, “lâ yadri annahu yadri’ (seseorang tak menyadari kalau dirinya mengetahui). Maka harus ada yang mengingkatkannya.

Ada pula yang memang tidak tahu, dan keadaan ini dalam bahasa fikih sebagai salah satu di antara dua kemungkinan: qâshir, yakni ketidak tahuannya ditolerir. Atau muqashir, yang berarti ketidak tahuannya tidak ditolerir. Kemungkinan yang kedua ini, sebagaimana yang dikatakan dalam syair Arab: “Bila kau tak tahu, itu musibah. Namun bila kau tahu, musibahnya lebih besar.”

Sebagian orang heran melihat peringatan Asyura, mengapa di dalamnya orang-orang yang hadir itu menangis? Lalu menepuk dada, bahkan sampai ada yang menepuk kepala dengan tangan!? Adalah sebuah tanda tanya yang menurut penulis, lebih tepatnya “menepuk”, bukan “memukul”. Adapun sampai menggunakan benda tajam diketukkan di atas kepala, adalah tindakan melukai diri, yang dilakukan oleh sekelompok kecil.

 

Nabi saw Menangisi Al-Husain

Menangis karena sedih, dan sedih karena apa atau siapa adalah hal yang perlu diketahui. Dalam kaitannya dengan menangis atas Imam Husein as, beberapa hal yang ingin penulis ketengahkan di sini:

Pertama, apakah Rasulullah saw menangis karena al-Husain adalah cucunya, sebagaimana halnya manusia biasa menangisi anaknya yang mati? Ataukah kedua, karena al-Husain lebih dari sekedar cucu Nabi?

Bila nabi Muhammad saw dipandang sebagai basyar, maka tak bedanya dengan tangis kita ketika ditinggal mati oleh orang yang kita cintai. Namun bila dipandang sebagai utusan Allah, sebagaimana dalam QS: an-Najm 3-4, bahwa yang datang dari beliau bukan buah kecenderungan basyari melainkan dari Tuhannya, dan QS: al-Ahzab 40 bahwa beliau bukan seorang ayah bagi seseorang melainkan adalah Rasulullah, maka tangisnya beda dengan halnya tangis kita.

Diceritakan dalam “al-Malhuf” kitab maqtal karya Ibn Thawus, bahwa Ummu Fadhal isteri Abbas bin Abdul Muthalib mendapati Rasulullah saw menangis. “Mengapa engkau menangis wahai Rasulullah?”.

Beliau menjawab, “Jibril memberitahuku, bahwa umatku akan membunuh anakku (al-Husain) ini.”

 

Menangisi Al-Husain Menangisi Rasulullah saw

Kedua, di kesempatan lain beliau juga berkata begitu ketika ditanya hal serupa oleh para sahabat. Mereka pun menangis menyaksikan Nabi saw usai ceramah di hadapan mereka yang hadir di dalam masjid, berdoa: “Ya Allah, Jibril mengabariku bahwa anakku (al-Husain ini) akan dibunuh dan dihinakan…”

Tangisan mereka tiada lain adalah atas Nabi mereka saw yang terlihat dalam kesedihan yang mendalam, sampai beliau mengungkapkan: “Allah tidak akan memberikan syafaatku kepada mereka (yang membunuh al-Husain as) pada hari kiamat nanti.”, dan berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau berkati orang yang membunuh dan yang menghinakannya.”

Ketiga, kita sebagaimana mereka sebagai umat Nabi saw, ketika beliau bersabda: “Husein bagian dariku dan aku dari bagian Husein..”, maka bersikap terhadap yang satu dari kedua pribadi agung ini, sama halnya terhadap yang lain. Seperti bahwa menangisi al-Husain adalah menangisi Rasulullah saw.

Saudi Shiite Muslim men mourn during the commemoration of Ashura, which marks the 7th century killing of Imam Hussein, grandson of Islam's Prophet Mohammed, on November 25, 2012 in the eastern province of Qatif. AFP PHOTO/STR

Motivasi Mengenal Al-Husain

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada putrinya: “Duhai Fathimah, semua mata pada hari kiamat akan menangis kecuali mata yang menangis atas musibah Al-Husain. Ia akan tertawa (pada hari itu) dan disampaikan kabar gembira kepadanya tentang nikmat-nikmat surga baginya.” (Biharul Anwar, jilid 44 halaman 293).

Kita meyakini hari akhir, bahwa kelak semua manusia setelah mati akan dibangkitkan oleh Allah untuk menerima balasan atas amal perbuatan mereka di dunia. Melihat sabda Nabi saw tersebut bahwa menangisi al-Husain memberikan kebahagiaan di hari itu, kita termotifasi untuk mengenal siapa al-Husein, yang dengan menangisinya membawa manfaat bagi kita pada hari kiamat nanti.

Mengenalnya bukan sekedar tentang hari kelahiran dan kesyahidan al-Husein serta putra dan ayah siapa beliau, tetapi juga yang lebih penting dari itu ialah mengenai sirahnya. Mengapa dan bagaimana beliau bangkit melawan kezaliman hingga mati syahid di Karbala. Lalu mengapa Imam Husein membawa para wanita dari keluarganya yang kemudian ditawan, di-berjalan jalan kaki-kan dari Karbala ke Kufah sampai Syam, hingga mereka kembali ke Madinah dalam tanpa bersama Imam Husein serta putra-putra Ali bin Abi Thalib (sa) dan para sahabatnya.

 

Turut Bersedih Karena Cinta

Terdapat riwayat-riwayat bahwa para nabi pun menangis saat mendengar atau menyaksikan sesuatu yang terkait dengan al-Husein. Dapat dirujuk kitab-kitab mengenai keutamaan Imam Husein, seperti “al-Khashaish al-Husainiyah” karya Syekh Ja’far Syustari.

Namun bagi kita, biasanya menangisi al-Husain karena cinta yang didapati dari mengenal beliau. Sebagaimana pepatah dari bahasa kita, “Tak kenal maka tak sayang”.

Adalah sebuah keniscayaan apabila orang yang dicintai bersedih, maka yang mencintainya turut bersedih karenanya. Hal ini diungkapkan oleh riwayat bahwa: “Para pecinta kami (Ahlulbait Nabi saw) bergembira karena kami bergembira, dan bersedih karena kami bersedih.”

Selain motivasi di atas, sebagai nota bene di akhir paragraf ini, adanya acara besar dalam memperingati hari haul Imam Husein (wafat Asyura 61 H), dengan ceramah hikmah, ma`tam dan maqtal serta doa ziarah di dalamnya, memotifasi seseorang untuk mengenal al-Husain -salamullah ‘alaih.

Post Tags
Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT