Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Berharap Kepada Allah SWT (2/Selesai)

Imam Musa bin Jakfar al-Kadhim as dalam doanya menyebutkan;

إن تعذّبني فإنّي لذلك أهل، وهو يا ربّ منك عدل، وإن تعف عنّي فقديماً شملني عفوك… وليس عذابي ممّا يزيد في ملكك مثقال ذرّة، ولو أنّ عذابي ممّا يزيد في مُلكك لسألتك الصبر عليه، وأحببت أن يكون ذلك لك، ولكن سلطانك اللَّهم أعظم، وملكك أدوم من أن تزيد فيه طاعة المطيعين، أو تنقص منه معصية المذنبين فارحمني يا أرحم الراحمين، وتجاوز عنّي يا ذا الجلال والإكرام، وتب عليّ إنّك أنت التّواب الرحيم.

“Jika Engkau mengazabku maka sungguh aku layak untuk demikian, dan itu merupakan keadilan dariMu, Ya Tuhan. Sedangkan jika Engkau mengampuniku maka ampunanMu telah meliputiku sejak dahulu…. Dan azab terhadapku bukanlah sesuatu yang menambah barang sebutir zarrah pada kerajaanMu. Dan seandainya azab terhadapku menambah sesuatu bagi kerajaanMu niscaya aku memohon kepadaMu kesabaran atasnya, dan aku menginginkan hal itu untukMu.

“Namun, ya Allah, kerajaanMu terlampau agung dan kerajaanMu terlampau kekal untuk dapat ditambahkan padanya ketaatan orang-orang yang taat, atau berkurang darinya karena maksiat para pendosa. Maka kasihanilah Aku, wahai Yang Paling Pengasih di antara para pengasih, ampunilah aku, wahai Zat Yang Maha Agung dan Mulia, dan terimalah taubatku karena sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”[1]

Baca: Berharap Kepada Allah SWT (1)

Ungkapan indah ini sekaligus merupakan penjelasan mengenai makna harapan (raja’) yang sama sekali tidak mengekspresikan sebentuk protes kepada Allah SWT. Demikianlah cahaya makrifat yang memancar dari keagungan khazanah pengetahuan Ahlul Bait as sehingga orang yang terjauh dari cahaya ini tidak akan menjangkau hakikat irfan. Ahlul Bait-lah yang mendapatkan anugerah cahaya dari Allah sehingga mereka memancarkan cahaya kebenaran sedemikian cemerlang. Allah SWT berfirman;

وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُوراً فَمَا لَهُ مِن نُّور.

“Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”[2]

Hal lain yang membuat kita berpengharapan ialah keyakinan bahwa azab terhadap kita akan menyenangkan musuh Allah, sementara masuknya kita ke dalam surga ke dalam surga akan menyenangkan Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam doa pemuka kaum arif, Imam Ali Zainal Abidin al-Sajjad as;

إلهي إن أدخلتني النار ففي ذلك سرور عدوّك، وإن أدخلتني الجنّة ففي ذلك سرور نبيّك، وأنا والله أعلم أنَّ سرور نبيّك أحبّ إليك من سرور عدوّك.

“Tuhanku, jika Engkau memasukkan aku ke dalam neraka maka yang demikian itu merupakan kegembiraan bagi musuhMu, sedangkan jika Engkau memasukkan aku ke surga maka yang demikian itu merupakan kegembiraan bagi nabiMu. Dan Demi Allah, aku mengetahui bahwa kegembiraan nabiMu lebih Engkau sukai daripada kegembiraan musuhMu.”[3]

Baca: Any Quest 10: Tak Ada Kontradiksi dalam Sifat Dzatiyyah dan Sifat Fi’liyyah Allah SWT

Raja’ atau harapan yang dimaksud ialah harapan yang mendorong kepada perbuatan yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pengharap sehingga tidak bertentangan dengan kehendak Allah, dan tidak pula menjadi sebentuk protes kepadaNya, bukan harapan yang menyebabkannya justru apatis dan enggan berusaha berbuat sesuai apa yang diharapnya.

Ibnu Abi Najran meriwayatkan bahwa dia bertanya kepada Imam Jakfar al-Shadiq as ihwal sebagian orang yang suka berbuat maksiat sembari mengaku berharap kepada Allah tapi tetap suka bermaksiat hingga akhir hayat mereka. Imam as lantas berkata;

هؤلاء قوم يترجّحون في الأمانيّ، كذبوا ليسوا براجين، من رجا شيئاً طلبه، ومن خاف من شيء هرب منه.

“Mereka adalah kaum yang lebih suka berangan-angan, mereka berdusta dan tidak berharap, karena orang yang berharap sesuatu akan berusaha mencapatkannya, dan orang yang takut kepada sesuatu akan kabur darinya.”[4]

Seorang hamba ketika telah menanamkan bibit keimanan dalam sanubarinya kemudian menyiraminya dengan ketaatan lalu berharap kepada Tuhannya maka inilah harapan yang terpuji dan hakiki. Demikian pula orang semula bersimbah maksiat dan dosa kemudian berhenti dan bertaubat. Sedangkan orang yang tetap suka bermaksiat dengan dalih tetap berharap ampunan maka dia tergolong kalangan yang disebutkan dalam firman Allah SWT;

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَـذَا الأدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا.

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: ‘Kami akan diberi ampun.’”[5]

Baca: Jalinan Ruh Suci Imam Husein a.s. dengan Allah Kekasihnya Lewat Lantunan Doa

Gambarannya yang lebih sederhana ialah bagaimana mungkin seseorang dapat merasa berharap akan memetik buah dari tanaman yang tidak ditanam di tempat yang subur, dan tidak pula dirawat dengan baik? Orang yang patut merasa berharap demikian adalah orang yang menanamnya di lahan yang subur dan dirawatnya dengan baik.

Firman Allah SWT yang mengawali artikel ini, yaitu “janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya,” tentu tidak menjanjikan ampunan secara Cuma-Cuma tanpa sebab amal baik sebelumnya, melainkan harus didahului oleh taubat sehingga tak ada dosa apapun yang dikecualikan dalam hal ini, termasuk syirik.

Dalil bahwa ampunan yang dimaksud adalah untuk orang yang bertaubat ialah ayat selanjutnya;

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ.

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”[6]

(Selesai)

[1] Lihat catatan kaki Mafatih al-Jinan cetakan Thahir Khushniwis, hal. 592 – 594.
[2] QS. Al-Nur [24]: 40.
[3] Mafatih al-Jinan, Doa Abu Hamzah al-Tsumali.
[4] Al-Wasail, juz 15, hal. 16, Bab 13 Jihad al-Nafs, Hadis 2.
[5] QS. Al-A’raf [7]; 169.
[6] QS. Al-Zumar [39]; 54.


No comments

LEAVE A COMMENT