Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Hubungan Alquran dan Ahlulbait Nabi Saw

“Aku tinggalkan dua pusaka yang sangat berharga, pertama Alquran, kedua Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan pernah terpisah satu sama lain, dan jika kalian berpegang teguh kepada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.” (Terdapat dalam Shahih Muslim, Jami’ ash-Shahihat Tirmidzi, al-Mustadrak Hakim Naisaburi, serta puluhan kitab Ahlusunnah lainnya)

Hadis tsaqalain di atas adalah satu-satunya hadis yang diterima secara luas, dan termasuk salah satu hadis sahih dari semua hadis yang disampaikan oleh Rasul saw. Hadis ini juga diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis rujukan Ahlussunnah. Hadis ini menduduki tingkat tertinggi dalam hal otentisitas dan penerimaan.

Sebagian ulama Ahlussunnah bahkan menambahkan kalimat berikut di akhir hadis, “Ali selalu bersama dengan Alquran, dan AIquran selalu bersama Ali; keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.” (AI-Qunduzi, Ya Nabi al-Mawaddah, hal. 32-40; lbn Hajar, as-Sawa’iq, hal. 57)

Baca: Ayat-ayat Alquran yang Turun Untuk Sayidah Fathimah a.s.

Para ahli hadis menyatakan bahwa perawi hadis ini jumlahnya kurang lebih mencapai tiga belas sahabat. (AI-Halabi, as-Sirah, Vol. 3I, hal. 308) Menurut sejumlah ahli hadis dan sejarawan, baik Ahlussunnah maupun Syiah, dalam kesempatan yang berbeda-beda selama hidupnya Nabi saw tidak pernah lupa untuk memperingatkan umat Islam bahkan di saat-saat akhir hidupnya akan pentingnya hubungan antara dua sumber Islam ini.

Dengan demikian beliau menegaskan seluruh program masa depan Islam hanya dengan satu kalimat perintah. Perbedaan kecil bisa dilihat dalam bentuk hadis-hadis yang relevan, sebagian menguraikan masalah ini secara rinci dan sebagian secara ringkas, tergantung pada kesempatan yang ada, namun isi dan maknanya sama, hubungan yang kuat dan tak bisa dipisahkan antara Alquran dan Ahlulbait Nabi saw,

Ibnu Hajar, seorang ulama Ahlussunnah menulis: “Belakangan ini kita menyebutkan perbedaan versi hadis tersebut. Sebagian meriwayatkan ucapan-ucapan Nabi saw di Arafah saat perjalanan Haji Wada; sebagian yang lain meriwayatkan ucapan-ucapan beliau saat berada di tempat tidur kematiannya di Madinah, yang dikelilingi oleh para sahabat; yang lain disampaikan di Ghadir Khum; saat beliau kembali dari Thaif.”

lbn Hajar menambahkan: “Tak satupun di antara versi-versi ini bertentangan satu dengan lainnya, karena tidak ada alasan kenapa Nabi  Muhammad saw tidak mengulang kebenaran  yang sama dalam semua kesempatan ini, dan dalam kesempatan yang lain. Hal ini membuktikan signifikansi besar yang dimiliki oleh Alquran maupun Ahlulbait Nabi.” (Ibn Hajar. as-Sawa’iq. hal. 89)

Dalam hadis lain yang dikenal dengan hadis tentang kebenaran (hadis al-haq), Nabi Muhammad saw bersabda: “Ali bersama kebenaran, dan kebenaran bersama Ali, di mana saja ada kebenaran maka Ali akan berada di tempat itu.” (Ibn Qutaybah, Imamah wa as-Siyasah. Vol. 1, hal. 68; al-Khatib Baghdadi, Tarikh al-Baghdadi, Vol. 4. hal. 21)

Baca: Alquran, Pembawa Keselamatan

Kita tahu bahwa ayat-ayat Alquran membentuk ringkasan perintah-perintah Tuhan dan hukum Islam; ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya adalah jaminan bagi kebahagiaan dan keselamatan manusia. Namun interpretasi dan penafsiran Alquran harus dilaksanakan oleh orang-orang yang telah terbiasa dengan bahasa wahyu dan orang yang benar-benar memiliki kompetensi yang diperlukan, menyangkut baik pengetahuan maupun perbuatan. Karena itu Syiah percaya bahwa orang-orang yang memiliki kompetensi ini mesti diidentifikasi oleh Nabi saw sendiri dan ditunjukkan olehnya untuk mengatur urusan umat dan membimbingnya. Mereka adalah orang-orang yang memahami bahasa wahyu dan bisa menempatkan dirinya untuk menjalankan tugas menafsirkan dan menjelaskan ayat-ayat Tuhan secara proporsional. Menyejajarkan Ahlulbait Nabi saw dengan Alquran, dengan demikian, adalah merupakan kebutuhan Alquran kepada suatu penafsiran agar tujuan dan aturan-aturannya bisa dipahami.

Jika kita melihat secara teliti isi hadis tersebut, kita akan menyaksikan bahwa memisahkan AIquran dari Ahlulbait kemudian mengikuti ucapan-ucapan dan pandangan orang-orang yang tidak mengenal simbol-simbol Alquran dan kebenarannya akan  menjerumuskannya ke dalam kekeliruan dan kesesatan. Karena itu hadis tersebut menekankan bahwa hanya Ahlulbait Nabi saw yang mampu menegakkan makna sesungguhnya dan kategori dalam ayat-ayat Alquran yang bersifat alegoris.

Fakta bahwa Nabi saw menempatkan Alquran dan Ahlulbaitnya yang sejajar menunjukkan bahwa keduanya berjalan di arah yang sama dan menuju tujuan yang sama. Alquran adalah hukum dan kitab suci Tuhan, dan Ahlulbait Nabi adalah penafsir, eksekutor dan pengawalnya. Karena itu memisahkan dan menjauhkan diri sendiri dari Ahlulbait Nabi adalah sama dengan mengundang kehancuran.

Kemunduran dan penyelewengan mulai muncul ketika pemisahan seperti itu mulai terjadi, dan manusia berusaha untuk berpegang kepada masing-masing dari dua hal itu secara terpisah. Memahami Alquran dan menjelaskan pengetahuan yang terkandung di dalamnya hanya  mungkin dengan merujuk kepada ucapan orang-orang tersebut, yang kepadanya telah dilimpahkan pengetahuan secara langsung oleh Tuhan, atau paling tidak pengetahuan mereka berasal dari instruksi yang berasal dari sumber khusus. Pribadi-pribadi seperti itu hanya dimiliki  oleh para imam yang terbebas dari kesalahan (maksum) dari Ahlulbait Nabi.

Ibn Hajar juga mengutip kalimat berikut yang diucapkan oleh Nabi Muhammad saw: “Jangan berusaha untuk melampaui dua pasang amanat ini (Kitab Suci dan Ahlulbait Nabi), karena hal itu akan  membawa kalian kepada  penderitaan, dan jangan setengah-setengah dalam mengikuti keduanya, karena hal itu juga akan membawa kalian kepada kehancuran. Jangan bayangkan bahwa anggota keluarga Nabi itu bodoh, karena mereka adalah orang-orang memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada kalian, dan memahami bahasa wahyu secara lebih baik.” (Ibn Hajar. as-Sawa’iq, hal. 153)

Baca: 10 Faktor yang Mendatangkan Ampunan dalam Alquran

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata: “Kalian tidak akan pernah tetap percaya pada ikatan kalian dengan Alquran kecuali jika kalian mengenali siapa yang telah mengkhianati ikatannya, dan kalian tidak akan berpegang teguh kepada Alquran kecuali jika kalian telah mengenali siapa yang telah meninggalkannya. Carilah jalan yang lurus dengan kesetiaan dan cara-cara mengikuti Alquran dari ahli-ahli Alquran, karena merekalah orang-orang yang terus berusaha untuk menghidupkan ilmu dan pembelajaran serta menumbangkan kebodohan. Dengan cara menaatii mereka kalian akan memahami pengetahuan yang mereka miliki. Kalian memahami diam mereka dari bicaranya, memahami penampilan lahir mereka dari penampilan batin mereka. Mereka tidak pernah menentang perintah agama dan tidak pernah jatuh ke dalam pertengkaran. Agama adalah saksi diam namun nyata yang ada di tengah-tengah mereka.” (Nahj al-Balaghah, khotbah ke-145)

*Dikutip dari buku karya Mujtaba Musawi Lari – Imam Penerus Nabi Muhammad Saw


No comments

LEAVE A COMMENT