Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)

Ini Bukan Sekedar Lomba

Upacara bendera telah terlaksana dengan tertib dan teratur. Upacara hari ini lebih lama dari upacara biasanya karena Bapak kepala sekolah dengan semangat 45 menyampaikan pidatonya yang berapi-api. Pesan terakhir Pak guru, “Anak-anakku sekalian! Kemerdekaan ini diraih dengan air mata dan darah. Para pahlawan pendahulu kita rela mati mengorbankan harta, keluarga, perasaan, waktu, tenaga, pikiran bahkan nyawa. “Merdeka atau Mati” adalah semangat mereka karena mereka tidak rela anak keturunan mereka dijadikan budak para penjajah  bangsa Indonesia.”

“Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan perjuangan dan pengorbanan mereka. walaupun sudah lama negara kita ini merdeka, tetapi tidak maju bahkan bisa dikatakan masih terjajah dalam tangan penjajahan modern yang samar-samar,” lanjut Pak guru.

“Marilah kita bahagiakan para pahlawan kita. Sebagai generasi penerus perjuangan mereka, kita perlu mengisi kemerdekaan ini dengan sesuatu yang berguna yang dapat membuat para pahlawan bangga kepada kita. Hindari melakukan tindakan yang menjadikan kita dicap sebagai pengkhianat bangsa, generasi tidak berguna dan hal-hal buruk lainnya,” pesan lain Pak guru.

Adik-adik pun terlihat antusias mendengar pidato Pak guru. Akhirnya upacara pun selesai. Seusai upacara adik-adik yang biasanya terlihat capek, kali ini tetap terlihat bersemangat. Ada apa gerangan?

Ternyata mereka sudah tidak sabar untuk mengikuti acara yang sudah mereka tunggu, yaitu perlombaan 17 Agustus. Memang sudah menjadi tradisi bahwa setiap Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus selalu diadakan perlombaan, dari lomba lompat karung, tarik tambang, makan kerupuk sampai panjat pinang. Pokoknya pasti seruuuu…

Namun sayangnya saya, Anda, kalian dan sebagian besar generasi muda mungkin tidak mengetahui filosofi (tujuan) permainan khas 17-an seperti balap karung, engrang, maupun makan kerupuk. Bahkan para orang tua pun juga tidak mengetahui apa filosofi yang terkandung di dalamnya.

Mereka sekedar mengadakan lomba turun temurun melanjutkan tradisi nenek moyang, padahal  sebetulnya ada penjelasan penting dibalik permainan-permainan itu. Barangkali sebelum dimulai perlombaan ada baiknya panitia memberitahukan nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam permainan tersebut.

Menurut guruku, ada hal menarik yang membuat sejumlah permainan ini tetap dilombakan hingga sekarang, misalnya main jangkungan atau teman-teman mungkin mengenalnya dengan nama egrang itu tetap diperlombakan dengan tujuan untuk menghina kolonialisme (penjajah) Belanda. Mereka main engrang untuk mengejek orang Belanda yang terkenal dengan tubuhnya yang jangkung. Orang Indonesia pun menggunakan egrang agar terlihat tinggi seperti orang Belanda.

Terlepas dari asal-usulnya, permainan ini mengajarkan kita untuk selalu memiliki kepercayaan pada diri sendiri, karena apabila kita melangkah dengan ragu-ragu, kita akan terjatuh. Sama halnya dengan hidup ini, kita harus percaya diri dalam setiap langkah, jangan biarkan keraguan membuat kita menyesal.

Lalu lomba balap karung itu mengingatkan masa susah saat dijajah Jepang, karena mayoritas pakaian masyarakat ketika itu adalah karung goni.

Alhamdulillah, dengan semakin majunya bangsa ini, sekarang karung goni malah dibuat menjadi beragam keterampilan yang menarik, seperti tas ransel cantik yang bisa digunakan untuk bekerja ataupun sekolah. Karung goni pun kini menjadi simbol kebanggaan Indonesia yang sudah merdeka.

Selanjutnya lomba makan kerupuk yang sudah menjadi tradisi yang mendarah daging untuk diadakan setiap tanggal 17 Agustus. Adik-adik mungkin sudah pernah merasakan betapa susahnya menangkap dan menggigit kerupuk dalam lomba yang digelar di sekolah atau di lingkungan rumah kita.

Tradisi lomba makan kerupuk berasal dari keadaan rakyat Indonesia yang masih belum memiliki kemampuan ekonomi yang baik setelah zaman penjajahan. Keadaan tersebut membuat kerupuk menjadi bagian dari lauk pauk yang menjadi simbol pangan.

Tentunya kini dengan kondisi perekonomian yang semakin maju, kerupuk beralih fungsi menjadi makanan pelengkap. Bahkan, kerupuk juga diolah menjadi cemilan-cemilan yang kreatif, seperti kerupuk udang.

Lomba 17 Agustus tentu belum lengkap tanpa kehadiran lomba tarik tambang. Lomba yang melibatkan dua tim yang saling menarik tali tambang hingga salah satu tim melanggar garis batas ini tidak hanya butuh tenaga yang besar, namun juga membutuhkan tim yang baik dan kompak.

Sejak dahulu, lomba tarik tambang mengajarkan rakyat Indonesia tentang pentingnya kebersamaan dan persatuan. Istilahnya “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Setiap tim ditantang untuk menyatukan tenaga dan pikiran, serta memberikan yang terbaik agar timnya bisa menang. Jika ada satu anggota saja yang menyerah, maka bisa dipastikan tim tersebut akan kewalahan untuk menarik tali tambang yang berat.

Nah, untuk adik-adik yang setiap tahun mengikuti lomba tarik tambang, jangan lupa pakai sepatu yang nyaman, ringan, dan tidak licin, sehingga adik-adik tidak mudah tergelincir ketika tarik-menarik berlangsung.

Lomba panjat pinang sering dijadikan sebagai acara puncak untuk menutup rangkaian lomba 17 Agustus. Cara bermainnya yang menarik dan memerlukan kelincahan serta kerjasama antar para peserta pun membuatnya menjadi sebuah lomba spektakuler yang pas untuk mengakhiri kemeriahan perayaan kemerdekaan.

Pada awalnya, lomba panjat pinang diadakan para pejabat Belanda ketika mereka mengadakan acara perkawinan atau hajatan. Mereka menaruh hadiah-hadiah di atas pohon pinang dan memperlombakan rakyat Indonesia agar bisa menjadi atraksi yang menarik dan mengundang tawa dari para undangan.

Tapi seiring dengan perjalanan waktu, tentu panjat pinang bukan lagi dilihat sebagai perlombaan yang menghina rakyat Indonesia, melainkan permainan rakyat yang seru untuk menguji kreativitas dan kerjasama.

Lalu, apa saja yang biasa digantung sebagai hadiah?

Tentunya hadiahnya banyak dan menarik, mulai dari sepeda, laptop, topi, payung hingga paket sembako.

Gimana adik-adik seru kan?

Nah sekarang adik-adik sudah tahu kan bahwa lomba 17 agustus itu bukanlah sekedar permainan saja. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama menjaga budaya kita yang masih ada ini, karena kalau bukan kita yang menjaga siapa lagi?

Teman-teman dan adik-adik semua! Kita sebagai anak-anak Indonesia wajib meneruskan semangat para pahlawan yang gugur mendahului kita dengan cara belajar yang rajin, menolong sesama, melestarikan budaya bangsa, dan ikut bergotong royong dalam kegiatan sosial.

Di akhir tulisan ini Kakak ingin mengutip dua ucapan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. tentang kemerdekaan:

1) “Wahai Anak Adam! Janganlah kalian menjadi BUDAK orang lain, karena ibu kalian telah melahirkan kalian MERDEKA.”

2) “Kemerdekaan itu (saat orang) bersih dari sifat dengki dan tipu daya.”

Terus semangat… Merdeka…

 

No comments

LEAVE A COMMENT