Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Menjaga Kehormatan di Sisi Allah (2)

Sudah seharusnya seorang hamba bermuamalah dengan Allah SWT atau berperilaku di hadapanNya dengan perlakuan sebenar-benar pengagungan hamba terhadap Maulanya. Dalam hal ini terdapat dua jenjang sebagai berikut;

Pertama, mengagungkan pahala dan azab Allah SWT dengan kondisi yang seandainyapun godaan syahwat dan hawa nafsu sedemikian kuat dia tetap dapat mengabaikannya demi mendapatkan pahala dan menghindari siksa seolah dia melihat surga dan merasakan nikmat di dalamnya, dan seolah dia melihat neraka dan merasakan pedihnya siksa di dalamnya. Orang yang mencapai jenjang ini tentunya tidak akan terpengaruh godaan sebesar apapun.

Kedua, mengagungkan ridha Allah SWT dan takut kepada kemurkaanNya dengan kondisi di mana yang penting baginya bukan lagi pahala dan siksaan fisik, melainkan keridhaan dan amarah Allah SWT.

Logika yang berlaku di kalangan ini ialah bahwa jika kita beramal demi pahala maka pada hakikatnya kita berbuat karena kepentingan diri kita sendiri, bukan karena Allah SWT (li Allahi Ta’ala). Sebab, kita berbuat tak lain dengan spirit mendapat laba dan keuntungan laiknya pedagang. Sedangkan jika kita berbuat karena takut mendapatkan siksaan maka kita juga berbuat karena diri kita semata, bukan li Allahi Ta’ala.

Beramal secara hakiki dan dengan niat karena Allah SWT tak lain adalah beramal semata demi mendapat keridhaanNya dan terlepas dari hasrat kepada pahala dan takut kepada siksa. Atas dasar ini, pengagungan syiar-syiar Allah  SWT atau pengagungan Allah SWT dengan sebenar-benar pengagungan tak dapat dilakukan kecuali dengan memohon ridhaNya dan menjauhi amarahNya semata tanpa memandang masing-masing faktor ini sebagai pintu masuk bagi pahala dan azab dariNya.

Namun demikian, keterpujian mencari ridha Allah SWT tidak lantas menggugurkan keterpujian mencari dan berharap pahala, sebagaimana juga tidak menafikan rasa takut kepada neraka. Karena itu tidaklah tepat ungkapan bahwa kecintaan kepada kenikmatan jiwa dan kebencian kepada penderitaan jiwa merupakan salah satu keniscayaan esensi manusia sehingga tak akan terpisah dari manusia sebelum ia bermutasi menjadi makhluk lain. Sebaliknya, ungkapan yang tepat ialah bahwa seandainya tidak ada pahala dan siksa cukuplah bagi manusia untuk ikhlas beribadah berdasarkan kesadaran bahwa Allah SWT sebagai Maula memang layak untuk disembah. Dengan kata lain, manusia menyembah Allah SWT karena kecintaan kepadaNya.

Tentang ini Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata;

إنّ قوماً عبدوا الله رغبة فتلك عبادة التّجار، وإنّ قوماً عبدوا الله رهبةً فتلك عبادة العبيد، وإنّ قوماً عبدوا الله شكراً فتلك عبادة الأحرار.

“Sesungguhnya ada suatu kaum yang menyembah Allah karena hasrat (untuk mendapatkan pahala), maka yang demikian itu adalah penyembahan ala peniaga. Sesungguhnya ada kaum lain yang menyembah Allah karena takut (kepada siksa) maka yang demikian itu adalah penyembahan ala budak. Dan sesunggunya ada pula kaum yang menyembah Allah karena kebersyukuran maka yang demikian itu adalah penyembahan orang-orang merdeka.”[1]

Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata;

إلهي ما عبدتك خوفاً من نارك، ولا طمعاً في جنتك، لكن وجدتك أهلاً للعبادة فعبدتك.

 “Ya Tuhanku, aku menyembahMu bukan karena takut kepada nerakaMu, dan bukan pula karena serakah kepada surgaMu, melainkan karena aku mendapatkanMu memang layak untuk disembah maka aku menyembahMu.”[2]

Mengenai ketulusan cinta kepada Allah SWT, Imam Ali Zainal Abidin al-Sajjad as dalam sebuah doa berucap;

لئن أدخلتني النار لأُخبرنّ أهل النار بحبّي لك.

“Seandainya Engkau memasukkan aku ke dalam neraka niscaya akan aku beritahu para penghuni neraka tentang kecintaanku kepadaMu.”[3]

Mengenai besarnya harapan dan kedalaman cinta kepada Allah SWT, dalam doa yang sama Imam al-Sajjad as juga bertutur;

إلهي لو قرنتني بالأصفاد، ومنعتني سيبك من بين الأشهاد، ودللت على فضائحي عيون العباد، وأمرت بي إلى النار، وحلت بيني وبين الأبرار، ما قطعت رجائي منك، وما صرفت تأميلي للعفو عنك، ولا خرج حبّك من قلبي. أنا لا أنسى أياديك عندي، وسترك عليّ في دار الدنيا.

“Ya Tuhan, seandainyapun engkau sandingkan aku dengan belenggu, Engkau cegah aku dari apelMu di hadapan banyak saksi, Engkau tunjukkan keburukan-keburukanku di depan mata para hamba, Engkau perintahkan supaya aku masuk ke dalam neraka, dan Engkau pisahkan aku dari orang-orang mulia, niscaya aku tetap tidak akan memutuskan harapanku kepadaMu, tidak akan mengabaikan angan-anganku untuk mendapatkan ampunan dariMu, dan kecintaanku kepadaMu tidak akan keluar dari kalbuku. Aku tidak akan melupakan tangan-tanganMu padaku dan tindakanMu menutupi keburukanku di dunia.”[4]

(Bersambung)

[1] Nahjul Balaghah, Hikmah 237.

[2] Bihar al-Anwar, jilid 70, hal. 186.

[3] Doa Abu Hamzah al-Tsumali.

[4] Ibid.

No comments

LEAVE A COMMENT