Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Keadilan dalam Pandangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. al-Hadid: 25)

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. an-Nahl: 90)

Kedua ayat di atas berbicara tentang topik yang sama, yaitu masalah keadilan. Masing-masing dari kedua ayat itu saling melengkapi satu sama lainnya. Pada ayat pertama Allah Swt berfirman bahwa sesungguhnya Allah dengan membawa bukti yang nyata dan telah telah mengutus rasul-rasul dan diturunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca keadilan, supaya manusia berbuat atas dasar keadilan. Adapun yang menjadi sebab lain diturunkannya para nabi adalah bahwa kedatangan mereka merupakan ujian, sehingga dengan itu akan diketahui siapa yang menjadi penolong kebenaran dan ahli kebenaran, dan siapa yang tidak menjadi penolong kebenaran dan ahli kebenaran. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Baca: Sosok Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dalam Pandangan Sejarah

Masalah keadilan dan kebajikan, terutama masalah keadilan, di samping disebutkan berulang kali di dalam Alquran, dan mempunyai pembahasan yang panjang di dalam sejarah Islam dan di kalangan kaum Muslimin baik dari sisi keilmuan dalam sejarah ilmu-ilmu keislaman maupun dari sisi pelaksanaan dalam sejarah sosial dan politik Islam juga benar-benar merupakan salah satu pilar ajaran Islam. Maka sangat layak dilakukan pengkajian berkenaan dengan masalah keadilan, khususnya bagi orang-orang Syiah yang meyakini bahwa keadilan merupakan salah satu dari ushuluddin (pilar-pilar agama).

Sungguh, Ali al-Murtadha a.s. adalah perwujudan keadilan, dan contoh kasih sayang, kecintaan, dan kebajikan. Tikaman yang diterimanya adalah karena senantiasa teguh dan tidak melenceng dari kebenaran, keadilan, dan pembelaan terhadap hak-hak manusia; dan pada saat yang sama, tikaman ini juga telah mengakhiri berbagai kepahitan, kesusahan, dan kepedihan yang dihadapinya di dalam melangkah di jalan agama Allah ini, dan sekaligus merobohkannya tatkala sedang menunaikan kewajiban agamanya. Itulah tikaman yang telah membuat Imam yang mulia ini beristirahat tenang. Namun, kematian Imam yang adil ini, yang jika masa pemerintahannya tetap berlangsung hingga beberapa lama niscaya mampu mempersembahkan sebuah masyarakat Islam yang sempurna.

Imam Ali mempunyai program yang sedemikian rupa pada masa pemerintahannya, yaitu bukan hanya tidak membiarkan hak-hak masyarakat diinjak-injak, melainkan juga mengembalikan hak-hak yang telah dirampas dan diinjak-injak kepada pemiliknya. Dengan program dan langkahnya ini, beliau tahu betapa banyak protes dan perlawanan yang akan dihadapinya. Oleh karena itu dengan sedih dia memikul beban kekhalifahan, dan berkata kepada orang-orang yang membaiatnya:

“Lepaskanlah aku, dan pergilah kepada orang lain selainku. Karena, sesungguhnya di hadapan telah menanti masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Tidak ada ketenangan pada saat menunaikan kewajiban Islam yang telah diletakkan ke atas pundakku. Di hadapan akan muncul berbagai kekacauan, yang akan membuat hati-hati menjadi tidak tenang dan pikiran-pikiran menjadi guncang. Dan kalian yang sekarang datang ke hadapanku, manakala kalian melihat jalan sangat sulit, bisa saja kalian berbalik.”

Baca: 30 Petuah Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Mengenai Adab

Ketika itu, untuk menyempurnakan hujah kepada orang-orang yang mendesaknya untuk menerima kekhalifahan, Imam Ali melanjutkan: “Ketahuilah olehmu, jika aku menerima ajakan ini, maka aku akan berbuat berdasarkan program yang aku miliki, dan aku tidak akan mendengar perkataan dan nasihat seseorang.”

Berkenaan dengan tanah-tanah yang dihadiahkan khalifah sebelumnya kepada sanak keluarganya, Imam Ali berkata: “Demi Allah, walaupun harta-harta itu telah dibelanjakan untuk mengawini wanita-wanita atau membeli sahaya, mestilah kuambil kembali.” (Nahj al-Balaghah, khotbah ke-91)

Banyak kesulitan yang muncul di hadapan Amirul Mukminin pada masa kekhalifahannya. Yang menjadi penyebab pokoknya adalah kepeduliannya terhadap hal-hal yang telah lalu. Terhadap hal-hal yang telah lalu, dia tidak mengatakan selesai. Melainkan dia mengatakan mempunyai urusan dengan hal-hal yang telah lalu. Karena, masa lalu adalah pembangun masa sekarang dan masa yang akan datang. Seseorang tidak bisa membangun sebuah bangunan yang tinggi dan kokoh di atas fondasi yang rusak dan rapuh.

Selanjutnya, Imam Ali berkata: “Sesungguhnya keadilan adalah sesuatu yang luas. Barang siapa yang menganggapnya sempit, maka kelaliman lebih sempit lagi baginya.” (Nahj al-Balaghah, khotbah ke-15)

Ada dua macam tekanan yang menekan jiwa manusia. Yang pertama, tekanan yang berasal dari faktor lingkungan dan masyarakat. Yaitu, berupa pukulan dan cambukkan yang dilakukan orang lain terhadap seseorang, dan juga penjara yang ditimpakan oleh orang lain kepadanya. Bentuk tekanan kedua adalah tekanan yang berasal dari dalam jiwa seseorang. Seperti tekanan iri, dendam, dan rakus. Jika keadilan sosial tercipta, maka manusia akan aman dari tekanan yang berasal dari faktor-faktor luar. Karena, dalam keadaan itu seseorang tidak bisa melanggar hak orang lain.

Dari sisi lain, seseorang tidak bisa menempatkan jiwanya di dalam tekanan. Akan tetapi, jika keadilan tidak berjalan, dan yang berlaku adalah kelaliman dan perampasan, maka mereka yang berada di bawah tekanan sifat rakus dan tamak, maka sifat rakus dan tamaknya akan lebih terpicu, dan dia akan berada di bawah tekanan kuat faktor-faktor ini. Jadi, seseorang yang lingkungan keadilan memberi tekanan kepadanya, maka lingkungan kelaliman akan lebih memberi tekanan kepadanya.

Diriwayatkan, pada hari kedua kekhalifahannya Imam Ali naik ke atas mimbar. Di sana dia berbicara tentang hari-hari yang lalu. Dia mengatakan, “Allah mengetahui bahwa aku tidak mempunyai ambisi kepada kekhalifahan, dari sisi sebagai sebuah kekuasaan. Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Siapa saja yang memegang kendali urusan umat sepeninggalku, maka pada hari Kiamat dia akan ditahan di atas jembatan (shirath), lalu para malaikat membuka catatan amal perbuatannya. Jika dia berlaku adil maka Allah akan menyelamatkannya, namun jika tidak, maka jembatan akan bergoncang dan dia akan dilemparkan ke dasar neraka Jahanam.’”

Lalu, Imam Ali a.s. menoleh ke arah samping kanan dan samping kiri, melihat orang-orang yang ada di sisi, kemudian berkata: “Mereka yang karam dalam kenikmatan dunia, dan telah menyediakan harta, sungai, kuda-kuda yang bagus, dan pembantu-pembantu yang cantik untuk dirinya, maka besok aku akan mengambil kembali semua ini darinya dan mengembalikannya ke baitul mal. Dan, aku akan memberikan kepada mereka sebatas yang menjadi hak mereka.”

Manakala beberapa sahabat Imam Ali mengetahui bahwa telah terbentuk sekelompok orang yang berusaha menghancurkan kepemimpinan Imam Ali, mereka datang ke hadapan Imam Ali dan mengatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan mereka tidak puas dan kemudian membentuk sekelompok pasukan adalah kekukuhan beliau dalam masalah keadilan dan persamaan.

Dengan perantaraan ini mereka hendak menggerakkan masyarakat Islam. Sebagian sejarawan mengatakan bahwa Malik Asytar termasuk salah seorang pemberi usulan tersebut.Bahkan, ada sejarawan yang mengatakan, justru Malik Asytar itulah yang memberikan usulan. Maksud dari usulan itu adalah agar Imam Ali merevisi kembali keputusannya.

Imam a.s. paham, bahwa mungkin saja pemikiran ini menjangkiti pikiran masyarakat umum, sehingga tidak perlu ia terlalu keras dan kukuh di masalah ini. Oleh karena itu, Ali a.s. pun pergi ke masjid untuk menyampaikan pidato umum. Dengan hanya mengenakan sehelai kain di atas pundaknya dan sehelai kain lagi diikatkan di pinggangnya, sementara sebilah pedang menempel di pinggangnya, beliau berdiri di atas mimbar.

Kemudian beliau berkata: “Kita mengucapkan syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita. Seutama-utama manusia di sisi Allah adalah orang yang paling taat kepada-Nya, orang yang paling mengikuti sunah Rasulullah, dan orang yang paling menghidupkan Kitab Allah, yaitu Alquran. Kita tidak mengakui seseorang memiliki kelebihan atas orang lain, kecuali dengan ukuran takwa dan ketaatan. Alquran yang ada di hadapan kita, dan begitu juga sirah Nabi, sebagaimana kita ketahui keduanya berpijak di atas dasar keadilan dan persamaan. Yang demikian ini diketahui oleh setiap orang. Mengenai mereka yang memiliki tujuan tertentu dan memiliki permusuhan, itu adalah perkara yang lain.”

Baca: Keutamaan-keutamaan Imam Ali a.s. Tidak Akan Pernah Dapat Tertutupi

Selanjutnya Imam Ali membacakan ayat: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Ayat ini dibaca oleh beliau dengan maksud ingin menunjukkan bahwa berdasarkan ayat ini beliau ingin mengabaikan klaim kelebihan-kelebihan mereka yang merasa telah berjasa untuk Islam.

*Disarikan dari buku kumpulan ceramah Syahid Murtadha Muthahhari

No comments

LEAVE A COMMENT