Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Kedudukan Bangsa Persia dan Yaman menurut Tafsir Alquran (1/2)

Ketika menelaah ayat-ayat Alqur’an yang membincang pergantian kaum, kita akan mendapati bahwa ayat tersebut merujuk kepada bangsa Yaman atau pun Persia. Kini, dua bangsa ini tampil menghadapi koalisi Zionis sebagai konfirmasi hal itu.

Ayat Pertama

Setelah mewanti-wanti agar tidak turut serta dalam koalisi dengan Zionis pada ayat 51 surah Al-Maidah, Allah Swt menegaskannya kembali pada ayat 54:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاء وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah [5]: 54)

Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir (w. 774 H) membawakan beberapa riwayat terkait ayat ini:

  1. Riwayat dari Ibnu Abbas r.a terkait firman-Nya, “maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” Ibnu Abbas berkata, “Orang-orang dari bangsa Yaman dari Bani Kindah.
  2. Riwayat lain dari Jabir bin Abdullah r.a, Rasulullah saw ditanya seputar ayat, “maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” Beliau saw bersabda, “Mereka bangsa dari penduduk Yaman.”
  3. Riwayat dari Abu Musa al-Asy’ari r.a, Rasulullah saw bersabda, “Mereka adalah bangsa orang ini berasal (maksudnya Abu Musa yang berasal dari Yaman).” (Baca: Doa Imam Ja’far Shadiq untuk Memudahkan Urusan)

Tafsir Mafatih al-Ghaib

Fakhruddin al-Razi (544 – 606 H) membawakan beberapa riwayat seputar ayat ini:

Mujahid berkata, “Ayat ini turun terkait bangsa Yaman.” Riwayat lain menyatakan bahwa saat ayat ini turun, Rasulullah saw menunjuk Abu Musa al-Asy’ari seraya bersabda, “Mereka adalah bangsa orang ini.” Pihak lain berkata, “Mereka adalah orang Persia.” Hal itu karena riwayat lain menyatakan bahwa saat ditanya perihal ayat ini, Nabi saw menepuk punggung Salman seraya bersabda, “Inilah dia dan kerabatnya,” lalu bersabda, “Andaikan agama bergelayut di gugusan bintang, niscaya bangsa Persia akan menggapainya.”

Tafsir Thabari

At-Thabari (224 – 310 H/839 – 923 M) mengutip beberapa riwayat dalam tafsirnya:

  1. Pendapat utama tentang hal ini bagi kami yang benar adalah riwayat dari Rasulullah saw bahwa merekalah bangsa Yaman, bangsanya Abu Musa al-Asy’ari.
  2. Dari ‘Iyadh al-Asy’ari, ia berkata, “Ketika ayat ini turun, Rasulullah saw menunjuk Abu Musa seraya berkata, ‘Mereka bangsa orang ini.’”
  3. Dari Syuraih bin ‘Ubaid, “Saat ayat ‘ Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu murtad (keluar) dari agamanya,’ turun, Umar berkata, ‘Apakah mereka adalah aku dan bangsaku, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Bukan, tetapi orang ini dan bangsanya,’ yakni Abu Musa al-Asy’ari. Pihak lain berpendapat, “Bahkan seluruh bangsa Yaman.” (Baca: Doa Imam Zainal Abidin untuk Hasil yang Baik)
  4. Dari Mujahid seputar ayat, “Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” Dia berkata, “Mereka orang-orang dari bangsa Yaman.”
  5. Dari Layts, dari Mujahid, “Mereka bangsa Saba’.”
  6. Syu’bah mengabarkan, “Orang yang mendengar dari Syahr bin Hausyab mengabarkan, ‘Mereka bangsa Yaman.’
  7. Dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, bahwa Umar bin Abdul Aziz mengutus seseorang kepadanya, yaitu gubernur Madinah untuk menanyakan perihal itu, Muhammad berkata, “Mereka adalah bangsa Yaman.” Umar berkata, “Aduhai kiranya aku termasuk dari mereka.”

Tafsir Baghawi

Al-Baghawi (433 – 516 H) membawakan sejumlah riwayat dalam kitab tafsirnya, Ma’alim at-Tanzil:

  1. Sebuah pendapat berkata, “Maksud firman-Nya, “maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.mereka adalah bangsa Asy’ari.
  2. Riwayat ‘Iyadh bin Ghanim al-Asy’ari, “Saat turun ayat “maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” Rasulullah saw bersabda, ‘Mereka bangsa orang ini.’ Seraya menunjuk Abu Musa al-Asy’ari. Mereka berasal dari Yaman.
  3. Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda, “Bangsa Yaman telah datang kepada kalian. Mereka berhati paling lembut, berbudi paling halus. Keimanan milik Yaman dan hikmah milik Yaman.”

Tafsir Baidhawi

Nasiruddin Al-Baidhawi (w. 685 H) membawakan 2 riwayat dalam tafsirnya, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil:

  1. Pendapat pertama, mereka adalah bangsa Yaman berdasarkan riwayat: “Bahwa Rasulullah saw menunjuk Abu Musa al-Asy’ari seraya bersabda, ‘Mereka bangsa orang ini.’”
  2. Pendapat lain, mereka adalah bangsa Persia berdasarkan riwayat, “Rasulullah saw ditanya perihal mereka, lalu beliau menepuk punggung Salman dengan tangannya seraya bersabda, ‘Orang ini dan kerabatnya.'” (Baca: Arti Hadis Nabi “Salman dari Ahlul Baitku”)

Tafsir Qurtubi

Qurtubi (w. 1273 M) mengutip hadis riwayat Al-Mustadrak, karya Al-Hakim (321 – 405 H), “Bahwa Rasulullah saw menunjuk Abu Musa al-Asy’ari saat ayat ini turun seraya bersabda, ‘Mereka bangsa orang ini.'”

Catatan:

Saat membandingkan ayat Alqur’an yang melarang untuk tidak mendukung musuh umat, kita akan memperoleh karakter ‘lemah lembut terhadap kaum beriman dan tegas terhadap kaum kafir’ memiliki kesesuaian dengan dua bangsa Yaman dan Iran. Hal ini dapat disaksikan pada mayoritas bangsa Arab tidak menganggap Amerika dan Israel sebagai musuh. Sebaliknya, bahkan menjadikan mereka sebagai sekutu dalam menghadapi Iran dan Yaman. Lebih jauh, mereka tidak sesuai dengan karakter ‘lemah lembut terhadap kaum beriman dan tegas terhadap kaum kafir’ bahkan berkebalikan.

Ayat Kedua

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ (2) وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2-3)

Dalam Literatur Hadis

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadis dalam kitab sahih mereka bahwa Abu Hurairah berkata, “Ketika kami duduk bersama Rasulullah saw, turunlah surah al-Jumu’ah kepada beliau. Saat beliau membaca ayat,

وَءَاخَرِينَ مِنۡهُمۡ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ

Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (QS. al-Jumu’ah [62]: 3) seseorang bertanya, ‘Siapakah mereka wahai Rasulullah?’ Rasulullah pun meletakkan tangannya pada Salman seraya bersabda, ‘Andaikan agama bergelayut di gugusan bintang, niscaya para pemuda dari mereka akan menggapainya.'” (Baca: Kenapa Hasil Istikharahku Buruk?)

Riwayat ini disampaikan juga oleh sahabat Nabi lainnya, Abdurrahman bin Shakhr, Qais bin Sa’d, Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib. Hal ini menunjukkan bahwa riwayat ini bersifat mutawatir.

Riwayat tersebut terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Jami’ Turmudzi. Musnad Ahmad, Sahih Ibnu Hibban, Sunan Nasa’i, Musnad Ishaq bin Rahawaih, Musnad al-Bazzar, Musnad Abu Ya’la, Musannaf Ibn Abi Syaibah, Mu’jam Kabir Tabrani, Dalail Nubuwah Baihaqi, dan buku-buku hadis maupun sejarah lainnya.

Dalam Literatur Tafsir

Mayoritas buku-buku tafsir menyandarkan riwayat Abu Hurairah di atas dalam menafsirkan ‘kaum yang lain’ pada ayat 3 surah al-Jumu’ah tersebut sebagai bangsa Persia. Di antara buku-buku tafsir tersebut adalah:

  1. Ma’alim at-Tanzil, al-Baghawi (w. 510 H). Penulis kitab tafsir ini adalah Abu Muhammad, al-Husein bin Mas’ud bin Muhammad al-Baghawi. Seorang ahli fikih, hadis dan tafsir bermazhab Syafi’i.
  2. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, at-Thabari (224 – 310 H/839 – 923 M). Beliau adalah Muhammad bin Jarir yang dikenal sebagai Abu Ja’far at-Thabari. Seorang ahli tafsir, sejarah sekaligus fikih.
  3. Tafsir al-Qur’an al-Karim, atau dikenal sebagai Tafsir Ibnu Katsir. Penulisnya adalah Ismail bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi sehingga dikenal sebagai Ibnu Katsir (w. 774 H). (Baca: Munajat, Bisikan Cinta dalam Doa)
  4. Ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur, karya Jalaluddin as-Suyuthi (849 – 911 H/1445 – 1505 M). Nama aslinya Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakar bin Muhammad al-Khudhayri al-Asyuthi.
  5. Al-Kasyf wa al-Bayan ‘an Tafsir al-Qur’an, karya at-Tsa’labi (w. 1035 M). Beliau adalah Abu Ishak Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim at-Tha’labi bermazhab Syafi’i.
  6. Al-Jami’ li-Ahkam al-Qur’an, atau lebih dikenal sebagai Tafsir al-Qurtubi. Karya seorang ahli tafsir, hadis dan fikih bermazhab Maliki. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr al-Ansari al-Qurtubi. Lahir di Cordoba, Spanyol dan wafat di Mesir 1273 M.
  7. Tafsir At-Thabrani. Selain sebagai periwayat hadis, beliau juga menulis tafsir Alqur’an. Sulaiman bin Ahmad bin Ayub as-Syami at-Thabrani (260 – 360 H/821 – 918 M).
  8. Fi Zhilal al-Qur’an, karya Sayid Quthb Ibrahim Husein as-Syadzili yang dikenal sebagai Sayid Quthb (1906 – 1966)

Bersambung…

Baca: Keistimewaan Bangsa Yaman dalam Pandangan Alquran, Hadis dan Sejarah


Written by
No comments

LEAVE A COMMENT