Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Apa Tujuan Al-Qur’an Memulai Beberapa Suratnya dengan Huruf-huruf Muqaththa’ah?

Beberapa surat dalam Al-Qur’an dimulai dengan huruf-huruf singkat/ muqaththa’ah. Sebagian surat dimulai dengan satu huruf seperti surat al-Qalam dengan Nun dan surah Qaf dengan Qaf; sebagian surat dengan dua huruf seperti Ya Sin, Tha Ha, dan lain sebagainya. Yang seperti ini adalah khas Al-Qur’an, dan tidak ada kitab lain, yang Ilahiah maupun yang bukan Ilahiah, memulai surat dengan huruf-huruf singkat. Apa tujuan huruf-huruf ini? Pertanyaan seperti ini telah dikemukakan sejak masa-masa awal Islam, tetapi tidak ada jawaban pasti yang diberikan untuknya. 

Sebagian orang percaya bahwa huruf-huruf ini merupakan simbol rahasia antara si pembicara dan si pendengar, yaitu Tuhan dan Nabi, sebagai sesuatu yang berada di luar pemahaman orang-orang awam. Contoh darinya dapat dilihat pada kode-kode yang disusun antara dua orang yang tidak ingin orang lain mengetahui masalah apa yang mereka bicarakan. Pendapat lain adalah bahwa huruf-huruf singkat ini merupakan nama dari surat yang bersangkutan. Pendapat ketiga adalah bahwa huruf-huruf itu merupakan sumpah, yang diucapkan atas nama huruf-huruf pendek, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an dengan nama wujud lain dari ciptaan seperti matahari, bulan, bintang, malam, siang, dan jiwa manusia.

Bilamana seseorang bersumpah terhadap sesuatu, itu berarti penekanan terhadap apa yang menjadi perhatiannya dan si pendengar menyadari akan perhatian ini. Para sastrawan berkata bahwa sumpah itu menguatkan kebenaran dari kata-kata yang diucapkan. Akan tetapi, kadang-kadang, seseorang bersumpah untuk memberitahukan kepada pendengar tentang perhatiannya sendiri terhadap seseorang atau sesuatu. Sumpah-sumpah Al-Qur’an terdiri dari dua macam. Bersumpah dengan matahari dan bulan, atau pohon zaitun, atau pohon tin, dimaksudkan untuk menunjukkan kepada manusia akan pentingnya masalah yang sedang dibicarakan.

Baca: Tafsir Surat Al-Baqarah 186: Apakah Doa Itu?

Salah satu hal amat penting yang memainkan peranan utama dalam budaya dan peradaban manusia adalah huruf. Suara yang berbentuk huruf-huruf memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial manusia. Binatang juga memiliki suara, tetapi mereka tidak dapat membuat huruf-huruf darinya. Bila manusia tidak mampu mengubah suara ke dalam huruf-huruf (bisu), ia tidak dapat berbicara dan mengkomunikasikan ide-idenya kepada orang lain, sehingga akibatnya, tidak ada pengetahuan, keterampilan, atau peradaban yang akan muncul. 

Bila kita dapat menulis huruf-huruf secara terpisah, itu karena kita dapat mengucapkannya secara terpisah. Tanpa huruf, mau tak mau, kita bergantung pada gambar, tetapi kita tahu bahwa tidak mungkin kita menggambarkan keadaan segala sesuatu. Namun pendapat lain mengatakan bahwa huruf-huruf pendek ini menunjuk kepada kemukjizatan Al-Qur’an, dalam arti bahwa bahasa Arab, dengan 28 huruf, dibandingkan dengan banyak bahasa lainnya dengan sejumlah huruf, bahkan sampai berjumlah tiga ratus huruf, ternyata dapat menghasilkan kitab yang indah seperti itu. Huruf-huruf itu seperti anyaman dan rajutan, tetapi apakah semua penganyam dan perajut dapat menghasilkan sesuatu yang artistik dengannya? Jawabannya adalah tidak.

Karya-karya tulis seperti buku, esai, puisi, dan syair adalah hasil rangkaian dari huruf-huruf ini, tetapi semuanya berbeda-beda dalam hal keindahan dan keunggulannya. Allah Swt bahkan menantang para ahli bahasa untuk membuat sesuatu yang seperti Al-Qur’an. Alquran, dengan menyebutkan huruf-huruf ini sebagai contoh, ingin memperkenalkan ‘bahan mentah’ ayat-ayatnya, menantang masyarakat untuk mengajukan hal yang sama bila mereka mampu. 

Seorang pakar komputer Mesir telah membuat hitungan-hitungan eksak tentang empat belas surat yang dimulai dengan huruf-huruf pendek ini. Ia menyimpulkan bahwa huruf-huruf pendek pada masing-masing surat memiliki keunggulan yang lebih besar dibandingkan dengan huruf-huruf yang lain, suatu perhitungan yang akurat yang hanya dimungkinkan dengan bantuan komputer. 

Ada kemungkinan lain tentang masalah ini yang dijelaskan di bawah ini. Persoalan yang menjadi objek pembicaraan sejak masa yang lalu adalah, apa yang menjadi prioritas dalam sistem eksistensi ini? Sebagian orang berkata bahwa kata-kata muncul lebih dulu, maksudnya adalah pemikiran dan pemahaman, karena kata-kata mewakili pemikiran. Pandangan berikutnya adalah bahwa materi dan alam muncul lebih dulu, kemudian secara bertahap muncul ide dan pemahaman, dan terakhir kata­kata muncul ke permukaan.

Antara dua pendapat ini, Al-Qur’an menerima yang pertama, seperti digambarkan oleh ayat berikut ini berkenaan dengan penciptaan: “Sesungguhnya perintah Allah, bila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ lalu jadilah.” (QS. Ya Sin: 82)

Baca: Tafsir Surat al-Ikhlash

Ini berarti bahwa perkataan lebih dulu ada, baru ciptaan. Di sini kata ‘pembicaraan’ tidak hanya berupa suara atau kata-kata, tetapi sesuatu yang lebih sempurna dan komprehensif. Jadi, tampaknya, dengan huruf-huruf pendek ini Tuhan menjelaskan metode-Nya dalam memulai perbuatan, yakni: berbicara, berpikir, materi, dan alam.

Bagaimanapun, huruf-huruf pendek ini merupakan bahan yang sama dengan Alquran, terutama bila kita sepakat dengan pandangan pertama bahwa ia adalah simbol-simbol rahasia antara Allah dan Nabi.

*Disarikan dari buku karya Syahid Muthahhari – Tafsir Surat Pilihan

No comments

LEAVE A COMMENT