Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Keharusan Bertaubat (2)

attaubahOrang yang memandang filosofi keimanan dan ketaatan adalah karena Allah SWT memang layak diatati tanpa memandang urusan surga dan neraka, melainkan semata-mata  demi mendapatkan keridhaan Allah, dan bergerak demi kecintaan kepada Allah, maka perkaranya menjadi lebih jelas lagi. Filosofi ini juga menyerunya untuk bertaubat, karena Allah SWT ridha kepada taubat dan senang kepada hambaNya yang bertaubat, sebagaimana disebutkan dalam riwayat sahih dari Abu Ubaidah bahwa dia mendengar Imam Muhammad al-Baqir as berkata;

أشدّ فرحاً بتوبة عبده من رجل أضلّ راحلته وزاده في ليلة ظلماء  فوجدها، فالله أشدّ فرحاً بتوبة عبده من ذلك الرجل براحلته حين وجدها.

“Sesungguhnya Allah lebih senang kepada taubat hambaNya daripada seseorang yang kehilangan kendaraan dan bekalnya di tengah gulita malam lalu menemukannya. Maka Allah lebih senang kepada taubat hambaNya daripada orang itu ketika dia menemukan kendaraannya.”[1]

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika Nabi Adam as memakan buah khuldi tiba-tiba pakaiannya beterbangan sehingga auratnya terlihat lalu mahkota dan ikat kepala iklil[2] merasa malu untuk terlepas dari kepalanya. Jibril as lantas meraih mahkota dari kepala Nabi Adam as  dan menyematkan ikat kepala pada kening Nabi Adam as, kemudian terdengar suara dari atas arasy; ‘Turunlah kamu di sisiKu, karena sesungguhnya orang yang bermaksiat kepadaku tidak pantas berada di sisiKu.” Nabi Adam as lantas menatap Hawa as, isterinya, sembari menangis dan berkata;

هذا أوّل شؤم المعصية أُخرجنا من جوار الحبيب.

“Ini merupakan keburukan pertama maksiat, kita  dikeluarkan dari sisi Sang Kekasih.”[3]

Adalah suatu maqam atau kedudukan yang sangat agung ketika beliau menangis lantaran keluar dari sisi Allah SWT yang sangat dicintainya, sebelum bersedih karena berpisah dari surga. Inilah keagungan filosofi ketiga dari taubat dan penyesalan.

Bisa jadi, kedudukan yang lebih agung lagi ialah apa yang tersirat dalam firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.[4]

Ayat ini seolah mengisyaratkan betapa taubat orang-orang yang bertakwa bukanlah karena mereka telah berbuat dosa, melainkan lantaran baru sebatas berpikir untuk berbuat dosa. Artinya, syaitan mengitari lalu menyentuh dan membisiki hati seorang mukmin agar dia tergoda dan berpikir untuk berbuat maksiat. Namun, sebelum bisikan itu membekas dan mempengaruhinya untuk berbuat maksiat, dia segera mengingat Allah SWT, sadar dan mengenyahkan bisikan itu.

Ada beberapa riwayat tentang tafsir ayat ini yang intinya ialah bahwa ketika seorang hamba berpikir untuk berbuat dosa dia segera mengingat Allah SWT, dan ingatan ini lantas mencegahnya dari berbuat dosa.[5]

Kedudukan yang lebih agung lagi dalam taubat ialah taubat para insan maksum yang bukan lantaran berbuat dosa, melainkankan karena “sebagian keburukan para muqarrabin (orang-orang didekatkan kepada Allah) merupakan sebagian dari kebaikan para abrar (orang-orang baik).”

Apa yang diperbuat para insan maksum adalah kebaikan semata, namun para insan non-maksum dapat mengikuti jejak mereka dengan tarbiyah dan tazkiyah nafs, sebab Allah SWT menampilkan para insan maksum di muka bumi tak lain supaya menjadi panutan bagi umat manusia. Allah memerintahkan kepada umat manusia agar mengikuti jejak mereka, sebagaimana disebutkan dalam firmanNya;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.[6]

Dalam konteks ini, seorang manusia semisal Hazrat Abu Fadhl Abbas as ketika tercekik dahaga yang luar biasa di gurun tandus Karbala justru enggan meneguk air yang mengalir segar di depannya, bukan lantaran minum air itu haram atau makruh, juga bukan demi suatu pengorbanan, sebab beliau tidak meneguk air sungai Furat itu  memang bukan dalam rangka berkorban demi Imam Husain as dan keluarganya, melainkan semata-mata demi simpati dan empatinya kepada derita seorang imam dan pemimpin yang menjadi panutannya, dan derita keluarga sang pemimpin.

Saat itu Hazrat Abu Fadhl Abbas as berbicara kepada jiwanya;

يا نفس من بعد الحسين هونى و بعده لا كنت ان تكونى هذا الحسين وارد المنون و تشربين بارد المعين تالله ما هذا فعال دينى.

“Hai jiwa, hidupmu sepeninggal al-Husain tak ada nilainya, maka tak perlu kau tetap ada sepeninggalnya. Husainlah yang akan mati kehausan, lantas apakah kamu akan meneguk air dingin nan segar ini? Tidak, demi Allah agamaku tak memperkenannya.[7]

Dengan jiwa sedemikian dahsyat, manusia seagung adik Imam Husain as ini tentu tak terbayang betapa ketatnya beliau mengikuti jejak sang kakak yang sekaligus imam dan panutannya yang maksum, sehingga tak terbayang pula beliau akan berbuat maksiat dan dosa.

(Bersambung)

[1] Bihar al-Anwar, jilid 6, hal. 40.

[2] Al-Munjid menyebutkan bahwa “iklil” adalah ikat kepala berhias permata.

[3] Al-Mahajjah al-Baidha’, jilid 7, hal. 94, dikutip dari Ihya’ Ulumuddin karya al-Ghazali.

[4] QS. Al-A’raf [7]:  201.

[5] Lihat Tafsir al-Burhan, jilid 2, hal. 56.

[6] QS. Al-Ahzab [33]: 21.

[7] Bihar al-Anwar, jilid 45, hal. 41.

Post Tags
Share Post
Latest comment

LEAVE A COMMENT