Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Manajemen Kepemimpinan dalam Islam

Tema yang ingin kami ulas adalah masalah manajemen kepemimpinan dalam pandangan Islam. Ini adalah tema yang luas. Kami berupaya dalam artikel singkat ini menyoroti poin-poin penting dari manajemen kepemimpinan islami. Dan supaya masalah manajemen kepemimpinan dalam Islam dapat dipahami dengan baik maka kita harus memperhatikan istilah رشد (baca: rusd) (kematangan/kedewasaan).

Terminologi rusd digunakan dalam Al-Qur’an al-Karim. Istilah ini digunakannya terkait dengan anak-anak yang memiliki kekayaan namun mereka tidak mempunyai wali/orang tua. Sehubungan dengan anak-anak yatim, Al-Qur’an mengatakan bahwa anak-anak yatim yang tidak memiliki wali dan mereka mempunyai harta maka selama mereka belum balig maka hendaklah kalian mengawasi mereka dan jangan kalian serahkan harta mereka. Tentu balig (pubertas) adalah syarat yang perlu namun tidak cukup syarat ini saja. Sebab, di samping balig diperlukan juga rusd (kedewasaan berpikir dan bersikap). Alquran mengungkapkan hal ini seperti ini:

فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْداً فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ

“Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah dewasa (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” (QS. an-Nisa’: 6)

Dapat disimpulkan dari ayat tersebut bahwa untuk menyerahkan harta anak yatim tidak cukup hanya sekadar mencapai balig alami, yakni kematangan dalam pernikahan dan kematangan dalam seksual, namun ketika anak yatim telah mencapai usia atau jenjang rusd maka kalian boleh menyerahkan harta mereka. (Baca: Kepemimpinan Imam Ali Zainul Abidin – 1)

Dalam fikih dan sunah Islami pun ditetapkan masalah seperti ini, yakni dalam kasus pernikahan. Adalah menjadi kepastian dalam fikih Islami bahwa syarat pernikahan tidak hanya cukup akal dan baligh. Yakni, seorang lelaki yang berakal dan sudah balig (puber) tidak dapat langsung menikah dengan seorang perempuan. Demikian juga seorang gadis yang berakal dan balig tidak punya alasan yang cukup untuk menikah. Di samping, akal dan balig diperlukan juga rusd. Akal berbeda dengan rusd. Manusia dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok: orang-orang yang berakal dan orang-orang yang gila. Dan yang berakal dibagi dua: rasyid (yang matang/dewasa pikirannya) dan ghairu rasyid (yang tidak dewasa pikirannya). Dengan kata lain, mungkin saja ada seseorang yang berakal dan balig yang rasyid dan ada juga yang tidak rasyid.

Bila kita ingin mendefenisikan kata rusd maka ia bermakna seseorang yang memiliki kapasitas untuk mengatur dan menjaga serta memanfaatkan pelbagai modal dan potensi material dan spiritual yang diserahkan padanya.

Ada dua model rusd: rusd individual dan rusyd dalam ibadah. Rusd individual atau dalam istilah lain disebut rusd fardi/akhlaqi adalah bentuk rusyd pertama yang dimanfaatkan manusia. Insan rasyid adalah seseorang yang memanfaatkan dengan sebaik mungkin potensi dirinya untuk menumbuh kembangkan akhlak dan “menerbitkan”citra dirinya. Tentu saja sedikit sekali orang-orang yang berhasil “meledakkkan” potensi dirinya dan memanfaatkan anugerah individual yang Allah karuniakan padanya. (Baca: Termasuk Orang yang Bersyukurkah Kita?)

Model kedua rusd adalah rusd dalam ibadah. Masalah kedua yang terkait dengan manajemen individual adalah rusd dalam ibadah. Harus kita akui bahwa kita tidak mengetahui jalan ibadah.Kita mengira bahwa ibadah terbaik itu adalah ibadah terbanyak: semakin banyak ibadahmaka semakin bagus.Demikian asumsi kita. Rasulullah saw bersabda kepada sahabat Jabir bin Abdillah:

«يا جابر! انّ هذا الدّين لمتين فاوغل فيه برفق و لا تبغّض الى نفسك عبادة اللّه»

Agama Islam adalah agama yang kokoh dan logis serta sesuai dengan aturan-aturan yang teliti secara psikologis dan social.Sehingga jangan sampai engkau menjadikan ibadah sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan bagi dirimu.

Yakni,  jangan sampai engkau membuat ibadah menjadi sesuatu yang engkau benci dan musuhi, namun buatlah ibadah itu sebagai kegiatan yang menyenangkan dan menghibur, sehingga engkau melakukannya dengan penuh kesenangan dan ketertarikan. (Baca: Tafsir Surah Al Insyiqaq 6 – 15: Berjuang adalah Sifat Dasar Kehidupan di Dunia)

Pelajaran dan kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari penjelasan dan paragrap di atas? Ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan, di antaranya:

1-Anak yatim yang meskipun sudah berakal dan balig namun karena ia belum dianggap rasyid maka harta dan asset miliknya belum bisa diserahkan kepadanya.

2-Remaja, baik putra maupun putri yang ingin menikah meskipun ia berakal dan sudah balig namun bila dinilai belum rasyid maka  ia dianggap belum cukup memenuhi syarat untuk menikah.

3-Manusia pada umumnya melalaikan potensi dirinya dan gagal memanfaatkan segala kelebihan dan bakat yang Allah anugerahkan kepadanya.

4-Manusia pada umumnya tidak mampu menyebah Allah dengan baik dan benar,bahkan sejatinya mereka tidak tahu menahu jalan ibadah yang terbaik, sehingga sering kali mereka melakukan ibadah dengan kemalasan dan kebosanan. (Baca: Melawan Hawa Nafsu)

Lalu, adakah manusia-manusia yang benar-benar rasyid? Tentu ada, meskipun jumlahnya tidak banyak. Insan rasyid adalah pemimpin dan calon pemimpin. Insan rasyid adalah manusia yang mampu menggali potensi dirinya, dapat memanfaatkan modal besar yang Allah amanatkan padanya dan berkuasa untuk memimpin dirinya sendiri. Dengan kata lain, insan rasyid adalah seseorang yang mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya. Semua yang dilakukannya selalu pas dosis, tidak over dosis. Bahkan dalam ibadah sekalipun, ia tidak pernah over dosis.

Insan rasyid adalah tipikal insan kamil alias manusia seutuhnya yang nilai-nilai kebaikan itu menyempurna dalam dirinya secara seimbang: tidak ada yang kurang atau pun lebih. Insan rasyid adalah manifestasi dari asma jamaliyyah dan jalaliyyah Ilahiah, sehingga karena itu ia layak menyandang predikat khalafatullah di muka bumi.

Sayidina Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah contoh konkrit dari insan rasyid yang memiliki kematangan dan kedewasaan berpikir dan bersikap, sehingga setiap gerak-geriknya senantiasa dalam bimbingan dan pengawasan Ilahiah. (Baca: Imamah – 1)

Sebagian orang menganggapnya salah kaprah bahkan  salah jalan ketika membawa puluhan anak-anak kecil dan wanita-wanita lemah ke padang tandus Karbala, dan perang yang dijalaninya dinilai sarat muatan politis dan sia-sia. Tapi episode demi episode Karbala menjungkirbalikkan asumsi ini. Dan terbukti  bahwa perjalanan menuju Karbala adalah perjalanan fi sabilillah,bukan fi sabili hukumah (jalan untuk memperebutkan kekuasaan). Husain adalah musafir ilallah (pejalan spiritual menuju ke haribaan Ilahi). Beliau adalah seorang yang matang (rasyid) pikiran dan tindakannya. Seorang yang datuknya adalah Rasulullah saw yang otak dan kepalanya mendapatkan berkah karena sering dihujani ciuman oleh sang kakek tentu akan membuat otaknya brilian dan pikirannya cemerlang. Apalagi ia juga dididik oleh seorang ibu dan wanita sekelas Fatimah az Zahra yang notabene, putri semata wayang Nabi saw yang langganan mencium aroma kenabian dan melihat lalu lalang dan mondar mandir malaikat dalam rumahnya. Tidak cukup di situ, Husain juga dibentuk kepribadiannya oleh ayah sekelas Ali, sang singa padang pasir yang menyandang predikat pintu dari kota ilmu Nabi saw. Maka Husain dengan track record (rekam jejak) seperti ini tidak mungkin melakukan perjalanan jauh yang sia-sia, apalagi dikatakan hanya untuk memperebutkan kekuasaan. Kita sepakat bahwa Husain adalah orang yang dekat dengan Allah di zamannya, bahkan salah satu yang terdekat dengan-Nya, dan mustahil Allah menyia-nyiakan kekasih dan walinya dan membiarkan salah jalan, apalagi sampai terbunuh sia-sia dan mengorbankan keluarga dekatnya dan sahabat-sahabat pilihannya. Maka Husain adalah insan rasyid yang mampu memimpin dirinya sendiri sehingga karena itu ia adalah imam dan pemimpin bagi umat di zamannya. Dan Yazid adalah insan ghairu rasyid sehingga karena itu ia dan siapapun yang punya watak keyazidan sepanjang sejarah dan dimana pun ia berada tidak berhak memimpin umat.[*]

*Oleh: Muhammad Husaini

 

Baca: Peran Kepemimpinan dalam Kehidupan Manusia

 

No comments

LEAVE A COMMENT