Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Mengapa Al-Qur’an Lebih Sering Mengajak Manusia Berpikir daripada Percaya?

Di banyak tradisi keagamaan, iman sering dipahami sebagai lawan dari keraguan dan bahkan kadang diposisikan berhadapan dengan akal. Semakin sedikit bertanya, semakin dianggap beriman. Semakin kritis, semakin dicurigai. Namun Al-Qur’an justru memperlihatkan pola yang berbeda.

Ketika kita membaca Al-Qur’an secara menyeluruh, kita akan menemukan sesuatu yang menarik: Allah berulang kali mengajak manusia berpikir, merenung, memperhatikan, memahami, dan menggunakan akalnya. Sebaliknya, hampir tidak ditemukan seruan yang berbunyi, “Percayalah tanpa berpikir.”

Al-Qur’an berkali-kali mengulang ungkapan seperti afalā ta‘qilūn (tidakkah kalian menggunakan akal?), afalā tatafakkarūn (tidakkah kalian berpikir?), afalā yatadabbarūn (tidakkah mereka mentadabburi?), dan li qawmin ya‘qilūn (bagi kaum yang menggunakan akal). Bahkan banyak ayat mencela manusia bukan karena kurang beriman, melainkan karena tidak menggunakan akalnya.

Mengapa demikian?

Karena dalam pandangan Al-Qur’an dan Ahlulbait as, iman sejati tidak lahir dari pemadaman akal, melainkan dari pengaktifan akal.

Akal Adalah Hujjah Allah di Dalam Diri Manusia

Dalam tradisi Syiah, akal memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Imam Ja’far ash-Shadiq as mendefinisikan akal sebagai:

“Sesuatu yang dengannya Allah disembah dan dengannya surga diperoleh.”

Definisi ini sangat penting. Akal bukan sekadar kemampuan berhitung atau kecerdasan teknis. Akal adalah kemampuan manusia mengenali kebenaran, membedakan hak dan batil, serta mengarahkan dirinya menuju Allah.

Karena itu para ulama Syiah menyebut akal sebagai al-hujjah al-bathinah (argumen atau bukti Allah yang berada di dalam diri manusia), sedangkan para nabi adalah al-hujjah azh-zhahirah (argumen Allah yang tampak di luar diri manusia).

Wahyu datang dari luar.

Akal bekerja dari dalam.

Keduanya tidak saling bertentangan.

Keduanya saling menguatkan.

Mengapa Allah Tidak Meminta Manusia Percaya Secara Membabi Buta?

Allamah Thabathaba’i menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan manusia untuk menerima sesuatu tanpa pemahaman. Sebaliknya, Al-Qur’an terus-menerus mengarahkan manusia untuk melihat tanda-tanda Tuhan dalam alam, sejarah, masyarakat, dan dirinya sendiri.

Ini dapat dipahami karena iman yang lahir tanpa pengetahuan sangat rapuh.

Seseorang bisa percaya hari ini dan meninggalkannya esok hari.

Seseorang bisa fanatik terhadap suatu keyakinan hanya karena warisan keluarga.

Seseorang bahkan bisa membela sesuatu yang salah hanya karena terbiasa dengannya.

Karena itu Al-Qur’an tidak ingin manusia menjadi pengikut tradisi tanpa kesadaran.

Berkali-kali Al-Qur’an mengkritik orang-orang yang berkata:

“Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”

Bagi Al-Qur’an, kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, usia tradisi, ataupun status sosial pembawanya. Kebenaran harus dikenali melalui pemahaman.

Tauhid Sendiri Dibangun di Atas Argumentasi

Menariknya, ajaran paling mendasar dalam Islam, yaitu tauhid, tidak pernah dipaksakan melalui dogma kosong.

Al-Qur’an justru menyajikan argumentasi.

Ketika berbicara tentang keesaan Allah, Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan keteraturan alam semesta.

Ketika berbicara tentang kebangkitan, Al-Qur’an mengajak manusia merenungkan penciptaan dirinya.

Ketika berbicara tentang kenabian, Al-Qur’an mengajak manusia menilai isi risalah dan karakter para nabi.

Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak sekadar memberikan jawaban.

Al-Qur’an mengajari manusia cara berpikir untuk menemukan jawaban.

Menurut Allamah Thabathaba’i, metode ini menunjukkan bahwa Islam dibangun di atas kesesuaian antara wahyu dan fitrah rasional manusia. Akal bukan musuh agama, melainkan salah satu jalan menuju agama.

Mengapa Orang Cerdas Bisa Tetap Tersesat?

Di sinilah pentingnya membedakan antara kecerdasan dan akal.

Seseorang bisa sangat pintar tetapi tidak berakal.

Fir’aun memiliki ilmuwan.

Namrud memiliki kekuasaan.

Qarun memiliki kekayaan.

Iblis bahkan memiliki pengetahuan yang sangat luas.

Namun semuanya tersesat.

Mengapa?

Karena dalam pandangan Ahlulbait as, akal bukan sekadar kemampuan mengetahui sesuatu. Akal adalah kemampuan tunduk kepada kebenaran setelah mengetahuinya.

Seseorang yang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya karena kesombongan belum dianggap berakal secara hakiki.

Karena itu Al-Qur’an sering mengaitkan akal dengan hati.

Bukan karena akal berada di jantung secara biologis, tetapi karena pusat keputusan manusia tidak hanya melibatkan logika, melainkan juga kerendahan hati, kejujuran, dan kesiapan menerima kebenaran.

Agama Tidak Takut Pada Pertanyaan

Salah satu ciri penting tradisi intelektual Syiah adalah keberanian menghadapi pertanyaan.

Para Imam Ahlulbait as hidup di tengah berbagai aliran filsafat, teologi, ateisme, materialisme, dan skeptisisme. Namun mereka tidak melarang pertanyaan.

Mereka menjawab.

Mereka berdialog.

Mereka berdebat.

Mereka mengajarkan argumentasi.

Karena kebenaran tidak takut pada penyelidikan.

Yang takut pada pertanyaan biasanya bukan kebenaran, melainkan kepalsuan.

Oleh sebab itu, dalam warisan Ahlulbait, pencarian intelektual bukan ancaman bagi iman. Justru sering menjadi jalan menuju iman yang lebih matang.

Akal Memiliki Batas, Tetapi Bukan Berarti Tidak Penting

Meski demikian, Syiah tidak menganggap akal manusia mampu mengetahui segala sesuatu.

Allamah Thabathaba’i menjelaskan bahwa akal mampu mengenali keberadaan Tuhan, memahami banyak hukum moral, serta menangkap prinsip-prinsip dasar agama. Namun akal tidak mampu menjangkau seluruh detail alam gaib tanpa bantuan wahyu.

Karena itu hubungan antara akal dan wahyu bukan hubungan persaingan.

Akal menunjukkan perlunya wahyu.

Wahyu menyempurnakan apa yang tidak mampu dijangkau akal.

Akal dan wahyu bekerja seperti mata dan cahaya.

Mata tanpa cahaya tidak dapat melihat.

Cahaya tanpa mata juga tidak dapat dimanfaatkan.

Penutup

Mengapa Al-Qur’an lebih sering mengajak manusia berpikir daripada sekadar percaya?

Karena Allah tidak menghendaki manusia menjadi makhluk yang hanya mengikuti.

Allah menghendaki manusia memahami.

Iman yang lahir dari tekanan dapat runtuh ketika tekanan hilang.

Iman yang lahir dari tradisi dapat goyah ketika tradisi berubah.

Tetapi iman yang lahir dari kesadaran, pemikiran, dan pengenalan akan memiliki akar yang jauh lebih dalam.

Dalam pandangan Ahlulbait as, akal adalah karunia terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Melalui akal, manusia mengenali dirinya. Melalui akal, manusia mengenali alam semesta. Dan melalui akal pula manusia mengenali Tuhannya.

Karena itulah Al-Qur’an tidak pernah takut mengajak manusia berpikir. Sebab semakin akal digunakan dengan jujur dan benar, semakin dekat manusia kepada kebenaran yang berasal dari Allah.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT