Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Mengapa Ayah Membuat Putraku, Husain, Bersedih?

Sedih, Husain, Ayah, Putra, KarbalaTak terasa bulan Muharram telah tiba. Saat bulan ini disebut, sebagian orang memiliki dua gambaran yang berbeda; sejumlah kaum muslimin menyambut kedatangan bulan Muharram dengan suka cita dan saling mengucapkan selamat atas bergantinya tahun, bahkan setiap sekolah, berbagai yayasan dan lembaga turun ke jalan untuk melaksanakan pawai.

Namun sejumlah muslimin lainnya yang mengaku sebagai pencinta Nabi Muhammad saw. dan keluarganya justru menyambut bulan Muharram dengan duka nestapa. Mereka melarutkan diri dalam majelis-majelis duka. Mereka berduka karena duka Nabi Muhammad saw. dan keluarga tercintanya atas syahidnya Imam Husain a.s. beserta keluarga dan sahabatnya dalam keadaan terbantai di padang Karbala.

Nah adik-adik bagaimana dengan kita, apakah kita termasuk orang yang berbahagia atau berduka?

Kakak memilih berduka sebagai rasa cinta kepada Nabi Muhammad Al-Mustafa saw. (Baca: Jelang Genosida Karbala)

Supaya adik-adik bisa menghayati duka Nabi saw. dan keluarganya a.s, yuk simak cerita berikut ini:

Dalam sebuah riwayat disebutkan, saat masih kanak-kanak, suatu hari Imam Hasan dan Imam Husain a.s. masuk ke rumah Nabi saw. Beliau saw. menyambut kedatangan kedua cucunya dengan mencium mulut suci Imam Hasan a.s. dan mencium leher Imam Husain a.s.

Merasa dibedakan oleh kakeknya, Imam Husain a.s. menghampiri ibundanya Fatimah Zahra a.s. [alaihas salam], lalu bertanya, “Wahai Ibu, ciumlah mulutku ini, apakah mulut ini beraroma tidak sedap sehingga kakekku, Rasulullah saw. tidak mau menciumnya?”

Sayyidah Fatimah a.s. pun menuruti permintaan putra tercintanya. Beliau a.s. mencium mulut mungilnya. Ternyata aroma yang tercium dari mulut Imam Husain lebih wangi daripada misik. Lantas Sayyidah Fatimah a.s. mengajak Imam Husain menghadap Rasulullah saw. (Baca: Bukan Sembarang Mimpi)

Sayyidah Fatimah a.s. bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa ayah membuat sedih putraku, Al-Husain?”

“Tentang apakah itu, apa yang terjadi?” sahut Rasulullah saw. dengan keheranan.

Sayyidah Fatimah a.s. menjawab, “Mengapa tadi ayah mencium Al-Hasan di mulutnya, sedangkan mencium Al-Husain di lehernya?”

Mendengar pertanyaan sang putrid, Rasulullah saw. menangis. Lalu beliau saw. berkata, “Wahai putriku, Fatimah, mengapa aku mencium Al-Hasan di mulutnya? Itu lantaran mulut tersebut akan diracuni hingga Al-Hasan syahid karenanya. Sedangkan kenapa aku mencium Al-Husain di lehernya? Hal itu karena leher tersebut akan disembelih hingga terpisah dari badannya.”

Mendengar ucapan sang ayah, Sayyidah Fatimah a.s. menangis. (Baca: Tangisan Sayyidah Fathimah as)

Lalu beliau bertanya, “Ayah, kapankah hal itu akan terjadi?”

Rasul menjawab, “Kelak di suatu zaman ketika aku kakeknya, engkau ibunya, Ali ayahnya dan Al-Hasan abangnya telah tiada.”

Jawaban ini membuat tangisan Sayyidah Fatimah a.s. semakin menjadi. Lalu beliau kembali bertanya kepada sang ayah, “Wahai ayah, lantas siapakah yang akan menangisi putraku, Al-Husain dan siapakah yang akan menghidupkan acara duka untuknya?”

Rasulullah  menjawab, “Putriku Fatimah, kelak di kemudian hari, para wanita umatku akan menangisi penderitaan wanita Ahlul Baitku dan para lelaki dari umatku akan menangisi Al-Husain beserta keluarganya. Mereka akan selalu menghidupkan acara-acara duka untuknya secara turun menurun. Dan di hari kiamat kelak, engkaulah yang akan memberikan syafaat kepada para wanita itu, dan aku sendiri yang akan mensyafaati kaum lelakinya dan setiap orang yang menangis untuk putraku, Al-Husain ini, lalu kita akan menuntun tangan-tangan mereka untuk memasuki surga.

Mudah-mudahan  Allah swt  menjadikan  kita sebagai orang-orang yang dimaksud dalam ucapan Rasulullah saw., yakni orang-orang yang mencintai Imam Husain a.s. dan ikhlas dalam menghidupkan acara duka beliau serta menangisi penderitaan Al-Husain beserta keluarga dan para sahabat setianya. (Baca: Cukupkah Dengan Menangis?)

Salam sejahtera atasmu wahai penghulu para syuhada…

[*]


No comments

LEAVE A COMMENT