Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Mengapa Imam Shadiq as Menolak Tawaran Khilafah? (2-2)

Mengapa Imam Ja’far Shadiq as tak tergugah untuk mengambil haknya?

Imam memahamkan kepada masyarakat dengan cara yang bermacam-macam bahwa sebenarnya banyak sahabat yang sejati  yang mampu berjuang, tapi jumlah merek belum mencukupi. (Baca sebelumnya: Menolak Tawaran Khilafah? -1)

Sahl bin Hasan Khurasani datang kepada Imam dan berkata: Wahai putra Rasulullah engkau adalah Ahlulbait dan seorang pemimpin, namun mengapa engkau tidak perjuangkan hakmu padahal engkau memiliki ratusan ribu tentara bersenjata?

Imam bersabda: Wahai penduduk kota Khurasan, duduklah! Hakmu akan tetap terjaga di sisi Allah. Pada saat itu Imam memerintahkan untuk menyalakan tungku api, kemudian Imam bersabda: Wahai  Khurasani bangunlah dan masuklah ke dalam tungku itu! Khurasani menjawab: Tuanku, wahai putra Rasul jangan kau bakar diriku, ampunilah aku, dan semoga Tuhan juga akan mengampuni dosamu. Beliau bersabda: aku telah mengampuni dirimu, kemudian datanglah Harun Al-Makki dan berkata: Salam atasmu wahai putra Rasulullah. (Infografis Ulama Imamiyah: Syekh Al-Mufid

Imam Ja’far Shodiq as bersabda: Masuklah ke dalam tungku, dia pun masuk ke dalam tungku dan duduk di dalamnya. Imam kemudian menatap penduduk Khuroshan itu dan berbincang-bincang tentang situasi dan kondisi di kota tersebut seakan-akan Imam menyaksikan kondisi mereka dari dekat.

Kemudian beliau berkata: Wahai khurasani, bangun dan lihatlah apa yang ada di dalam tungku! Khuroshani berkata: aku bangun dan aku lihat dia duduk bersimpuh dan keluar dari tungku dan mengucapkan salam kepada kami.

Imam berkata kepada laki-laki tersebut, di Khurosan kira-kira berapa orang yang bisa kamu dapati seperti dia? Dia berkata: Aku bersumpah, satu orangpun tidak ada. Imam bersabda: Pada saat kita tidak memiliki (minimal) 5 orang pembela yang sejati maka kami tidak akan pernah melakukan kebangkitan / pergerakan, kami lebih tahu kapan kami harus melakukan kebangkitan itu.

Imam Ja’far Shadiq bersabda: Andaikan aku memiliki pengikut sebanyak domba-domba ini, maka aku tidak akan diam dan pasrah berpangku tangan adalah sebuah kesalahan. (Baca: Dzikir Pembawa Berkah)

Riwayat yang lain juga disebutkan, bahwa Sudair Shairafi mengatakan: Aku pergi ke Imam Shadiq dan berkata, Sumpah demi tuhan berdiam diri untukmu bukanlah sebuah kepatutan. Imam Shadiq as bersabda: mengapa wahai Sudair? Aku berkata: Karena teman, pengikut dan pembela dirimu sangat banyak. Sumpah demi Allah jika Imam Ali as punya pengikut  dan pembela sepertimu, niscaya khalifah pertama dan kedua tidak akan berambisi untuk merebutnya.

Imam bersabda: Wahai Sudair, menurutmu berapa jumlahnya? Seratus ribu, Imam bersabda: seratus ribu? Aku berkata: dua ratus ribu. Imam bersabda: dua ratus ribu? Aku berkata: Iya bahkan setengah dari dunia

Imam kemudian berdiam diri, kemudian setelah beberapa saat beliau bersabda: Mari kita bergegas ke Yanbu’. Aku berkata, Iya. Kemudian beliau memerintahkan untuk menyiapkan seekor keledai dan onta. Aku ingin menaiki keledai itu, tapi Imam berkata, Bisakah engkau berikan keledai itu kepadaku? Aku menjawab, Onta lebih indah dan lebih kuat bagimu. Imam menjawab bahwa keledai lebih mudah baginya. (Baca: Tips Menghafal Quran dari Al Hafiz Muntazar Al Mansuri)

Beliau naik keledai dan aku naik onta,  sampai akhirnya waktu shalat tiba. Imam bersabda: Turunlah, kita akan shalat. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya, di daerah ini kurang cocok kalau kita buat shalat, ayo  kita jalan kaki sampai kita ke tanah merah. Setelah sampai, beliau memperhatikan seorang pemuda yang menggembala beberapa kambing dan bersabda: Sumpah demi Allah, andaikan aku memiliki pengikut sejumlah kambing yang digembalakan pemuda itu, maka berdiam diri (tidak mengambil hak) adalah ketidakpatutan bagi diriku.  Sudair berkata, Kami turun dan shalat setelah itu aku menghitung jumlah kambing-kambing itu yang ternyata tidak lebih dari bilangan 17 ekor.

Dengan demikian, dari apa yang dibahas alasan-alasan dan dalil keengganan Imam Ja’far Shadiq as menerima tawaran dijadikan pemimpin adalah hal-hal berikut ini:

  1. Tawaran dan ajakan tersebut tidaklah murni untuk menjadikan beliau sebagai seorang khalifah resmi.
  2. Waktu yang memang belum tepat karena faktor tidak cukupnya pendukung dan landasan pemikiran mereka. Sehingga beliau lebih tertarik untuk membenahi urusan ilmiah dan pemikiran para pengikut tersebut daripada menghunus senjata mengambil hak yang sudah dirampas.

[*]

Baca: Cegah Anak-anak Kita Dari Penyimpangan Seksual! (1)

 

Latest comments
  • Ya Allah, ajarkan kami agar selalu baik di matamu

  • terimakasi telah membgaikan page ini

LEAVE A COMMENT