Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)

“Merdeka… Merdeka… Dirgahayu Republik Indonesia ke-72,” terdengar suara anak-anak yang sedang bermain di halaman. Mereka sangat bahagia menyambut hari kemerdekaan  negeri Indonesia tercinta.

Mendengar kata “Merdeka”, hati terasa senang sekali. Aku bergumam kepada diriku sendiri, “Apa benar kita sudah merdeka?”

Memang benar, Jepang dan Belanda sudah tidak menjajah kita lagi, namun kenapa kita masih merasa tidak aman, terjadi pertikaian dimana-mana. Para pelajar, mahasiswa, masyarakat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat kita, dan para pejabat negeri Indonesia sering berkelahi, saling hantam, saling caci, saling fitnah, saling ingin menunjukkan kepandaian mereka sendiri.

Sepertinya masih banyak orang yang menyelesaikan semua persoalan melalui jalan pertikaian.  Masyarakat semakin jauh meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai persatuan.

Terlebih akhir-akhir ini isu agama dan perbedaan madzhab semakin marak. Masyarakat semakin meninggalkan cara-cara bermusyawarah dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Para pemimpin negeri ini banyak yang kurang amanah dalam mengemban tugas. Penyelewengan jabatan terjadi dimana-mana. Korupsi dan manipulasi seakan sudah bukan barang tabu lagi.

Untuk mengenang perjuangan para pahlawan, aku mengajak adikku  pergi ke salah satu kerabat kita yang kebetulan menjadi veteran dan seorang pejuang Indonesia. Kedatangan kami membuatnya sangat bahagia. Kami memanggilnya Kakek Karno.

Ia selalu bersemangat menceritakan tentang bagaimana suka dukanya berperang melawan para penjajah yang menguasai negeri Indonesia. Kami bisa tahan berjam-jam mendengarkan cerita-ceritanya. Cerita sinetron dan film di televisi seakan-akan tidak bisa menandingi serunya cerita perjuangan Kakek Karno. Siapa saja yang mendengarkan ceritanya pasti seakan terhipnotis, larut dalam ceritanya, seolah-olah mereka mengalami sendiri kehadiran di medan pertempuran. Seru sekali…

Setelah mendengar cerita Kakek Karno, semangat di hati membara. Aku ingin melanjutkan perjuangannya, mencabut akar ketidakadilan, penjajahan, dan perampasan hak orang lain.

Para pahlawan pasti sedih melihat kondisi negara kita sekarang ini. Mereka berfikir masyarakat telah menyia-nyiakan setiap tetesan darah dan air mata serta seluruh pengorbanan mereka. Mereka berfikir para penerus bangsa ini telah mengkhianati perjuangan para pahlawan negeri ini. Generasi kini telah berkhianat menyia-nyiakan potensi mereka dan tidak melanjutkan perjuangan mereka. Bangunan kemerdekaan yang telah dirintis para pejuang ibu pertiwi ini kini akan runtuh.

Yuk kita semangat berjuang sungguh-sungguh sesuai tugas kita masing-masing. Perjuangan kita, sebagai pelajar adalah belajar dan menggali ilmu sedalam-dalamnya untuk mengejar cita-cita.

Kakek Karno berkata, “Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, dengan perbedaan suku, agama, ras dan perbedaan-perbedaan yang lain kita tetap satu. Pada zaman dulu, bukan tidak pernah ada konflik antara masyarakat. Konflik itu pasti ada, namun semua konflik itu bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Tidak ada yang saling merasa benar sendiri. Tidak ada yang sok jagoan. Kita saling menghargai satu sama lain. Sebab tujuan kita saat itu sama, yaitu bagaimana bisa mengusir para penjajah ibu pertiwi ini dan melepaskan tanah air tercinta dari cengkeraman penjajah.”

“Pelajar, mahasiswa atau masyarakat sekarang sepertinya  mudah sekali emosi. Perkara kecil bisa menjadi besar dan ujung-ujungnya bisa memicu konflik yang berakhir dengan bentrokan massal, padahal kalau salah satu pihak bisa menahan diri tentu konflik di antara mereka tidak akan terjadi,” lanjut Kakek Karno.

“Untuk membangun bumi Nusantara, membangun Ibu Pertiwi Indonesia, kalian harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Banyak-banyaklah belajar sejarah. Indonesia itu negeri yang besar dan kaya raya. Bagaikan untaian Jamrud di Khatulistiwa. Indonesia itu negeri yang subur makmur. Indonesia itu terdiri dari beribu-ribu suku bangsa dan bahasa, bermacam-macam keyakinan, beraneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain,” nasehat Kakek Karno.

“Tidak boleh seorang pemimpin mengistimewakan satu suku bangsa atau satu agama lalu merendahkan suku bangsa atau agama yang lain. Kita harus bisa membangun negeri ini dengan memanfaatkan potensi perbedaan yang ada. Kalau kalian jadi pemimpin jangan sampai memaksa orang lain mengikuti kehendak kalian agar tidak terjadi konflik di masyarakat. Fanatik terhadap keyakinanmu itu perlu, namun jangan sampai kamu memaksa orang lain berprinsip seperti kalian,” kata Kakek Karno.

“Membangun Indonesia itu perlu kebersamaan, perlu kerja keras semua pihak, tanpa mengenal suku, agama dan rasnya. Setiap manusia yang berstatus warga negara Indonesia memiliki kedudukan yang sama dalam memajukan Bumi Nusantara ini menuju tercapainya tujuan negara Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur,” tutur Kakek Karno.

Kami semakin paham arti hidup bernegara seperti yang dituturkan Kakek Karno. Kami semakin kagum dengan cara pandang Kakek Karno tentang hidup bernegara di Bumi Nusantara ini. Kakek benar-benar seorang pahlawan.

Kami pun akhirnya menyadari betapa bodohnya apabila kami selaku pelajar menyelesaikan persoalan dengan cara melakukan perkelahian massal. Semua itu buang-buang waktu dan kesempatan saja. Betapa bodohnya seseorang yang mengisi kemerdekaan dengan cara melakukan korupsi dan manipulasi uang rakyat.

“Merdeka! Insyaallah kami akan melanjutkan perjuangan Kakek,” kata kami sambil berpamitan pulang.

Dalam sebuah hadis yang disandarkan kepada Nabi saw. disebutkan:

حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الاِيماَنِ

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.”

No comments

LEAVE A COMMENT