Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Nasihat Imam Ja’far Shadiq as. tentang Berzikir

Nasihat, Imam Ja'far Shadiq, ZikirOrang yang benar-benar mengingat Allah adalah orang yang taat kepada-Nya. Barangsiapa yang lengah mengingat-Nya, maka dia telah durhaka. Ketaatan adalah tanda petunjuk, sedangkan maksiat adalah tanda kesesatan. Pangkal keduanya adalah zikir dan lalai. Jadikanlah hatimu sebagai kiblat bagi lisanmu, jangan menggerakannya  kecuali dengan isyarat hati, persetujuan akal dan keridaan iman. Allah Maha Mengetahui semua yang tersembunyi dan terlihat darimu.

Jadilah laksana orang yang sedang dalam keadaan sakratul maut di saat ruh akan berpisah dari raganya, atau laksana orang berdiri dalam barisan pada hari pembalasan. Maka janganlah kamu berpaling dari apa yang telah dibebankan oleh Tuhanmu padamu dari perintah dan larangan-Nya serta janji dan ancaman-Nya. Jangan pula kamu menyibukkan diri dengan selain yang dibebankan oleh Tuhanmu. Sucikanlah hatimu dengan air kesedihan dan ketakutan. (Baca: Menyelami Makna Zikrullah: Makna Zikir)

Jadikanlah zikrullah (mengingat Allah) itu dikarenakan Dia selalu mengingatmu. Dia ingat kepadamu, tetapi Dia tidak membutuhkanmu. Ingat-Nya kepadamu itu lebih mulia, lebih diharapkan, lebih terpuji dan lebih sempurna dari pada ingatmu pada-Nya. Bahkan lebih dahulu darimu. Makrifatmu bahwa Dia selalu mengingatmu akan mewariskan kerendahan hati, rasa malu dan kehancuran. Dari sinilah lahir pandangan akan kemuliaan-Nya dan karunia-Nya yang lalu. Ketaatanmu tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan keagungan-Nya, meskipun kamu telah banyak berbuat kebaikan. Kamu tulus mengharapkan keridaannya.

Perhatianmu akan zikirmu pada-Nya akan mewariskan riya, ujub, kebodohan, bertindak kasar pada makhluk-Nya, merasa telah banyak melakukan ketaatan pada-Nya dan melupakan karunia dan kemuliaan-Nya. Tak ada yang bertambah pada dirimu kecuali menjadikanmu jauh dari Allah. Kamu tidakmendapatkan sesuatupun dari perjalanan waktu ini kecuali ketakutan. (Baca: Zikir Pemberi Syafaat)

Zikir itu ada dua macam, yaitu zikir yang tulus bagi Allah sesuai dengan persetujuan hati dan zikir yang memiliki arti bahwa yang berzikir itu sebenarnya adalah Tuhan. Rasulullah Saw. bersabda, “Aku tidak mampu untuk memuji diri-Mu, karena Engkau sendirilah yang memuji dir-Mu”. Rasulullah saw, tidak pernah menjadikan zikirnya kepada Allah ‘azza wa jalla memiliki nilai sama sekali karena pengetahuannya akan hakikat sebelumnya bahwa dia mengingat Allah itu karena sebenarnya Allah mengingat diri-Nya. Ini lebih utama.

Barangsiapa yang ingin mengingat Allah ‘azza wa jalla, maka hendaknya Dia mengetahui bahwa ketika Allah tidak mengingatkan hamba-Nya dengan memberikan taufik padanya untuk mengingat Nya, niscaya hamba itu tidak mampu mengingat-Nya.[*]

Baca: Dzikir Pembawa Berkah


Latest comments
  • Pada paragraf ketiga,
    ada pengulangan yg perlu dikoreksi sedikit.

    (Dari sinilah lahirlah pandangan akan kemuliaan-Nya dan kehancuran.)
    Dari sinilah lahir pandangan akan kemuliaan-Nya dan karunia-Nya yang lalu.

    • Terima kasih telah diingatkan.

  • Trimaksih

    • Sama-sama

LEAVE A COMMENT