Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Antara Akal dan Hati

Oleh: Dr. Muhsin Labib, MA

Shalat, berziarah, berzikir, berdoa dan lain sebagainya adalah aktivitas ritual. Mengganti pamrih dengan ikhlas, iri dengan syukur, sombong dengan rendah hati adalah aktivitas spiritual.

Melakukan aktivitas ritual itu sulit karena ritual dianggap sah bila pelaku memenuhi serangkaian syaratnya.

Aktivitas ritual lebih mudah ketimbang aktivitas spiritual, bahkan kadang terasa ringan bila menjadi bagian dari ritunitas harian.

Melakukan aktivitas spiritual lebih sulit karena hati laksana makhluk lain dalam diri setiap orang. Meski kadang nalar membenarkan, memperlihatkan efek-efek baiknya juga mengajurkannya, hati niscaya menyukainya.

Baca: Imam Khomeini: Memelihara Ibadah dari Gangguan Setan

Meski ada sebagian orang yang mau melakukan aktivitas spritual namun mengabaikan aktivitas ritual seperti shalat dan semacamnya karena mengira aktivitas ritual semata bertujuan membersihkan hati dan mengikatnya dengan kesadaran.

Yang lebih sulit dan patut diutamakan adalah melakukan kedua aktivitas itu secara bersamaan.

Aktivitas ritual diwajibakan karena substansinya adalah kepatuhan. itulah standar kelulusan di mata Tuhan. Mestinya pelaku aktivitas ritual sudah dan sedang melakukan aktivitas spiritual.

Yang menggelikan, sebagian orang tidak (malas) melakukan aktivitas rutual seraya berapologi alias berkelit bahwa hatinya belum bersih. Padahal memang enggan melakukan aktivitas ritual.

Ritualitas dapat menjadi pemicu spiritualitas. Karenanya, tak perlu menunda melakukan shalat dengan alasan akan mendownload ikhlas, tawakal dan semacamnya lebih dulu.

Spiritualitas dapat pula menjadi pendorong ritualitas. Karenanya, tak perlu mengabaikan zikr dan ibadah lainya dengan alasan sudah melakukan aktivitas spiritual dan membersihkan hati.

No comments

LEAVE A COMMENT