Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Orang Berilmu yang Mendustakan Agama

Alquran mengumpamakan orang yang berilmu tetapi mendustakan agama adalah sebagai seekor anjing. Sehubungan Bal’am (seorang yang berilmu di masa Nabi Musa as) Alquran mengatakan:

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga).” (QS. al-A’raf: 176)

Baca: Kiat Sukses untuk Pembelajar: Sepuluh Etika dalam Proses Menuntut Ilmu (1)

Dalam surah al-Jumuah ayat 5 Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah….”

Sementara, dalam surah al-Ahzab ayat 30 dikatakan: “Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Para istri Nabi Saw, lantaran mereka memiliki kedudukan tertentu di tengah masyarakat, apabila berbuat dosa maka dosa yang mereka dapatkan adalah dua kali lipat. Yang dimaksud dengan dosa-mereka adalah bahwa dosa yang mereka lakukan menimbulkan dampak yang luas di tengah masyarakat. Oleh karena itu, siksaan untuk mereka menjadi dilipatgandakan.

Baca: Imam Baqir dan Universitas Para Ilmuwan

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Orang yang bodoh diampuni dosa-dosanya sebanyak 70 kali sebelum orang yang berilmu diampuni sekali (atas) dosanya.”

Imam Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Tergelincirnya orang alim bagaikan pecah dan tenggelamnya bahtera, yang menenggelamkan orang lain yang berada di dalamnya.”

Baca: Memperdalam Ilmu Agama, Manajemen Kehidupan Dunia, dan Bersikap Sabar

Atas dasar ini, dosa para pejabat, ilmuwan, penulis, tokoh, dan pemimpin akan mendatangkan siksa yang lebih pedih.

*Dikutip dari buku karya Ayatullah Mohsen Qiroati – Mencegah Diri dari Berbuat Dosa


No comments

LEAVE A COMMENT